Konten dari Pengguna
Kampungku Tak lagi Hijau
15 Juli 2025 15:54 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Kampungku Tak lagi Hijau
cerita pendek menceritakan penyesalan terhadap ketidak becusan dan ketamakan kita yang tidak terkendaliFaruq Amrulloh
Tulisan dari Faruq Amrulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
“Sam, kamu kenapa kok nangis?” tanya pemuda berpeci hitam dengan kemeja lusuh yang bau jalan, seperti tidak dicuci tujuh hari.
ADVERTISEMENT
“Ternyata kita salah, Jon. Pohon habis kutebang dan kujual di kota, ternyata tak bisa tumbuh lagi,” saut Samian.
“Kamu, loh, yang bilang kalau kita tebang pohon, nanti di bawah ada kotak harta karun,” jawab Jon.
“Mulutmu jangan sembarangan! Berkhayal, ya, kamu? Sejak kapan aku bilang ada harta karun? Yang punya harta itu bukan Karun, tapi Presiden Peci Hitam.”
“Ya udah, terserah. Yang jelas, kita sekarang mau pulang ke mana kalau kamu nangis di sini?”
“Pulang? Gak bisa kita pulang. Kan di sini tandus. Tidak ada tempat berteduh, tidak ada lagi rimbunnya pohon untuk bersembunyi dari hujan.”
“Ya udah, kalau gitu kita ambil dulu hartanya di bawah akar mati itu.”
“Goblok! Diajak bicara kok gak paham terus.”
ADVERTISEMENT
“Loh, kok kamu kayak penceramah blangkon, pakai kata itu?”
“Ya, kita sama. Lo sama, gak punya empati kepada sekitar.”
“Kalau tahu sama, kenapa diikuti kesalahannya?”
“Kamu juga udah tahu salah, masih didengerin.”
Dua orang ini saling menatap dan tertawa bersama.
“Ya sudah, kita mati di sini saja berdua, mumpung gak ada yang lihat.”
Dan dua orang itu masuk ke lubang di sebelah akar yang sudah gersang itu, dan terkuburlah mereka bersama tanah dan akar pohon kering.

