Ketika Media Sosial Membuat Kita Sibuk Terlihat Bahagia

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Hukum Keluarga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari, kita melihat orang-orang tersenyum di media sosial. Ada yang sedang berlibur, merayakan pencapaian, berkumpul bersama teman, menikmati makanan enak, atau sekadar mengunggah foto dengan senyum terbaiknya.
Dari layar kecil itu, semuanya terlihat bahagia.
Namun, pernahkah kita bertanya, apakah seseorang benar-benar sedang bahagia, atau hanya sedang berusaha terlihat bahagia?
Media sosial telah mengubah cara manusia menampilkan dirinya. Dulu, kebahagiaan mungkin cukup dirasakan. Sekarang, kebahagiaan sering kali terasa belum lengkap jika belum dibagikan.
Kita makan, difoto. Pergi ke suatu tempat, diunggah. Mendapatkan pencapaian, dibagikan. Bahkan, terkadang kita mulai menikmati sebuah momen bukan karena benar-benar menikmatinya, tetapi karena membayangkan bagaimana momen itu akan terlihat di media sosial.
Bahagia atau Hanya Terlihat Bahagia?
Tidak ada yang salah dengan membagikan kebahagiaan. Masalahnya muncul ketika seseorang mulai merasa harus selalu terlihat bahagia.
Di media sosial, kesedihan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Kegagalan tidak selalu ingin diceritakan. Rasa lelah sering ditutupi dengan senyuman. Akhirnya, banyak orang membangun versi dirinya yang terlihat baik-baik saja, meskipun kehidupan nyata sedang tidak demikian.
Kita mulai terbiasa melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Mereka terlihat sukses, memiliki banyak teman, sering bepergian, dan selalu menikmati hidup.
Tanpa sadar, kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Padahal, media sosial hanyalah kumpulan momen yang dipilih untuk ditampilkan. Tidak ada yang benar-benar mengunggah seluruh kehidupannya.
Seseorang bisa saja mengunggah foto sedang tertawa, lalu beberapa menit kemudian merasa kesepian. Seseorang bisa membagikan pencapaian, tetapi tetap merasa tidak cukup. Seseorang bisa terlihat sangat bahagia, tetapi sebenarnya sedang berjuang menghadapi masalah yang tidak diketahui siapa pun.
Ketika Validasi Menjadi Ukuran Kebahagiaan
Salah satu hal yang membuat media sosial begitu kuat adalah adanya validasi.
Satu unggahan mendapat banyak tanda suka, komentar, dan perhatian. Kemudian, tanpa sadar, kita mulai menghubungkan jumlah respons tersebut dengan nilai diri sendiri.
Ketika unggahan ramai, kita merasa dihargai. Ketika sepi, kita mulai bertanya-tanya apakah diri kita tidak cukup menarik.
Di titik tertentu, seseorang tidak lagi hanya membagikan kehidupan. Ia mulai menjalani kehidupan untuk mendapatkan reaksi dari orang lain.
Kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi pertunjukan.
Bukan lagi tentang apa yang kita rasakan, melainkan bagaimana orang lain melihat kita.
Kita Tidak Harus Selalu Terlihat Baik-Baik Saja
Kehidupan tidak selalu indah. Ada hari ketika kita bersemangat, tetapi ada juga hari ketika kita hanya ingin beristirahat tanpa menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Tidak semua hal harus difoto. Tidak semua kebahagiaan harus diunggah. Tidak semua kesedihan harus dijelaskan.
Ada momen yang justru menjadi lebih bermakna ketika hanya kita yang mengetahuinya.
Sebab, kebahagiaan yang paling tulus tidak selalu membutuhkan penonton.
Media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berbagi, bukan tempat untuk membuktikan bahwa hidup kita lebih bahagia daripada orang lain.
Kita tidak harus selalu tersenyum agar dianggap baik-baik saja. Kita juga tidak harus memiliki kehidupan yang terlihat sempurna untuk merasa cukup.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu kembali bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar bahagia, atau hanya sibuk memastikan orang lain mengira saya bahagia?”
Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi jawabannya bisa menjadi pengingat penting.
Karena di tengah dunia yang semakin sibuk menampilkan kebahagiaan, menjadi jujur terhadap perasaan sendiri mungkin merupakan bentuk kebahagiaan yang paling nyata.
