Liburan dan Game Online: Ancaman Kesehatan Mental Anak

Fajrul Khairati
Dosen Universitas Adzkia Padang, Konselor Keluarga dan Founder Komunitas Rumah Cahaya
Konten dari Pengguna
21 Juni 2024 17:08 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Fajrul Khairati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Liburan sekolah seharusnya menjadi momen berharga bagi anak-anak untuk menikmati kebebasan dari rutinitas akademis dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga serta teman-teman. Namun, fenomena kecanduan game online di kalangan anak-anak semakin mengkhawatirkan. Menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada tahun 2023, sekitar 35% anak-anak di Indonesia menghabiskan lebih dari lima jam sehari untuk bermain game online selama liburan sekolah, menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT

Fenomena Kecanduan Game Online di Kalangan Anak-Anak

Penggunaan internet oleh anak-anak dan remaja meningkat hingga 70% selama pandemi, yang berlanjut hingga masa liburan. Fenomena ini tidak hanya terbatas di perkotaan tetapi juga merambah ke daerah pedesaan yang kini lebih terkoneksi. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa sekitar 90% anak-anak di Indonesia memiliki akses ke internet, meningkatkan risiko kecanduan game online.
Fenomena kecanduan game Online Pada Anak perlu mendapat perhatian orang tua terutama masa liburan. Foto: Freepik

Dampak Negatif Game Online Terhadap Kesehatan Mental Anak

Kecanduan game online berdampak serius pada kesehatan mental anak-anak. Penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menyebutkan bahwa anak-anak yang kecanduan game online rentan mengalami gangguan tidur, peningkatan tingkat kecemasan, dan depresi. Sebuah studi dalam Jurnal Psikologi Klinis Anak Indonesia menemukan bahwa paparan konten kekerasan dalam game online dapat meningkatkan agresivitas pada anak-anak. Dampak negatif ini tidak bisa diabaikan, karena bisa menghambat perkembangan emosional dan sosial anak-anak dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2022, kecanduan game online atau gaming disorder diakui sebagai kondisi kesehatan mental yang perlu penanganan serius. Data menunjukkan bahwa 6% dari populasi remaja global mengalami gejala gaming disorder.

Tanda-Tanda Kecanduan Game Online

Orang tua perlu mengenali tanda-tanda kecanduan game online pada anak-anak mereka. Beberapa tanda yang umum terlihat adalah perubahan pola tidur, penurunan minat pada aktivitas lain, performa akademis yang menurun, dan perilaku menarik diri dari interaksi sosial. Anak-anak yang kecanduan game online juga cenderung mudah marah dan frustrasi ketika mereka tidak dapat bermain.
Anak-anak yang kecanduan game online sering kali mengalami perubahan pola tidur. Mereka mungkin tidur lebih larut atau bangun di tengah malam untuk bermain game. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tidur kurang dari delapan jam semalam cenderung mengalami masalah konsentrasi dan suasana hati yang buruk. Data dari National Sleep Foundation menyebutkan bahwa 45% anak-anak yang bermain game online hingga larut malam menunjukkan tanda-tanda kurang tidur kronis.
ADVERTISEMENT
Anak-anak yang kecanduan game online biasanya menunjukkan penurunan minat pada aktivitas lain yang sebelumnya mereka nikmati. Mereka lebih memilih bermain game daripada berpartisipasi dalam kegiatan fisik, sosial, atau akademis. Penelitian dari University of Michigan menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari bermain game cenderung kurang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Kecanduan game online dapat menyebabkan penurunan performa akademis. Anak-anak mungkin menjadi kurang fokus pada tugas sekolah dan pekerjaan rumah karena lebih tertarik pada game. Sebuah studi dari American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa anak-anak yang kecanduan game online cenderung memiliki nilai akademis yang lebih rendah dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang tidak kecanduan.
ADVERTISEMENT
Anak-anak yang kecanduan game online sering kali menarik diri dari interaksi sosial. Mereka lebih memilih berinteraksi dengan teman-teman mereka di dunia maya daripada berinteraksi secara langsung. Ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan kesulitan dalam membangun keterampilan sosial yang penting. Sebuah survei oleh Pew Research Center menemukan bahwa 36% remaja yang kecanduan game online melaporkan merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan teman-teman mereka secara online daripada secara langsung.
Anak-anak yang kecanduan game online juga cenderung menunjukkan reaksi emosional yang kuat, seperti mudah marah dan frustrasi ketika tidak bisa bermain. Mereka mungkin menjadi agresif atau menunjukkan perilaku buruk lainnya. Penelitian dari Journal of Adolescent Health menunjukkan bahwa anak-anak yang kecanduan game online memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan masalah emosional dan perilaku.
ADVERTISEMENT

Strategi Mengatasi Kecanduan Game Online

Mengatasi kecanduan game online membutuhkan pendekatan yang bijak dan strategis. Orang tua dapat mengambil beberapa langkah efektif berikut:
Penting bagi orang tua untuk menetapkan batasan waktu layar yang ketat bagi anak-anak. Asosiasi Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan agar anak-anak tidak menghabiskan lebih dari dua jam sehari untuk aktivitas di depan layar, termasuk bermain game online. Menggunakan fitur parental control pada perangkat elektronik dapat membantu mengatur dan membatasi waktu bermain.
Liburan sekolah adalah waktu yang ideal untuk mendorong anak-anak melakukan aktivitas fisik. Ajak mereka berolahraga, bermain di luar, atau mengikuti kegiatan komunitas. Aktivitas fisik tidak hanya membantu mengurangi waktu di depan layar tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental mereka. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anak-anak sebaiknya melakukan setidaknya satu jam aktivitas fisik setiap hari untuk menjaga kesehatan.
ADVERTISEMENT
Tawarkan berbagai alternatif hiburan yang menarik bagi anak-anak, seperti membaca buku, mengikuti kursus keterampilan, atau belajar musik. Kegiatan-kegiatan ini dapat mengalihkan perhatian anak dari game online dan memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat baru.
Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat penting dalam mengatasi kecanduan game online. Ciptakan lingkungan yang mendukung di mana anak merasa nyaman berbicara tentang pengalaman dan perasaan mereka. Dengarkan kekhawatiran mereka dan berikan dukungan serta bimbingan yang diperlukan.
Rencanakan aktivitas keluarga yang menyenangkan dan melibatkan seluruh anggota keluarga. Liburan sekolah bisa menjadi waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan bersama, berkemah, atau berkumpul di rumah untuk bermain permainan tradisional. Aktivitas bersama keluarga dapat memperkuat ikatan emosional dan memberikan anak alternatif positif dari bermain game online.
ADVERTISEMENT
Selain mengatur waktu layar dan mendorong aktivitas fisik, penting juga untuk mengedukasi anak tentang penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab. Diskusikan dampak negatif dari kecanduan game online dan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata.

Peran Sekolah dan Komunitas dalam Mengatasi Kecanduan Game Online

Sekolah memiliki peran penting dalam memberikan edukasi tentang penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab kepada siswa. Menurut data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), lebih dari 1.000 sekolah di Indonesia telah menerapkan program pendidikan digital dengan hasil positif. Program ini membantu siswa memahami risiko kecanduan game online dan pentingnya mengatur waktu layar.
Komunitas lokal juga dapat membantu dengan mengadakan berbagai kegiatan dan acara yang menarik bagi anak-anak selama liburan sekolah. Kegiatan seperti olahraga, seni, atau kegiatan sosial tidak hanya mengalihkan perhatian dari layar tetapi juga membangun keterampilan sosial yang penting bagi perkembangan mereka. Dengan menyediakan berbagai aktivitas yang bermanfaat, komunitas dapat membantu mengurangi ketergantungan anak-anak pada game online.
ADVERTISEMENT

Kesimpulan

Liburan sekolah seharusnya menjadi waktu yang menyenangkan dan bermanfaat bagi anak-anak untuk bersantai dan belajar di luar lingkungan akademis. Namun, fenomena kecanduan game online menghadirkan ancaman serius terhadap kesehatan mental dan sosial mereka. Sebagai orang tua, pendidik, dan anggota komunitas, kita memiliki tanggung jawab untuk membantu anak-anak menggunakan teknologi secara bijak dan seimbang.
Dengan mengatur waktu layar, mendorong aktivitas fisik, menyediakan alternatif hiburan yang bermanfaat, dan menjaga komunikasi yang terbuka, kita dapat membantu anak-anak menikmati liburan mereka dengan cara yang sehat dan mendukung perkembangan mereka secara keseluruhan. Melalui pendekatan kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan komunitas, kita dapat memastikan bahwa generasi masa depan tumbuh menjadi individu yang sehat, seimbang, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan era digital.
ADVERTISEMENT