Konten dari Pengguna

Pernyataan 'Video Killed The Radio Star' yang (Ternyata) Tidak Terjadi

Farhan M Adyatma

Farhan M Adyatma

Penulis lepas di berbagai media online, khususnya media online alternatif.

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhan M Adyatma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Unsplash/Miguel Alcântara
zoom-in-whitePerbesar
Unsplash/Miguel Alcântara

Pada 1 Agustus 1981, Music Television (MTV) resmi mengudara untuk pertama kali. MTV ini adalah saluran televisi yang dikhususkan untuk menayangkan musik video dan itu merupakan yang pertama kalinya.

Ketika tayang perdana, MTV menayangkan musik video berjudul Video Killed The Radio Star yang dinyanyikan oleh The Buggles, band asal Inggris yang beranggotakan Trevor Horn dan Geoff Downes. Dengan penayangan Video Killed The Radio Star tersebut, MTV seperti ingin menyampaikan pesan ke publik bahwa sebentar lagi radio akan mati dan digantikan oleh video.

Benarkah Radio Mati?

Faktanya, hari ini radio tidak mati. Radio masih ada walaupun sudah bukan menjadi sarana hiburan yang sangat umum dan digandrungi seperti dulu. Radio kini hanya ada di tempat-tempat tertentu, seperti di dalam mobil, toko (untuk hiburan di kala menunggu pembeli), dan bahkan mungkin di rumah kakek-nenek kita.

Radio juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh sarana hiburan lain. Kelebihan radio adalah mudah diakses di wilayah-wilayah terpencil. Hal itu karena radio adalah sebuah media yang murah karena tidak memerlukan koneksi internet.

Selain itu, radio memiliki keunggulan di siaran langsung. Di dalam mobil, kita bisa mendapatkan siaran langsung berupa berita, cuaca, dan kondisi lalu lintas melalui radio. Radio menjadi unggul karena ketika di dalam mobil, pengemudi harus tetap fokus melihat ke jalan, sementara radio hanya perlu didengarkan tanpa ada visualnya.

Stasiun Radio yang Aktif Berinovasi

Jika radio ingin terus hidup, maka stasiun radio juga harus hidup. Stasiun radio masih ada dan aktif berinovasi. Salah satu cara stasiun radio adalah dengan membuat konten secara digital berupa video dan bahkan podcast.

Freepik/senivpetro

Saya ambil contoh radio Elshinta misalnya, yang membuat segmen podcast dengan nama Podcast Elshinta. Radio Elshinta mengundang narasumber yang menurut saya menarik, seperti Joseph Osdar (wartawan istana dari harian Kompas), Oesman Sapta Odang (Ketua Umum Partai Hanura), dan Lenis Kogoya (eks Staf Khusus Presiden Joko Widodo pada 2015—2019).

Langkah serupa juga diambil oleh radio Prambors. Radio Prambors aktif membuat konten video yang menarik dengan segmen-segmen yang mereka buat seperti Scrollmate, Tanya Tanya, Prambors Talks, dan lain-lain.

Namun, stasiun radio yang saya sebut itu tidak meninggalkan bisnis utama mereka sebagai stasiun radio. Strategi masuk ke digital yang dilakukan bisa dibilang adalah bentuk diversifikasi produk saja yang tidak mengganggu bisnis utama mereka selaku stasiun radio.

Radio Tidak Mati, Melainkan Berevolusi

Bisa dibilang, podcast adalah evolusi dari radio konvensional. Kehadiran platform seperti Spotify, YouTube, dan Apple Music menawarkan konten audio yang bisa menyesuaikan preferensi pengguna salah satunya dalam bentuk podcast.

Saat ini, sudah banyak orang-orang atau konten kreator yang membuat segmen podcast mereka sendiri. Seperti Deddy Corbuzier dengan Close The Door, Gita Wirjawan dengan Endgame, Akbar Faizal dengan Akbar Faizal Uncensored, dan lain-lain.

Hal ini menunjukkan bahwa konten audio yang tanpa visual—dalam hal ini podcast—sangat diminati oleh banyak orang. Selain itu, tingginya minat banyak orang untuk mendengarkan podcast itu seperti menolak keyakinan bahwa radio suatu saat akan ditinggalkan—seperti apa yang ada pada lagu Video Killed The Radio Star.

And now we meet in an abandoned studio

We hear the playback and it seems so long ago

Potongan lirik lagu Video Killed The Radio Star tersebut—setidaknya untuk saat ini—tidak terbukti mengingat radio sampai saat ini masih ada dan masih ada penggemarnya.

Apa Kabar MTV?

Nama MTV justru sekarang sudah kurang terdengar lagi terutama oleh Gen Z dan Gen Alpha. Tentu alasannya adalah karena kebanyakan dari Gen Z dan Gen Alpha masa kecilnya sudah tumbuh bersama internet dan media sosial.

Freepik/jcomp

MTV memiliki sistem kurasi untuk penayangan musik video, sementara adanya platform seperti YouTube membebaskan musisi untuk menayangkan musik videonya. Selain itu, kebebasan yang ada pada platform digital itu ditambah dengan banyak kelebihan lain seperti bisa ditonton kapan pun dan di mana pun serta bisa terkoneksi secara global dengan adanya internet.

Hal inilah yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi MTV di era sekarang. Walaupun begitu, bukan berarti saat ini MTV sudah mati, MTV masih ada tetapi sudah tidak sebesar dulu lagi terutama jika dibandingkan pada masa jayanya pada bulan era 80-an dan 90-an. Mungkin MTV ini bisa digambarkan secara singkat dengan peribahasa "hidup segan mati tak mau".