Konten dari Pengguna

Scrolling Adalah Candu

Farhan M Adyatma

Farhan M Adyatma

Penulis lepas di berbagai media online, khususnya media online alternatif.

·waktu baca 2 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhan M Adyatma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Freepik

Media sosial sebagai media baru (new media), telah membawa umat manusia ke arah yang berbeda total. Media sosial mengubah cara kita dalam berinteraksi, mengonsumsi konten--termasuk berita, dan banyak lainnya lagi. Dalam bermedia sosial pun, terbentuk perilaku tentang bagaimana cara kita untuk bisa mengonsumsi dan menikmati suatu konten.

Perilaku yang saya maksud adalah bagaimana agar konten-konten yang ingin kita lihat bisa ada di beranda kita. Saya melihatnya ada dua metode/cara, yaitu searching dan scrolling. Tujuan dari kedua metode tersebut sama, yaitu melatih algoritma media sosial agar konten-konten yang kita inginkan bisa tampil di beranda kita.

Berbicara tentang metode searching, ini mungkin menjadi metode yang paling awal digunakan bahkan sudah digunakan semenjak sebelum media sosial bisa sepopuler sekarang. Penggunaannya menjadi sangat penting di search engine seperti Google, Bing, Yahoo Search, dan sejenisnya.

Foto: Freepik/jannoon028

Di media sosial pun awalnya sama. Sebelum TikTok berhasil mengubah perilaku kita bagaimana cara mengonsumsi konten, media sosial seperti YouTube, Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya itu bisa dibilang mengandalkan searching agar konten yang muncul bisa sesuai dengan keinginan kita.

Saya ambil contoh YouTube misalnya. Pada saat awal kita mendaftar akun Gmail dan kita masuk ke YouTube menggunakan akun baru itu, algoritma YouTube masih tidak mengetahui apa konten yang kita inginkan. Barulah pada saat kita menggunakan kolom pencarian untuk mencari tontonan tentang game Minecraft misalnya, algoritma YouTube perlahan mempelajari hal itu dan setelah itu akan membanjiri beranda kita dengan konten-konten tentang game Minecraft.

Foto: Unsplash/Oberon Copeland @veryinformed.com

Lalu mari kita memasuki era di mana TikTok menjadi populer, video pendek berskala 9:16 yang berdurasi kurang lebih satu menit menjadi pilihan banyak orang untuk mengonsumsi konten. Melihat kesuksesan TikTok itu, media sosial yang lain kemudian menjadi latah untuk menyediakan tempat bagi konten video pendek seperti yang ada di TikTok, seperti YouTube yang membuat Shorts dan Instagram yang membuat Reels.

Dari sinilah metode scrolling menjadi kebiasaan baru. Jika ada konten yang dirasa tidak sesuai keinginan, tinggal di-scroll saja, dan siklus itu terus berulang sampai FYP (For Your Page) kita terisi oleh konten-konten yang memang kita inginkan. Walaupun TikTok menyediakan kolom pencarian, coba tanya ke diri sendiri, seberapa sering kita menggunakannnya?

Saya rasa, sistem TikTok yang langsung menyodorkan konten saat pertama kali dibuka berkontribusi terhadap perubahan kebiasaan dari metode searching ke scrolling. TikTok membuat kita langsung mengonsumsi konten tanpa babibu, kita menjadi ketagihan untuk meng-scroll TikTok secara terus-menerus dan mungkin membuat kita lupa waktu. Scrolling adalah candu.