Konten dari Pengguna

Kurikulum Merdeka vs Global, Sejauh Mana Transformasi Pendidikan Indonesia?

Fakhri Bima Priyanto

Fakhri Bima Priyanto

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, prodi Pendidikan Sosiologi, angkatan 2024

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fakhri Bima Priyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber: Gambar dibuat oleh Gemini AI, "Guru yang sedang mengajar.")
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: Gambar dibuat oleh Gemini AI, "Guru yang sedang mengajar.")

Gelombang perubahan pendidikan di Indonesia berlangsung dengan penerapan Kurikulum Merdeka. Pokok dari kurikulum ini adalah peralihan paradigma dari model yang berpusat pada guru menjadi model yang berpusat pada siswa. Ide ini sudah ada sejak lama di kancah internasional. Kemudian, bagaimana posisi Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah lama menerapkan pendekatan serupa? Artikel ini menyajikan analisis komprehensif tentang perbandingan dengan Finlandia dan Singapura, dua negara yang dikenal secara global karena praktik pembelajaran yang berfokus pada siswa.

1. Pemikiran dan Dasar Teoritis

· Indonesia (Kurikulum Merdeka): Kurikulum Merdeka muncul sebagai tanggapan terhadap krisis pembelajaran yang semakin buruk akibat pandemi. Filosofinya adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggali minat dan bakat mereka melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Penekanan diberikan pada pengembangan karakter serta kemampuan yang sesuai dengan konteks setempat.

Finlandia: Prinsip pendidikan di Finlandia didasarkan pada tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap guru dan institusi pendidikan. Kurikulum nasional hanya menyediakan panduan umum, sedangkan sekolah dan guru memiliki kebebasan yang besar untuk menyusun proses pembelajaran. Tujuannya adalah untuk mempromosikan rasa senang dalam belajar dan kesetaraan kesempatan.

Singapura: Singapura telah beralih dari sistem yang sangat bersaing menuju pendidikan yang berfokus pada siswa dan dipandu oleh nilai-nilai. Kurikulum ini disusun untuk mengurangi fokus pada tekanan akademis saja dan lebih menekankan keterampilan abad ke-21 seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan komunikasi.

2. Rancangan Kurikulum dan Teknik Pengajaran (Informasi Faktual dan Contoh Aktual)

Indonesia:

Struktur: Mata pelajaran utama tetap ada, namun diberikan alokasi waktu khusus untuk P5 yang bersifat kolaboratif dan tematik (contohnya, tema gaya hidup berkelanjutan, kewirausahaan).

Contoh Spesifik: Siswa Sekolah Dasar di Sleman melaksanakan proyek untuk mengidentifikasi permasalahan sampah di area sekolah. Mereka tidak hanya mempelajari teori di dalam kelas, tetapi juga merancang kampanye, membuat kompos, serta mempresentasikan solusi mereka kepada kepala desa. Di sini, terdapat pengintegrasian antara ilmu IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia.

Data: Sesuai dengan informasi dari Kemendikbudristek hingga Juni 2023, lebih dari 300. 000 institusi pendidikan telah mendaftar untuk menerapkan Kurikulum Merdeka.

· Finlandia:

· Struktur: Dikenal sebagai "Phenomenon Based Learning (PBL), di mana siswa dalam beberapa bulan dalam setahun mempelajari suatu fenomena (misalnya, "Migrasi," "UE") dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu secara bersamaan.

Contoh Nyata: Topik "Uni Eropa" dipelajari tidak sebagai pelajaran sejarah atau geografi yang terpisah. Siswa menyelidiki latar belakang pembentukan Uni Eropa (Sejarah), menganalisis mata uang Euro serta pengaruhnya terhadap perekonomian (Ekonomi), dan membandingkan berbagai bahasa yang digunakan di negara-negara anggotanya (Bahasa). Pengajar berfungsi sebagai pendukung dalam proses belajar.

Data: Berdasarkan informasi dari OECD, siswa di Finlandia hanya menghabiskan sekitar 3-4 jam per hari di sekolah dengan durasi waktu istirahat yang cukup lama. Penekanan terletak pada kedalaman, bukan pada luasnya materi. Finlandia secara konsisten menduduki posisi 10 teratas dalam peringkat PISA, terutama dalam kemampuan literasi membaca.

• Singapura:

· Struktur: Pemerintah Singapura secara resmi mengurangi tanggung jawab kurikulum dan ujian. Di tingkat menengah, diterapkan sistem Pembandingan Berbasis Mata Pelajaran, di mana siswa diperbolehkan memilih tingkat kesulitan yang berbeda untuk berbagai mata pelajaran, sesuai dengan kemampuan mereka.

Contoh Konkret: Seseorang pelajar yang memiliki kemampuan baik dalam Matematika tetapi kurang mahir dalam Bahasa Ibu dapat memilih Matematika pada tingkat lanjut (Higher) sementara mengikuti Bahasa Ibu di tingkat standar (Standard). Hal ini mencegah penilaian siswa sebagai cerdas atau tidak cerdas secara umum.

· Informasi: Pada PISA 2018, Singapura menduduki posisi teratas dalam peringkat Matematika, Sains, dan Membaca. Investasi yang mereka lakukan untuk pelatihan guru sangat besar, dengan 100% guru yang telah mendapatkan sertifikasi dan terus menerus terlibat dalam pengembangan profesional.

3. Tugas Guru dan Proses Penilaian

· Indonesia: Kesiapan guru merupakan tantangan terbesar. Banyak guru yang biasa menggunakan metode ceramah mengalami kesulitan dalam berfungsi sebagai fasilitator. Asesmen beralih dari penilaian sumatif (ujian akhir) ke asesmen formatif (proyek, portofolio, observasi) guna memetakan kemajuan siswa.

Finlandia: Pekerjaan guru memperoleh pengakuan yang tinggi dan mensyaratkan pendidikan minimal gelar Magister. Mereka memiliki kebebasan penuh untuk menilai siswa tanpa adanya ujian nasional yang membebani hingga usia 16 tahun. Keyakinan ini memberi kesempatan kepada guru untuk lebih memperhatikan kebutuhan masing-masing siswa.

Singapura: Meskipun mengurangi jumlah ujian, sistem pendidikan di Singapura tetap sangat teratur. Ujian nasional seperti PSLE (Ujian Kelulusan Sekolah Dasar) tetap menjadi faktor penting dalam menentukan penempatan di sekolah menengah. Namun, beratnya mulai dikurangi dengan mengintegrasikan penilaian berdasarkan proyek dan aktivitas ko-kurikuler.

Tantangan yang dihadapi Indonesia dalam pelaksanaan:

1. Perbedaan Kualitas Pengajar: Kualitas pengajar di daerah perkotaan dan wilayah terpencil masih sangat tidak seimbang. Pelatihan yang luas dan merata merupakan kunci utama.

2. Budaya Belajar yang Terbatas: Budaya di mana guru berperan sebagai "sumber pengetahuan utama" masih sangat dominan. Mengubah cara berpikir siswa agar mereka berani bertanya dan memberikan pendapat memerlukan waktu.

3. Infrastruktur yang Diperlukan: Pelaksanaan proyek memerlukan sumber daya seperti perpustakaan, akses internet, dan bahan praktik yang tersebar tidak merata di seluruh Indonesia.

Kesimpulan:

Kurikulum Merdeka merupakan upaya yang maju dan sejalan dengan tren pendidikan global. Akan tetapi, perbandingan dengan Finlandia dan Singapura menunjukkan bahwa keberhasilan tidak semata-mata tergantung pada dokumen kurikulum, melainkan pada pilar-pilar yang mendukungnya.

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam kesiapan guru dan infrastruktur, sementara Finlandia telah menetapkan dasar yang kuat dengan menghormati profesi guru dan memberikan kebebasan dalam tugas mereka. Singapura, di sisi lain, berhasil mencapai keseimbangan antara menjaga standar akademik yang tinggi dan memberikan fleksibilitas kepada siswa.

Transformasi Kurikulum Merdeka bukanlah lari cepat, melainkan sebuah perlombaan jarak jauh. Kesuksesannya akan bergantung pada konsistensi dalam pelaksanaan, alokasi anggaran untuk pelatihan pendidik, serta perbaikan infrastruktur di seluruh negeri. Apabila konsisten, Indonesia memiliki peluang tidak hanya untuk mengejar, tetapi juga untuk menghasilkan model pendidikan yang berfokus pada siswa yang unik dan sesuai dengan konteks.