Konten dari Pengguna

Esensi Corat Coret, Saat Lulus Tanpa Ujian

Fareh Hariyanto

Fareh Hariyanto

Manusia yang sedang menempa kanuragan di Jurusan Ahwalusasyhiah IAI Ibrahimy Genteng Bumi Blambangan Banyuwangi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fareh Hariyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto. Ilustrasi. (Radarmetro.com)
zoom-in-whitePerbesar
Foto. Ilustrasi. (Radarmetro.com)

Meski anjuran untuk tetap menerapkan social distancing hingga physical distancing terus digencarkan di masyarakat. Namun tampaknya hal itu tidak berlaku untuk sebagian pelajar di Banyuwangi, ini saya lihat dari maraknya aksi corat-coret seragam serta konvoi kelulusan pelajar beberapa hari kebelakangan ini.

Jika biasanya, aksi arak-arakan kelulusan dilakukan serentak di hari yang sama. Tentu berbeda untuk saat ini, setiap hari selalu ada saja yang menggelar acara konvoi meski tak kompak berbarengan. ,mungkin punya madzab sendiri-sendiri tiap sekolahnya meski tanggal 02 Mei lalu sudah diumukan secara daring.

Alasannya ya cukup simpel, kelulusan yang diperoleh seperti mendapat give away menjadikann waktu perayaan lulusan antar sekolah satu dengan yang lainya berbeda waktu. Lha gimana mau barengan lha wong gak ada ujiannya, dan semua pasti lulus juga.

Memang lulus tanpa corat-coret sergam ibarat Sayur tanpa Garam, raakkkk mashookkk blaass, bakalan terasaaaaa hambar. Tapi sepenting-pentingnya corat-coret seragam juga harus ada esensinya jika ingin menjalankan ristus setelah lulus ini. Yaa kayak Garam yang kalau kebanyakan bakal bikin ambyar masakan.

Corat-coret seragam dalam kelulusan menyimpan esensi mendalam serta kenangan cerita yang ruaaaaarrr biasa di masa depan. Alasan menggelar agenda ini bagi saya dulu cukup complikated bung. Sebab ini juga melalui istinbath hukum perihal manfaat dan mafsadat yang direnungkan pracara berlangsung.

Istilah simplenya aksi ini mengundang perenungan yang mendalam ditengah situasi aman tentunya, Pertama, corat-coret bakal jadi momentum untuk kena marah mamah, yaaa setajir-tajirnya orang tua tetap saja kegiatan ini dianggap unfedah, pasti di uninstal-lah sama generasi boomers jika tahu anaknya mainan kaya gini.

Beda tentunya, kalo orang tua kita macam Lord Luhut yang memang menjunjung tinggi asas kebebasan yang kebablasan... Sampe-sampe apapun kritik nitijeennn yaang maha benar jadinya ya wes ewes-ewes bablas jadi angine... Gak ngaruhhh blassss.. Loss gak pake rewel.

Kedua, corat-coret jadi ajang untuk investasi, kok bisa, ? ya bisa ajalah. Seperti semangart Lord Luhut yang gencar menggenjot investasi Indonesia sampe berupaya semulus mungkin buat payung hukum sapu jagat.

Jadi tidak salah kalau pemuda harapan bangsa kita sudah berfikir investasi sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Siapa tahu salah satu teman kita kelak jadi atlit terkenal Indonesia. Nah, seragam yang ada tanda tangnnya itu dimasa depan ibarat jersey yang bisa punya nilai jual mahal tentunya, kalo ada yang beli...

Ketiga, corat-coret sebagai ajang pemersatu bangsa, sebab mau saya tinggal di Kendal sampai saat ini tinggal di Banyuwangi. Tetap saja, permersatu tradisi kelulusan antar pelajar adalah budaya corat-coret seragam. Baik pelajar yang kecukupan atau yang pas-pasan. Alias keree mendee. Tetep kagak mau ketinggalan.

Mereka seakan tidak perduli sama orang tua yang kelimpungan mencari biaya sekolah sampai mutah getih ngising beling. Opo gak sak noo rekkk... Yaaa walaupun tetap ada saaaja alasan mereka buat berkilah, kadang cocotnya memang tak masuk di akal saya.

Jika sudah pasti lulus sejak awal, tanpa ada ujian yang menghadang. Tentu tidak ada rasaaa deg-degan yang tak tersalurkan... Euforianya bedalah pengalaman lulus saya dulu. Soalnya yang lulus tahun ini ibarat dapar pripilij dari pandemi corona. Jadi yaa jangan kufur nikmaaat,..

Sudah dapat pripilij lulus, sebulan terahir cuma belajar dari rumah tanpa datang ke sekolah pula. Kapan lagi coba punya peket full komplit yang di dapat pelajar saat ini. Saya, dulu saja ingat punya waktu libur panjang cuma saat Ramadhan waktu Gus Dur jadi Presiden. Lepas itu,, ngimpi brooo mo libur sebulan....

Yaaa harusnya pelajar sekarang itu banyak syukur dan tafakur, sudah dikasih banyak waktu buat mendekur di rumah saja. Yaaa walau tanpa ujian dan di luluskan tanpa halangan, tetap harus berbuatlah sesuatu untuk negeri, walau hanya sekedar rebahan saja. Coba, nikmat apa lagi yang engkau dustakan coba...

Melakukan aksi unfaedah ditengah situasi seperti saat ini tak ubahnya menari diatas penderitaan orang lain gaesss, Pesta pora yang tidak pantas di Era Pandemi Covid-19. Tidak elok bingitzz...! Harusnya menunggu dulu saat situasi sudah kondusif, percayalah menunggu pandemi reda tak semasygul menonton drama korea. ~ sabar ini ujian