Konten dari Pengguna

Meniti Jembatan antara IPK dan Isi Dompet: Realita di Balik Kehidupan Mahasiswa

Farel Efendi

Farel Efendi

Saya sebagai mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farel Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa ikut perkuliahan. Foto: Zakris Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa ikut perkuliahan. Foto: Zakris Studio/Shutterstock

​Romantisme masa kuliah sering kali digambarkan sebagai fase penuh kebebasan: menghadiri kelas, aktif berorganisasi, dan menikmati waktu luang bersama teman sebaya. Namun, bagi sebagian mahasiswa, ruang gerak mereka tidak seberuntung itu. Di sela-sela tumpukan tugas kuliah, ada jam kerja yang harus dipenuhi.

​Kuliah sambil bekerja—baik sebagai pekerja paruh waktu (part-time), pekerja lepas (freelancer), maupun pengemudi ojek daring—kini bukan lagi sekadar tren untuk mencari uang jajan tambahan. Bagi banyak mahasiswa, ini adalah mekanisme bertahan hidup demi menyambung napas pendidikan dan meringankan beban orang tua.

​Namun, menjalani dua peran besar sekaligus jelas bukan perkara mudah. Ada harga mahal yang harus dibayar di balik kemandirian finansial tersebut.

​Benturan Dua Prioritas yang Melelahkan

Dok: aI

​Tantangan terbesar dari mahasiswa pekerja adalah manajemen waktu. Ketika mahasiswa lain bisa menggunakan waktu luang untuk beristirahat atau belajar kelompok, mahasiswa pekerja harus bergegas menuju tempat kerja.

​Dilema Jadwal: Sering kali terjadi bentrokan antara jadwal kelas pengganti dari dosen dengan beralihnya sif (shift) kerja.

​Energi yang Terkuras: Konsentrasi di ruang kelas kerap menurun karena energi tubuh sudah terkuras habis di tempat kerja pada malam sebelumnya, atau sebaliknya.

​Isolasi Sosial dan Pertaruhan Kesehatan Mental

​Menjalani profesi ganda membuat ruang untuk bersosialisasi menyempit secara drastis. Mahasiswa pekerja sering kali harus absen dari kegiatan nongkrong atau kerja kelompok yang sifatnya mendadak.

​Akibatnya, muncul rasa terasing dari lingkaran pertemanan kampus. Beban kerja ditambah tuntutan akademis yang konstan ini jika tidak dikelola dengan baik akan memicu burnout (kelelahan mental ekstrem), kecemasan berlebih, hingga penurunan performa akademis yang berujung pada indeks prestasi kumulatif (IPK) yang merosot.

​Sisi Terang: Kedewasaan dan Portofolio Dini

​Meski jalannya terjal, sisi positif dari keputusan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Mahasiswa yang bekerja sejak bangku kuliah cenderung memiliki keunggulan kompetitif yang tidak diajarkan di dalam kelas:

​Mentalitas yang Tangguh: Mereka lebih terlatih menghadapi tekanan, penolakan, dan dinamika dunia kerja nyata.

​Keterampilan Nonteknis (Soft Skills): Kemampuan berkomunikasi dengan pelanggan atau atasan, negosiasi, dan penyelesaian masalah (problem solving) mereka biasanya jauh lebih matang.

​Kemandirian Finansial: Ada kepuasan emosional tersendiri ketika mampu membayar biaya kuliah atau kebutuhan hidup dari keringat sendiri.

​Bertahan di Dua Sisi: Bagaimana Menyiasatinya?

​Agar roda kuliah dan kerja tetap berputar seimbang tanpa mengorbankan salah satunya, ada beberapa langkah taktis yang bisa diambil:

​Komunikasi Transparan: Jujurlah kepada pihak tempat kerja mengenai status sebagai mahasiswa, begitu juga sebaliknya jika ada kondisi akademis yang mendesak.

​Skala Prioritas yang Ketat: Manfaatkan aplikasi pengingat (calendar/planner) untuk memetakan tenggat waktu tugas dan jadwal kerja agar tidak ada yang terlewat.

​Jangan Lupa Bernapas: Sediakan waktu minimal satu hari atau beberapa jam dalam seminggu yang benar-benar bersih dari urusan kuliah maupun kerja untuk memulihkan energi fisik dan mental.

​Kuliah sambil bekerja adalah pembuktian bahwa pendidikan dan kemandirian bisa berjalan beriringan. Ini bukan sekadar tentang seberapa tinggi IPK yang diraih atau seberapa banyak uang yang dikumpulkan, melainkan tentang proses pembentukan karakter seorang petarung yang siap menghadapi dunia nyata.