Hangat di Kuah, Juicy di Bara: Tongseng dan Sate Klathak Bantul

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Faiza Nurul Mardhia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Asap tipis yang mengepul dari tungku arang sering kali menjadi penanda sederhana di sudut-sudut Bantul. Aromanya khas perpaduan daging kambing, santan, dan rempah yang perlahan dimasak. Bagi banyak orang, itulah aroma tongseng yang menggugah selera.
Rahasia kelezatan tongseng Bantul salah satunya terletak pada cara memasak yang masih setia pada tradisi. Banyak penjual memilih arang sebagai sumber api. Panasnya tidak meledak-ledak, tetapi stabil. Dari situlah rasa kuah berkembang perlahan, menyerap bumbu dengan lebih merata. Aroma asap arang pun memberi sentuhan khas yang sulit digantikan kompor modern.
Di balik seporsi tongseng, ada cerita para penjual yang bertahan puluhan tahun. Sebagian mewarisi resep dari orang tua, sebagian belajar dari pengalaman jatuh bangun. Bagi mereka, memasak tongseng bukan sekadar mencari nafkah, melainkan menjaga rasa yang sudah dipercaya pelanggan sejak lama.
Tak jauh dari wajan tongseng, sate klathak dibakar di atas bara yang sama. Berbeda dari sate pada umumnya, sate klathak hanya dibumbui sederhana, biasanya garam. Daging kambing ditusuk menggunakan jeruji besi, memungkinkan panas merata hingga ke dalam. Hasilnya, daging matang sempurna, empuk, dan tetap juicy, dengan rasa asli kambing yang menonjol.
Di tengah maraknya kuliner kekinian, tongseng Bantul tetap bertahan dengan caranya sendiri. Dari arang yang menyala hingga rempah yang diracik dengan sabar, tongseng bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang tradisi yang terus hidup hangat, sederhana, dan penuh cerita.
