Generasi Muda di Tengah Lonjakan Harga: Hidup Semakin Berat, Mimpi Semakin Jauh?

Mahasiswa S1 Sistem Informasi Di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Mochammad Fakhri Afkar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenaikan harga yang terjadi belakangan ini bukan cuma angka dalam berita, itu nyata terasa di dompet banyak keluarga, termasuk para remaja dan mahasiswa yang sedang berjuang membangun masa depan. Setiap minggu, harga kebutuhan pokok berubah. Ongkos transportasi naik diam-diam. Biaya makan bertambah tanpa kita sadari. Bagi sebagian orang, ini hanya “tantangan ekonomi”. Tapi bagi sebagian lainnya, ini adalah perbedaan antara bisa makan tiga kali sehari atau harus mengurangi porsi demi menghemat.
Sebagai generasi muda, tekanan ini terasa semakin kuat. Untuk bisa belajar dengan tenang saja kita perlu memikirkan banyak hal: biaya kontrakan, kuota internet, fotokopi modul, sampai uang transport. Semua itu ikut naik, sedangkan kondisi ekonomi keluarga banyak yang tidak berubah, bahkan sebagian makin sulit. Kita diberi tanggung jawab untuk “mengejar masa depan”, tapi beban hidup sehari-hari kadang justru menarik kita mundur.
Banyak dari kita yang akhirnya memilih bekerja sambil sekolah atau kuliah. Bukan karena ingin kaya sejak dini, tapi karena keadaan memaksa. Ada yang menjadi barista, admin olshop, kurir makanan, bahkan membuka jasa kecil-kecilan demi bisa bertahan. Kita bekerja bukan untuk gaya hidup, melainkan untuk bertahan hidup. Sering kali, waktu belajar terpotong, tenaga terkuras, tapi tetap saja pengeluaran tidak seimbang dengan pemasukan.
Lonjakan harga ini juga mempengaruhi kesehatan mental banyak anak muda. Rasa cemas, takut menjadi beban keluarga, hingga khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan sering muncul. Ada yang menyimpan semua itu sendiri karena tidak ingin menambah beban orang tua. Padahal, semua kelelahan itu nyata dan valid.
Namun di balik semua tantangan ini, generasi muda Indonesia tetap menunjukkan satu hal: kita tidak mudah menyerah.
Kita belajar dari situasi sulit, beradaptasi, dan mencari cara untuk tetap maju. Kita mungkin hidup di masa yang berat, tapi kita juga tumbuh menjadi generasi yang paling tangguh, paling kreatif, dan paling cepat beradaptasi.
Lonjakan harga seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak bahwa akses terhadap kehidupan layak, termasuk pendidikan dan kesejahteraan dasar, harus diprioritaskan. Negara perlu hadir, tidak hanya lewat kebijakan ekonomi, tapi juga lewat perlindungan terhadap pelajar dan mahasiswa yang terdampak langsung.
Karena generasi muda bukan sekadar “penerus bangsa”.
Generasi muda adalah aset masa depan yang sedang berjuang keras di masa kini.
Semoga suara sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa mimpi kami tidak hilang, hanya terhalang oleh kenyataan yang berat. Tapi dengan dukungan yang tepat, mimpi itu masih bisa dikejar, satu langkah kecil setiap hari.
