Menyeberangi Sungai sambil Belajar Berenang: Perjalanan Solopos di Tengah Perubahan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Falisha Shiva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ayunan pintu kaca membawa saya memasuki sebuah tempat baru. Di lobi, kursi-kursi dan meja komputer memenuhi ruangan. Bisikan percakapan terdengar dari sana-sini, bersahutan dengan bunyi papan ketik, klak-klik-klak-klik pelan di udara. Saya terus melangkah ke bagian dalam gedung. Seseorang berseragam biru melintas di hadapan saya, setengah berlari, kemudian menghilang ke ruangan di atas.
Saya melayangkan pandang ke kanan dan ke kiri. Di sepanjang lorong, karikatur dan panel komik Sarpo Pulut menghiasi dinding. Dering telepon bersahut-sahutan dari ruangan-ruangan, dan jauh di bagian belakang gedung, saya pernah mengintip area percetakan dari sebuah tangga kecil di dinding, dibantu salah seorang karyawan. Tempat tersebut lumayan gelap, tetapi saya masih bisa melihat gulungan-gulungan kertas dalam jumlah yang begitu banyak, juga sebuah forklift di antaranya. Di tengah riuh itu, secercah cahaya matahari menyusup melalui kaca berlaminasi, membuatnya tampak biru di lantai.
Begitulah ingatan saya tentang kantor Solopos sekitar sepuluh tahun lalu, kala ayah membawa saya ke sana. Saya masih kecil saat itu, tapi saya masih ingat jelas.
Kini, secercah cahaya biru itu masih tinggal, tetapi banyak hal telah pergi.
Lobi yang dahulu dipenuhi kursi dan meja komputer kini telah beralih fungsi menjadi convention hall, lengkap dengan layar besar untuk penyelenggaraan acara. Sementara itu, menurut Akhmad Ludiyanto, asisten project manager Solopos yang saya wawancarai, mesin cetak dan gulungan-gulungan kertas di kantor tersebut kini tak sebanyak dahulu.
Perubahan itu menjadi gambaran dari perjalanan Solopos. Perusahaan yang dahulu bertumpu pada bisnis media kini tengah memperluas bidang usahanya.
“Jadi perusahaan Solopos ini sekarang sudah bertransformasi, dari yang dulu core bisnisnya adalah media, sekarang bisnisnya adalah di agency,” ujar Ludi ketika menjelaskan arah bisnis perusahaan saat ini.
Bidang agency yang dijalankan Solopos mencakup penyelenggaraan seminar dan lokakarya, layanan publikasi media di berbagai daerah di Indonesia, serta pekerjaan lainnya. Kegiatan perusahaan kini tidak lagi hanya terbatas pada penerbitan berita.
Perpindahan dari kertas ke layar rupanya tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Menurut Ludi, media daring juga menghadapi tantangannya sendiri. Apalagi dengan adanya media sosial, di mana sebuah peristiwa dapat dengan mudah diunggah dan diakses. Perubahan cara masyarakat dalam mengakses berita ini, sedikit banyak mempengaruhi perusahaan media, terlebih lagi media cetak. Di tengah perubahan kebiasaan membaca, Solopos berupaya mencari sumber pendapatan lain dengan memperluas bidang usahanya.
Peralihan tersebut bukan perkara mudah. Perusahaan masih menjalani proses penyesuaian dalam mengembangkan bidang bisnis barunya. Untuk menggambarkan perjalanan itu, Ludi mengutip perumpamaan dari CEO Solopos Media Group, Arif Budisusilo.
“Mengutip kalimat dari CEO Solopos Media Group, Bapak Arif Budisusilo, Solopos sebenarnya sedang menyeberang sungai sambil belajar berenang,” tuturnya.
Ludi menjelaskan bahwa perusahaan masih berada dalam masa transisi, meskipun mulai menunjukkan kemajuan. “Jadi memang masih dalam masa transisi, yang sekarang sudah mulai bisa berenang.”
Upaya memperluas kegiatan itu juga terlihat dari keberadaan Pisalin, toko yang menjual kain tenun, batik tulis, dan aksesori di lantai dua kantor Solopos. Di sisi lain, pemanfaatan lobi sebagai convention hall menunjukkan bahwa ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas kantor kini juga digunakan untuk kegiatan lain.
Perubahan media tidak hanya terasa di ruang redaksi atau di antara mesin-mesin cetak. Ia juga sampai ke rumah-rumah, mengubah cara orang menerima kabar tentang dunia.
Saya masih ingat masa ketika ayah berlangganan koran. Kadang, saya ikut menerima koran itu dan mencari kolom-kolom yang menarik untuk dibaca. Saya bahkan menjadikan datangnya koran sebagai patokan. Koran datang, berarti sebentar lagi saya berangkat sekolah.
Sekarang, menunggu koran tiba terasa seperti kebiasaan dari masa yang sangat jauh. Informasi tak lagi harus menunggu lembaran kertas sampai di depan pintu. Berita bergerak lebih cepat, berpindah dari satu layar ke layar lain, mengikuti jari yang tak perlu berhenti lama pada satu halaman.
Kemudahan itu tentu membawa banyak hal baik. Kabar dari berbagai penjuru bisa dijangkau dalam hitungan detik. Namun, di antara kecepatan tersebut, ada sesuatu dari kebiasaan lama yang sebenarnya saya rindukan, yaitu momen ketika sebuah berita hadir dalam bentuk yang bisa disentuh dan dibuka lembar demi lembar. Ada jeda antara menunggu dan membaca, antara menerima koran dan mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana.
Saya merindukan suasana yang menyertainya, sebuah kebiasaan kecil di rumah yang dahulu terasa biasa saja, sampai waktu dan perubahan membuatnya terasa jauh. Seperti banyak hal lain yang berubah, koran perlahan kehilangan tempatnya dalam keseharian sebagian orang. Tak ada satu hari tertentu yang menandai berakhirnya kebiasaan itu. Tahu-tahu, cara lama menerima berita telah digantikan oleh sesuatu yang lebih cepat dan mudah dijangkau.
Perubahan-perubahan tersebut memperlihatkan wajah Solopos yang berbeda dari yang saya ingat semasa kecil. Dari lobi yang kini memiliki fungsi baru hingga bidang usaha yang semakin luas, Solopos tengah mencari cara untuk bertahan di tengah perubahan industri media. Meski begitu, perjalanan tersebut masih berlangsung dan perusahaan masih perlu menyesuaikan diri dengan tantangan yang ada.
Sepuluh tahun lalu, Solopos melekat dalam ingatan saya melalui suara mesin cetak, gulungan kertas, dering telepon, dan kesibukan orang-orang di dalamnya. Kini, lobi yang dahulu menjadi bagian dari kenangan itu telah memiliki fungsi baru, sementara perusahaan di dalamnya juga terus mencari pijakan untuk melangkah.
Dunia media terus berubah, dan perusahaan di dalamnya dituntut untuk ikut bergerak. Perjalanan Solopos pun belum selesai. Seperti perumpamaan menyeberangi sungai sambil belajar berenang, perusahaan ini masih berada dalam proses meninggalkan tepian yang lama dan beradaptasi dengan arus yang baru.
