Langkah GIAT 12 UNNES Mantapkan Warga Gogodalem menuju Desa Tangguh Bencana

Seorang mahasiswi semester 6 di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Negeri Semarang, yang selalu meluangkan waktunya menulis fiksi dan nonfiksi, serta ketertarikannya menjadi penerjemah bahasa Inggris untuk menjelajahi setiap ruang dunia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fanny Marizka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabupaten Semarang – Perubahan musim pada tahun 2025 yang tidak bisa diprediksi kerap kali menghantui kekhawatiran warga. Desa Gogodalem, Kec. Bringin, Kab. Semarang pun tak jarang menghadapi kekeringan pada musim kemarau yang membuat pasokan air bersih sulit didapatkan. Tepat pada kegiatan GIAT 12 UNNES atau biasa disebut dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata), menjadi kesempatan berharga untuk mengambil langkah mitigasi bencana. Mengusung tema DESTANA (Desa Tangguh Bencana), kegiatan ini diawali dengan observasi dan bersosialisasi memahami keseharian warga. Sehingga mahasiswa UNNES GIAT 12 di Desa Gogodalem dapat menentukan solusi sederhana, di mana melibatkan warga secara partisipatif dalam pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA).

Program tersebut menjadi ruang belajar bersama mahasiswa yang tidak hanya memberikan materi, tetapi juga simulasi yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna Desa Gogodalem pada hari Rabu (13/8/2025). Demi menguatkan kesiapsiagaan desa, kegiatan ini juga meliputi penerbitan surat SK (Surat Keputusan) untuk pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Tim Relawan Desa. Pelajaran berharga yang diajarkan kepada warga pun dimulai dari Penilaian Ketangguhan Desa (PKD), pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Tim Relawan, Kajian Risiko Bencana, Penyusunan Peta Risiko Partisipatif, Penyusunan Sistem Peringatan Dini, Penyusunan Rencana Evakuasi, Penyusunan Peta Jalur Risiko, Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana, Penyusunan Rencana Kontigensi Desa, hingga pelaksanaan simulasi atau praktek ketika tanda-tanda bencana datang.
Perancangan strategi dalam mempersiapkan hal-hal sebelum terjadinya bencana turut dibantu oleh warga dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Lalu, Tim Relawan Desa menjadi penjaga utama untuk memberikan pertolongan, sedangkan Sistem Peringatan Dini menggunakan kentongan atau seseorang yang telah ditugaskan sebagai pemberi informasi saat terjadi bencana. Titik lokasi daerah rawan ditentukan melalui diskusi dengan memilih halaman yang luas, seperti sekolah atau akses jalur berkumpul yang mudah untuk semua kalangan. Selain itu, kehadiran BPBD Kabupaten Semarang memberikan skenario bencana yang menjadi sarana pelatihan interaktif, berguna memperkuat pemahaman warga sekaligus merasakan pengalaman nyata melakukan evakuasi dalam situasi darurat.
Kolaborasi tersebut menunjukkan pentingnya kekuatan bersama, menciptakan desa yang aman dan menumbuhkan kesadaran terhadap kewaspadaan dalam menghadapi tanda-tanda bencana. Sehingga peresmian kegiatan yang berlangsung ini lengkap dihadiri Kepala Kecamatan Bringin, Kepala Desa Gogodalem, BPBD Kabupaten Semarang, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), Satuan Perlindungan Masyarakat (SATLINMAS), perangkat desa, Karang Taruna, dan PKK. DESTANA (Desa Tangguh Bencana) adalah program BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang menjadi kegiatan utama pengabdian kepada masyarakat, di mana dilaksanakan oleh Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui GIAT 12, bertujuan untuk mengembangkan desa yang sigap dan mandiri dalam menghadapi potensi ancaman bencana.
Selama kegiatan berlangsung dan memperhatikan antusiasme dari keterlibatan warga, KOORMADES (Koordinator Mahasiswa Desa) GIAT 12 UNNES mengatakan, “ilmu dan pengalaman yang dilakukan bersama membuat kami saling percaya dalam membangun lingkungan yang aman. Selain itu, warga Desa Gogodalem telah mengajarkan betapa pentingnya kebersamaan yang menjadi fondasi kuat untuk saling melindungi. Sehingga kami tidak ragu melangkah lebih jauh dalam menghadapi tantangan melalui solidaritas yang harus tertanam lebih kuat,” ungkap Jaka Putra Rahmajati.
Kegiatan yang dipenuhi rasa penasaran dan semangat menerima ilmu demi menjaga satu sama lain, mengubah permasalahan dengan menghidupkan solusi dari kebersamaan dan jiwa gotong royong warga Desa Gogodalem. Bagi mereka, pendampingan dalam langkah-langkah menghadapi bencana ini menambah wawasan baru, berani bertindak lebih mandiri, dan memahami titik kumpul sebagai langkah perlindungan awal. Kesiapsiagaan yang dipelajari bersama-sama pun memperkuat keyakinan dalam menghadapi ancaman bencana, mewujudkan kemandirian nyata dalam menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan sejahtera.
TIM UNNES GIAT 12 DESA GOGODALEM
