Ukraina dan Timur Tengah, Kontras Sikap Negara Barat

Merupakan Dosen Politik Islam IAIN Batusangkar - Founder Ranah Institute - Tim Centre for Global Studies (CGS) Rumah Produktif Indonesia (RPI)
Konten dari Pengguna
25 Maret 2022 16:06
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mhd Alfahjri Sukri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tim penyelamat bekerja di lokasi gudang penyimpanan produk yang terbakar setelah penembakan, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Kharkiv, Ukraina, Rabu (16/3/2022). Foto: Vitalii Hnidyi/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Tim penyelamat bekerja di lokasi gudang penyimpanan produk yang terbakar setelah penembakan, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Kharkiv, Ukraina, Rabu (16/3/2022). Foto: Vitalii Hnidyi/REUTERS
ADVERTISEMENT
Marwan Burqo, gadis tuli berusia 11 tahun mungkin tak menyangka sebuah granat kejut akan menghantam wajahnya. Kenikmatannya merayakan Isra’ Mi’raj di Mesjid Al-Aqsa bersama keluarga, berubah dalam sekejap menjadi suasana mencekam. Pada Senin (28/2) tersebut, polisi Israel menyerang secara membabi buta jamaah. Granat dan gas air mata ditembakkan ke kerumunan jamaah, juga terdapat masyarakat yang ditangkap.
ADVERTISEMENT
Peristiwa tersebut memperlihatkan ketidakadilan yang panjang yang dirasakan masyarakat Palestina. Jeritan minta tolong mereka tak akan didengar dunia, khususnya Amerika bersama negara Barat lainnya. Negara-negara Barat sedang disibukkan oleh konflik antara Ukraina dengan Rusia. Mereka sibuk mendukung Ukraina dan mengecam serta mengutuk Rusia.
Namun, sikap Amerika Serikat bersama negara-negara Barat lainnya berbeda dalam melihat ketidakadilan di Palestina dan negara-negara Timur Tengah. Apakah ini yang disebut standar ganda negara-negara Barat?
pixabay.com/hosny_salah
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com/hosny_salah
Noam Chomsky, seorang filsuf dan profesor di Universitas Arizona, dalam bukunya berjudul “Who Rules the World?” menyebutkan, Amerika beserta negara Barat pendukungnya memiliki pengertian sendiri soal dunia. Dunia dalam artian mereka adalah negara-negara yang mendukung setiap tindakan Amerika beserta sekutunya dalam panggung internasional. Negara-negara yang tidak setuju dengan kebijakan politik luar negeri mereka, maka dianggap bukan bagian dari masyarakat dunia dalam artian mereka.
ADVERTISEMENT
Pandangan soal dunia ini sangat terlihat dalam konflik Ukraina-Rusia. Masyarakat dunia lainnya sedang diperlihatkan standar ganda yang dimainkan Amerika bersama negara Barat pendukungnya. Mereka mengutuk Rusia, di sisi lain diam dengan ketidakadilan yang mereka perbuat di Timur Tengah. Maka wajar kemudian tuduhan standar ganda muncul di media sosial, khususnya di Indonesia.
Dalam waktu hampir satu bulan sejak perang Ukraina-Rusia terjadi, kita sering melihat komentar yang berisikan “uraa” maupun “savepalestine” di media sosial. Bahkan, juga muncul komentar yang mendukung Rusia. Komentar tersebut bentuk kekecewaan terhadap Amerika dan negara Barat yang mendukung Ukraina, namun diam melihat kondisi Palestina dan negara lainnya di Timur Tengah.
pixabay.com/geralt
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com/geralt
Kekecewaan masyarakat yang melihat standar ganda tersebut tentunya beralasan. Kekacauan yang terjadi di Timur Tengah, salah satunya disebabkan oleh campur tangan negara Barat. Dengan alasan memerangi terorisme, Amerika Serikat bersama negara negara Barat lainnya yang tergabung dalam NATO menyerang Afghanistan pada 7 Oktober 2001. Dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal, mereka menyerang Irak pada 2003. Dan demi keamanan dan alasan kedamaian, mereka terlibat dalam berbagai konflik di negara-negara Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
Data dari statista menunjukkan, lebih dari 800.000 orang meninggal dalam perang yang melibatkan Amerika di Timur Tengah sejak kejadian 9 September 2001 hingga tahun 2019. Angka tewas ini termasuk warga sipil, tentara, wartawan, pasukan AS dan sekutu, pekerja kemanusiaan, pejuang oposisi, pasukan keamanan dan pekerja kemanusiaan di zona perang wilayah Afghanistan, Irak, Suriah, Pakistan dan Yaman.
Diperkirakan 335.745 korbannya adalah warga sipil tak berdosa. Ini belum termasuk serangan NATO ke Libya dan campur tangan di negara lainnya. Negara Barat tersebut diam atas kekacauan yang mereka buat di Timur Tengah. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun tak bisa berbuat banyak, karena juga berada dalam kontrol negara tersebut. Lalu, bagaimana dengan Palestina?
Konflik Israel dengan Palestina merupakan contoh nyata standar ganda negara Barat. Kejadian Isra’ Mi’raj di Mesjid Al-Aqsa awal bulan lalu hanyalah bagian kecil dari tindakan semena-mena Israel terhadap masyarakat Palestina. Sejak pencaplokan tanah Palestina pada 1948 lalu hingga saat ini sudah terjadi berbagai perusakan fasilitas umum, pembunuhan dan penggusuran atas masyarakat Palestina.
ADVERTISEMENT
Data dari Biro Pusat Statistik Palestina (PCBC) mencatat sudah 85 persen tanah Palestina dikuasai oleh Israel. Data dari Kantor Koordinasi Kemanusiaan PBB (OCHA UN) menyebutkan, dari tahun 2008 hingga 2021 sudah 5.739 masyarakat Palestina yang meninggal akibat konflik Israel-Palestina. Dengan 21,8% korbannya adalah anak-anak Palestina. Konflik Israel-Palestina tersebut, 95% korbannya dari Palestina.
Masyarakat dunia sebenarnya mengecam tindakan Israel tersebut. Dalam negara anggota PBB, terdapat puluhan negara yang tidak mau mengakui Israel sebagai negara dan dianggap sebagai negara penjajah. Kecaman juga datang dari suporter sepakbola Glasgow Celtic serta bintang sepakbola seperti Paul Pogba, Mesur Ozil, Riyad Mahrez, Achraf Hakimi dan lainnya. FIFA dan UEFA mengecam tindakan tersebut dengan kebijakan ‘kick politic out of football’ nya. Bahkan, terdapat tiga klub yang dikenakan denda oleh UEFA yaitu Glasgow Celtic, Dundalk, dan St Johnstone karena fans mereka mendukung Palestina.
ADVERTISEMENT
Namun, tindakan berbeda dilakukan oleh FIFA dan UEFA yang terang-terangan memasukkan politik dalam sepakbola dengan menyatakan dukungan terhadap Ukraina dengan menghukum sepakbola Rusia. Standar ganda yang memasuki olahraga.
Standar ganda tersebut jugalah yang diperlihatkan negara Barat lainnya. Tindakan keji Israel dan Palestina tidak pernah mendapatkan sanksi tegas dan keras dari negara Barat seperti yang dirasakan Rusia saat ini. Amerika Serikat selalu melindungi apa yang dilakukan oleh Israel. Tercatat sudah 44 kali Amerika Serikat menggunakan hak vetonya hingga tahun 2018, serta menjadi negara pertama yang mengakui keberadaan Israel.
Michael Koplow, analis Timur Tengah menyebutkan, sebab Amerika Serikat selalu bela Israel, disebabkan kedua negara melakukan pertukaran data intelejen, serta memiliki ideologi yang sama. Selain itu, dalam penelitian Iqbal Ramadhan yang berjudul “Lobi Israel dalam Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat ke Timur Tengah”, disampaikan terdapat peran kuat kelompok lobi Israel yang dominan dalam penentuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
pixabay.com/janeb13
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com/janeb13
Sikap berbeda Amerika dan negara Barat lainnya sangat terlihat dalam konflik Ukraina-Rusia. Mereka sangat mengutuk Rusia serta memberikan bantuan ke Ukraina. AS, Denmark, Jerman, dan negara NATO lainnya mengirimkan bantuan senjata ke Ukraina. Tak hanya itu, sanksi ekonomi juga diberikan kepada Rusia.
ADVERTISEMENT
Sanksi yang diberikan AS seperti, sanksi terdapat dua bank penting Kremlin, hukuman ekspor impor, larangan penerbangan Rusia ke AS dan lainnya. Inggris Raya, Kanada, Jerman, Australia, Jepang dan Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi pada Rusia.
Tindakan yang dilakukan oleh AS bersama negara Barat lainnya menujukkan kepada kita ketidakadilan dunia. Maka wajar, politisi Irlandia mengecam standar ganda ini. Memang perang perlu kita kecam. Tak ada perang yang membawa kebahagiaan. Pihak yang kalah maupun menang sama-sama mengalami kerugian. Kerugian paling besar adalah masyarakat sipil yang tak berdosa dan tak tau apa-apa. Namun, perang Ukraina-Rusia ini juga membuka mata kita akan kenyataan standar ganda yang dilakukan negara-negara Barat.
Maka benarlah yang dikatakan Chomcky, AS bersama pendukungnya memiliki pengertian tentang dunia dan keadilan menurut takaran mereka. Negara-negara yang menyatakan diri mereka paling demokratis, akan tetapi pada kenyataannya tidak bersikap demokratis terhadap negara-negara di Timur Tengah. Negara-negara yang sampai saat ini masih merasakan perang tak berkesudahan, kehilangan keluarga dan menderita kelaparan. Kita hanya bisa berharap dan berdoa agar kedamaian dan keadilan tercipta di dunia ini. []
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020