Belajar Membaca “Aksara Langit”

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Amikom Purwokerto
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Faradian Yusi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Doa yang Dipentaskan dari Alat Dapur
Di tengah zaman yang serba rasional, saat hujan diprediksi lewat layar ponsel dan musim tak lagi sepenuhnya dibaca dari tanda alam, masih ada satu tradisi yang berdiri teguh di sudut Banyumas: Cowongan. Di tangan Bapak Titut Edi Purwanto yang akrab disapa Mbah Titut, tradisi pemanggil hujan ini tidak dibiarkan tenggelam sebagai cerita masa lalu. Ia menghidupkannya kembali sebagai seni pertunjukan yang menyimpan ingatan kolektif tentang cara manusia memaknai alam.
Cowongan berakar dari masa paceklik, saat hujan menjadi sesuatu yang dinanti dengan penuh pergulatan batin. Dalam ritualnya, masyarakat tidak sekadar “meminta hujan”, tetapi juga berdialog dengan kehidupan melalui simbol-simbol sederhana seperti siwur (gayung), irus (centong sayur), hingga batok kelapa yang dirangkai menyerupai sosok seorang putri. Dari benda-benda dapur yang akrab dengan keseharian inilah, lahirlah sebuah doa yang dipentaskan.
Bagi Mbah Titut, Cowongan tidak pernah berhenti pada urusan langit yang menurunkan air, tetapi lebih dalam dari itu. Tradisi ini adalah cara membaca kehidupan, tentang bagaimana manusia berdamai dengan keterbatasan, merawat harapan, dan tetap menjaga hubungan dengan semesta di tengah dunia yang kian serba cepat.
Menafsir Pesan dalam "Aksara Langit"
Melalui filosofi yang ia sebut sebagai "aksara langit", Mbah Titut memandang bahwa ilmu pengetahuan sejati berakar pada kemampuan manusia untuk berkaca pada alam. Baginya, pengetahuan tidak berdiri semata dari akal yang bekerja sendiri, tetapi juga dari perjumpaan antara akal budi dan kesadaran terhadap semesta yang terus berbicara dalam diamnya. Langit, menurut Mbah Titut, tidak hanya membentang di atas kepala, tetapi juga hadir di dalam diri manusia sebagai ruang sunyi yang perlu dibaca dan dipahami.
Mbah Titut mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk duniawi untuk melihat tanda-tanda alam. Menurutnya, setiap fenomena—mulai dari cuaca yang cerah hingga gunung yang menjulang tinggi—adalah pesan yang perlu dibaca dengan kesadaran spiritual.
“Merenung itu penting. Setiap pagi kita bisa melihat gunung yang indah, merasakan cuaca yang cerah. Cara orang dulu berbeda, mereka belajar dari apa yang mereka lihat di sekitar,” ungkapnya dengan nada reflektif, penuh ekspresi saat menyampaikan makna yang ia yakini.
Mbah Titut memaknai ritual pemanggil hujan melalui filosofi "aksara langit", layaknya menafsir kisah Dewi Masinten. Dalam cerita rakyat, sang dewi memang digambarkan sebagai penghuni sumber air (sendang) atau hutan yang lembap. Namun bagi Mbah Titut, ia melampaui figur mitologis; Dewi Masinten adalah personifikasi air hujan dan simbol kesuburan yang menghidupkan harapan. Setiap detail kisahnya ditafsirkan selaras dengan irama hidup manusia sebagai "sasmita" atau petunjuk dari "atas" mengenai nasib dan perjalanan eksistensial masyarakat Jawa.
Seni yang Mengganggu
Mbah Titut teguh menjaga nyala kesenian cowongan. Bertahun-tahun ia mendalami dan menafsirkan makna dalam setiap elemennya. Namun, jalan yang ia tempuh tidak selalu mulus.
Di mata sebagian masyarakat modern, praktik seperti ini kerap dipandang sebelah mata. Stigma mistis hingga dianggap using tak jarang menghampiri. Namun bagi Mbah Titut, penolakan justru menandakan bahwa seni tersebut masih hidup.
“Kalau seni itu tidak mengganggu, mungkin dia tidak hidup, sebab seni yang apik tidak sekadar memanjakan mata, tetapi juga mengusik pikiran,” tegasnya. Bagi Mbah Titut, seni tradisi memang seharusnya "mengganggu" kenyamanan berpikir manusia modern agar mereka mau menoleh kembali pada akar budaya dan nilai-nilai yang mulai terlupakan.
Melalui perjalanan panjangnya, Mbah Titut menyisipkan pesan sederhana, tetapi mendalam bagi generasi muda: pentingnya menyeimbangkan kecerdasan rasional dengan kecerdasan spiritual. Baginya, menjaga tradisi adalah menjaga keberlanjutan hidup itu sendiri. Di tengah dunia yang bergerak cepat, kemampuan untuk merenung dan membaca “aksara langit” menjadi cara agar manusia tidak kehilangan makna.
Seperti yang ia yakini, seni bukan sekadar tontonan, melainkan juga pengalaman batin yang mengusik, menggugat, dan perlahan mengubah cara kita memaknai kehidupan.
