Dua Dekade Dusun Bondan Tanpa Listrik, Menjemput Terang dari Matahari dan Angin

Selama lebih dari dua dekade, masyarakat Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, terbiasa dengan kegelapan. Letaknya yang terpencil di kawasan pesisir membuat dusun ini belum teraliri listrik.
Muhammad Jamaludin masih mengingat bagaimana rasanya hidup tanpa listrik. Selama bertahun-tahun, malam di Dusun Bondan hanya diterangi lampu minyak atau genset yang bahan bakarnya harus dibeli dengan biaya tidak sedikit.
Warga setempat, lanjut dia, harus mengandalkan lampu minyak atau genset sekadar untuk menerangi rumah. Biayanya pun tidak murah. Untuk menyalakan genset dan lampu petromak semalaman, bahan bakar solar maupun minyak tanah yang dibutuhkan bisa mencapai 5-10 liter.
“Dusun Bondan ini memang berawal dari ketiadaan sumber listrik. Jadi selama hampir 20 tahun lebih kami tidak punya fasilitas listrik,” kenangnya saat berbincang bersama kumparan, Jumat (28/8).
Local Hero Pertamina tersebut menceritakan bahwa perubahan mulai datang pada 2017, ketika Pertamina hadir. Pertamina membantu membangun pembangkit listrik tenaga hibrid (PLTH) yang memadukan panel surya dan kincir angin. Kini melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), pemakaian energi terbarukan juga menjadi motor pendorong kemandirian.
Dari pembangkit itu, energi kemudian mengalir ke 40 rumah dengan 78 kepala keluarga (KK), satu masjid, hingga gedung koperasi. Namun, bagi warga Bondan, energi terbarukan ini hanyalah awal dari perjalanan menuju desa yang lebih mandiri.
“Alhamdulillah pada tahun 2017, Pertamina hadir ke tempat kami memberikan terobosan atau bantuan untuk membangunkan sebuah pembangkit listrik tenaga hibrid, yaitu sebuah pembangkit antara panel surya dengan kincir angin,” ungkap Jamal.
PLTH tersebut menciptakan penghematan, dari biasanya warga perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp 40.000 per malam, atau rata-rata Rp 1 juta per bulan untuk membeli bahan bakar, menjadi hanya iuran Rp 25.000 per bulan.
Pembangkit energi bersih itu juga meningkatkan hasil tambak kelompok menjadi 1,5 ton per hektare. Tidak hanya itu, penghematan pengeluaran dari 78 KK di Dusun Bondan tersebut mencapai 20 persen atau setara Rp 234.000 per bulan.
“Jadi tinggal dihitung saja perbedaannya, misalnya per liter dihargai Rp 8.000 sudah hampir Rp 40.000 ya per malam dikali satu bulan, ya Rp 1 juta lebih kan ya. Nah, kalau pakai PLTH ini kita hanya menarik warga masyarakat Rp 25.000,” ucapnya.
Selain masalah pasokan listrik, tantangan Dusun Bondan juga mencakup ketiadaan sumber air bersih dan bencana banjir rob dari pesisir yang kerap datang tiba-tiba dan mengancam aktivitas dan perekonomian warga.
Imbas dari masalah energi dan banjir rob tersebut, lanjut Jamal, mengakibatkan produktivitas perikanan tambak warga menjadi tidak maksimal. Tantangan itu semua perlahan surut setelah dibangunnya PLTH, berkat bantuan Pertamina, tidak hanya menerangi desa namun juga menghidupkan kembali roda perekonomian yang sempat tersendat.
Salah satunya dengan terciptanya fasilitas Sistem Desalinasi Berbasis Masyarakat (SiDeSi Mas), inovasi penyulingan air laut yang menjadi sumber pasokan air bersih untuk masyarakat Dusun Bondan. Fasilitas ini digerakkan dengan energi yang dihasilkan PLTH.
“Alhamdulillah yang dulunya kita warga ketika butuh air bersih di musim kemarau harus ke Pulau Nusakambangan sekitar 30 km lebih menggunakan perahu dengan risiko ya perahu terbalik lah apalah sudah tersolusikan dengan adanya penyulingan tersebut,” jelas Jamal.
Kemudian, solusi dari permasalahan banjir rob mendadak bisa diantisipasi warga melalui alat peringatan dini atau Early Warning System Rob Flood (EWSRF). Energi dari PLTH tersebut, menurut Jamal, memberikan peringatan ketika permukaan laut melewati batas aman sehingga para nelayan bisa menyelamatkan tambaknya.
“Peringatan banjir itu berfungsi ketika air (laut) hendak naik itu ada peringatan bunyi, jadi warga tahu untuk bisa siap-siap pasang waring,” ujar Jamal.
Tidak hanya itu, Jamal juga menyebutkan bahwa PLTH membantu pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) warga setempat, selain menjual hasil perikanan mentah juga mencakup pengolahan makanan kering seperti keripik dari hasil panen pertanian hingga tambak ikan.
“PLTH ini juga kita gunakan untuk kegiatan ekonomi. Ibu-ibu mengolah hasil makanan, terus hasil tambak yang dulunya kita dijual harus langsung tidak bisa disimpan lama karena tidak punya pendingin mesin pendingin yang ketika beli es harus ke menyeberang ke kota, bisa membuat es sendiri, untuk mengawetkan ikan tersebut,” tutur Jamal.
Sebagai tahapan penguatan, Jamal menyebutkan program DEB Dusun Bondan juga membentuk sebuah koperasi yang menjadi wadah pengelolaan keuangan kegiatan masyarakat, sekaligus bisa menyediakan berbagai kebutuhan warga yang bergantung pada mata pencaharian di sektor perikanan.
“Koperasi terpusat yang kita gunakan sebagai wadah, satu untuk mengelola keuangan yang ada, terus yang kedua juga membantu kebutuhan masyarakat jika memang dalam waktu terdesak butuh untuk beli benih, beli apa, itu bisa kita bantu untuk kebutuhan masyarakat juga,” katanya.
Jamal tak pernah membayangkan dirinya akan disebut Local Hero. Baginya, apa yang dilakukan bermula dari keinginan sederhana, agar anak-anaknya dan generasi berikutnya tidak mengalami kehidupan yang pernah ia jalani.
“Intinya kita sebagai manusia, khususnya sebagai orang yang beragama Islam, memiliki pemikiran supaya hidup kita bermanfaat bagi orang lain. Itu misi pertama. Yang kedua apalagi saya ini kan dibesarkan di sana dan merasakan betul kondisi gelapnya seperti apa selama puluhan tahun,” tuturnya.
Di titik itu, semangat Desa Energi Berdikari menemukan maknanya, ketika energi bersih tidak berhenti sebagai pembangkit, tetapi menjadi penggerak bagi masyarakat untuk berdiri lebih mandiri. Warga Dusun Bondan mulai menemukan cara untuk menghadapi persoalan yang selama ini datang bersamaan dengan keterisolasian mereka.
Air bersih di Dusun Bondan tak lagi harus diambil dari tempat yang berjarak puluhan kilometer dengan perahu. Hasil tambak bisa didinginkan dan diolah. Ketika rob mengancam, sistem peringatan dini membantu warga bersiap lebih cepat.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyebutkan program DEB menjadi salah satu program kemandirian masyarakat yang diintegrasikan dengan pemanfaatan energi terbarukan.
"DEB membuktikan bahwa penggunaan sumber energi terbarukan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah dapat menjadi satu faktor penting menumbuhkan kemandirian di masyarakat," kata Baron.
