Konten dari Pengguna

Tanin dalam Teh "Mencuri" Nutrisi dari Makanan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faradilah Azhari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tanin dalam Teh "Mencuri" Nutrisi dari Makanan.Photo by Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tanin dalam Teh "Mencuri" Nutrisi dari Makanan.Photo by Gemini AI

Es teh manis setelah makan nasi, teh hangat pagi hari sebelum sarapan, atau teh tarik sebagai teman makan kebiasaan minum teh ini sudah begitu melekat dalam keseharian orang Indonesia. Tapi tahukah kamu, ada senyawa di dalam teh yang diam-diam bisa "mencuri" nutrisi penting dari makanan yang baru saja kamu santap?

Kenalan dengan Tanin Si Pencuri Nutrisi

Tanin adalah salah satu komponen utama dalam teh, dikenal juga sebagai polifenol. Zat inilah yang menyebabkan sensasi rasa kering dan sepat di mulut setelah minum teh. Secangkir teh bahkan bisa mengandung hingga 240 mg polifenol.

Masalahnya, tanin tidak hanya berinteraksi dengan lidah. Penelitian membuktikan bahwa minum teh saat makan secara signifikan menghambat penyerapan zat besi, baik dari makanan maupun dari suplemen. Tanin bekerja dengan membentuk kompleks yang tidak bisa diserap oleh usus, sehingga zat besi dari makanan yang sudah masuk ke dalam tubuh pun "terkunci" dan tidak bisa dimanfaatkan. PubMed

Dampaknya tidak berhenti di sana. Interaksi antara tanin dalam teh juga diketahui menghambat penyerapan zat besi (Fe), seng (Zn), dan magnesium (Mg). Jika hal ini terjadi terus-menerus, dikhawatirkan bisa menyebabkan anemia atau kekurangan zat besi.

Seberapa Besar Dampaknya?

Bukan sekadar teori angkanya cukup mengejutkan. Sebuah studi menemukan bahwa mengonsumsi 200 ml teh hitam bersamaan dengan makan dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 21%. Bayangkan hampir seperlima dari zat besi yang kamu makan lewat begitu saja tanpa sempat diserap tubuh.

Ini menjadi perhatian serius bagi kelompok tertentu. Penghambatan penyerapan zat besi oleh tanin dan polifenol dalam teh sangat signifikan terutama pada individu yang sudah menderita anemia defisiensi besi.

Tapi Tunggu Teh Juga Punya Manfaat

Sebelum kamu langsung membuang semua stok teh di rumah, perlu dipahami bahwa teh tetap punya banyak kelebihan bila diminum dengan cara yang benar. Teh hijau, misalnya, bisa membantu melancarkan pencernaan dan dampaknya terhadap penyerapan zat besi dan protein tidak sebesar teh hitam.

Selain itu, tanin juga dikenal memiliki sifat antioksidan yang bermanfaat bagi jantung dan berpotensi membantu melawan sel kanker selama dikonsumsi dalam jumlah dan waktu yang tepat.

Kapan Waktu yang Tepat Minum Teh?

Inilah inti dari semuanya. Bukan soal boleh atau tidak boleh, tapi soal kapan.

Menurut dietisien dari RSAB Harapan Kita, waktu terbaik untuk minum teh adalah sekitar tiga hingga empat jam setelah makan. Ini karena makanan membutuhkan waktu sekitar 3–4 jam untuk diproses dari lambung ke tahap pencernaan selanjutnya.

Jika itu terasa terlalu lama, periode ideal minimal adalah sekitar 30–60 menit hingga 1–2 jam setelah makan berat. Pada jeda waktu tersebut, proses awal pencernaan sudah berjalan dan sebagian besar nutrisi penting sudah sempat diserap oleh tubuh.

Idealnya, teh juga bisa diminum sekitar satu jam sebelum makan, atau di sela-sela waktu makan. Pada saat ini, pencernaan sudah selesai menyerap berbagai gizi dari makan sebelumnya, sehingga kandungan teh yang bermanfaat justru lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.

Siapa yang Harus Paling Waspada?

Beberapa kelompok perlu lebih berhati-hati soal waktu minum teh penderita anemia defisiensi besi, individu dengan masalah lambung atau GERD, serta ibu hamil yang sangat membutuhkan penyerapan nutrisi optimal. Untuk ketiga kelompok ini, minum teh bersamaan atau segera setelah makan sebaiknya benar-benar dihindari.