Lelah Menjadi Manusia di Tengah Tekanan Zaman

Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Farhanudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, kabar bunuh diri terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak lagi muncul sebagai berita yang jauh dan asing, melainkan hadir di linimasa media sosial, grup WhatsApp, hingga percakapan warung kopi. Yang lebih menyedihkan, banyak korbannya masih berusia muda mereka yang secara usia seharusnya sedang membangun mimpi, bukan justru mengakhiri hidup.
Di Jawa Timur, masyarakat beberapa kali diguncang oleh kasus bunuh diri yang terjadi di kawasan Jembatan Cangar, jalur penghubung Pacet Mojokerto dan Kota Batu. Dalam waktu berdekatan, lokasi itu menjadi sorotan publik setelah beberapa orang diduga mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan tersebut. Secara berdekatan kurang lebih waktu 1 bulan terjadi secara sama yaitu melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan tersebut.
Selain di Mojokerto juga terjadi disurabaya yaitu seorang melompat dari lantai 20 salah satu hotel disurabaya, selain itu ada juga seorang nekat gantung diri didalam rumah kontrakannya. Tidak terjadi di Mojokerto dan Surabaya, hal ini juga terjadi di Sidoarjo ditemukan serorang kepala desa mengakhiri hidupnya dengan melilit tali dilehernya yang mirisnya terjadi di kantor kerjanya. Dan masih banyak sekali contoh kejadian yang lain.
Ironisnya, masyarakat perlahan mulai terbiasa. Video beredar, Foto lokasi tersebar, Warganet berkomentar. Lalu semuanya berlalu begitu saja sebelum akhirnya muncul korban berikutnya.
Padahal, setiap kasus bunuh diri bukan sekadar “berita kriminal”. Ia merupakan alarm sosial yang sebagai tanda bahwa ada banyak orang di sekitar kita yang diam-diam sedang merasakan kelelahan dalam menghadapi hidup.
Kita hidup di zaman yang aneh. Semua orang dituntut terlihat kuat, bahagia, sukses, dan produktif setiap saat. Media sosial membuat hidup orang lain tampak sempurna seperti pamer karier bagus, pasangan romantis, tubuh ideal, pertemanan ramai, dan liburan tanpa henti. Sementara di saat yang sama, banyak orang yang sedang bertarung sendirian melawan kecemasan, tekanan ekonomi, kesepian, tuntutan keluarga, hingga patah hati yang dianggap sepele.
Yang lebih menyakitkan, masyarakat kita belum benar-benar siap mendengar cerita orang yang sedang hancur. Ketika seseorang mulai bercerita tentang depresinya, respons yang muncul sering kali hanya:
“Kurang ibadah.”
“Kurang bersyukur.”
“Jangan lebay.”
“Masih banyak yang hidupnya lebih susah.”
Kita terlalu cepat menghakimi, terlalu lambat memahami. Akibatnya, banyak orang memilih diam. Mereka tertawa di depan teman-temannya, aktif di media sosial, bahkan terlihat baik-baik saja. Namun diam-diam, mereka kehilangan alasan untuk bertahan hidup.
Kasus di Jembatan Cangar menunjukkan bagaimana bunuh diri kini bukan lagi kejadian tunggal yang langka. Bahkan, beberapa warga mulai menyebut lokasi tersebut sebagai “spot bunuh diri” karena kejadian serupa terus berulang. Fenomena ini seharusnya membuat kita bertanya “apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kesehatan mental masyarakat?”
Masalahnya bukan hanya soal individu yang “tidak kuat”. Tekanan hidup hari ini memang semakin brutal. Biaya hidup naik, Lapangan kerja sulit, Standar kesuksesan makin tinggi, Relasi percintaan semakin rapuh. Banyak laki-laki tumbuh dalam budaya yang melarang mereka menangis, sementara perempuan sering dipaksa kuat menghadapi tekanan sosial yang tidak masuk akal.
Di Sidoarjo, misalnya, seorang kepala desa diduga mencoba mengakhiri hidup karena terlilit utang dan tekanan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa bunuh diri sering kali bukan lahir dari satu masalah besar, melainkan akumulasi kelelahan yang terus dipendam sendirian.
Sementara itu di kota-kota besar seperti Surabaya, kehidupan bergerak begitu cepat. Orang bekerja dari pagi hingga malam, mengejar target tanpa benar-benar punya ruang untuk bernapas. Semua sibuk bertahan hidup. Semua takut tertinggal. Namun sedikit yang benar-benar merasa hidup.
Yang paling berbahaya dari zaman ini adalah kesepian yang tidak terlihat. Seseorang bisa memiliki ribuan pengikut media sosial, tetapi tidak punya satu orang pun untuk diajak bicara ketika hidupnya runtuh. Seseorang bisa tampak ceria di Instagram, tetapi menangis sendirian setiap malam. Kita hidup di era paling terkoneksi, tetapi sekaligus paling kesepian.
Bahkan dalam beberapa kasus, penderitaan justru berubah menjadi tontonan. Video korban bunuh diri tersebar tanpa empati. Lokasi kejadian dijadikan konten. Komentar-komentar dingin bermunculan seolah nyawa manusia hanyalah hiburan sesaat.
Ini bukan hanya krisis mental. Ini krisis empati. Kita terlalu sibuk menjadi penonton penderitaan orang lain. Padahal, tidak semua orang yang ingin bunuh diri benar-benar ingin mati. Banyak dari mereka sebenarnya hanya ingin berhenti merasa sakit. Mereka kelelahan menjadi manusia di tengah dunia yang terasa semakin bising, keras, dan melelahkan.
Karena itu, persoalan bunuh diri tidak bisa hanya diselesaikan dengan kalimat motivasi atau ceramah singkat. Ada hal yang kita butuhkan seperti, kita membutuhkan ruang aman untuk mendengar, kita membutuhkan lingkungan yang tidak menertawakan laki-laki ketika menangis, tidak meremehkan depresi, dan tidak menganggap kesehatan mental sebagai sesuatu yang memalukan.
Selain itu, Sekolah perlu lebih serius menghadirkan edukasi kesehatan mental. Kampus jangan hanya bangga soal prestasi akademik, tetapi juga peduli pada kondisi psikologis mahasiswanya. Tempat kerja perlu berhenti memuja budaya “kerja sampai tumbang”. Dan media sosial seharusnya tidak menjadi arena saling membandingkan hidup.
Lebih dari itu, kita sebagai manusia perlu belajar satu hal sederhana yaitu hadir untuk sesama. Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi panjang. Mereka hanya butuh didengar tanpa dihakimi.
Fenomena bunuh diri yang semakin marak hari ini seharusnya menyadarkan kita bahwa banyak orang sedang tidak baik-baik saja. Mereka ada di sekitar kita baik teman kuliah, rekan kerja, tetangga, bahkan anggota keluarga sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin keras ini, bentuk kepedulian paling sederhana adalah memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita tidak merasa sendirian menghadapi hidupnya.
