ASN Tetap Bekerja Apa pun yang Terjadi di Negeri Ini

Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita mungkin pernah punya pengalaman berurusan ke kelurahan lalu melihat beberapa aparatur sedang duduk-duduk di warung kopi. Gambaran yang tidak bisa kita bantah.
Maka, setiap kali muncul video aparatur sipil negara (ASN) yang sedang duduk di warung kopi pada jam kerja atau pelayanan publik yang buruk, komentar publik hampir selalu sama: "Pantas saja negara sulit maju."
Di era digital saat ini, dalam hitungan jam atau bahkan menit, satu potongan video dapat membentuk kesimpulan bahwa ASN identik dengan budaya santai, lamban, dan tidak produktif.
Kritik terhadap birokrasi tentu diperlukan. Pelayanan publik memang harus terus diperbaiki. ASN juga tidak boleh kebal terhadap evaluasi. Namun, persoalannya muncul ketika satu atau dua peristiwa yang viral dijadikan ukuran untuk menilai lebih dari empat juta ASN yang bekerja di seluruh Indonesia.
Fenomena ini mengingatkan kita pada satu kelemahan media sosial yaitu lebih mudah menampilkan penyimpangan daripada rutinitas. Pelayanan yang berjalan baik jarang menjadi berita. Sebaliknya, satu kesalahan kecil dapat menyebar ke seluruh negeri dalam hitungan menit.
Akibatnya, publik lebih mengenal ASN yang sedang duduk di warung kopi daripada dokter pemerintah yang berjaga semalaman di ruang gawat darurat, guru yang mengajar di daerah terpencil, atau petugas administrasi yang setiap hari melayani ribuan dokumen masyarakat.
Belakangan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Rini Widyantini menyampaikan surat terbuka kepada seluruh ASN. Di tengah derasnya kritik terhadap birokrasi, ia justru mengajak ASN tetap menjaga integritas, meningkatkan profesionalisme, dan terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Tidak lama kemudian, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Zudan Arif Fakrulloh juga menyampaikan pesan serupa. Keduanya sama-sama mengingatkan bahwa pengabdian ASN sering kali berlangsung dalam kesunyian. Ia tidak selalu terlihat, tetapi menentukan berjalannya negara.
Pesan tersebut penting karena sesungguhnya sebagian besar pekerjaan ASN memang tidak pernah masuk ke layar gawai kita.
Ketika masyarakat masih terlelap, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan di rumah sakit pemerintah sudah memulai giliran dinas. Di sekolah-sekolah pelosok, guru tetap mengajar meski harus menempuh perjalanan yang tidak mudah.
Tengok juga petugas Dukcapil melayani pembuatan KTP, akta kelahiran, hingga identitas digital yang menjadi syarat memperoleh berbagai layanan negara. Penyuluh pertanian mendampingi petani.
Di tempat lain, petugas karantina menjaga pintu masuk negara dari ancaman penyakit dan hama. Aparatur di wilayah perbatasan memastikan pelayanan negara tetap hadir di daerah terdepan.
Di balik layar, ribuan ASN lainnya bekerja menyusun kebijakan, mengolah data, menyusun anggaran, melakukan pengawasan, hingga menyiapkan berbagai keputusan strategis yang nantinya diambil oleh para pimpinan kementerian maupun pemerintah daerah.
Pekerjaan mereka hampir tidak pernah menjadi berita, tetapi justru menentukan kualitas kebijakan publik.
Saya sendiri merasakan bagaimana pekerjaan ASN sering kali tidak berhenti ketika jam kantor selesai. Cuti sering kali hanya tidak sesuai ekspektasi.
Laptop hampir selalu berada dalam jangkauan. Telepon dapat berbunyi kapan saja. Tidak jarang, malam hari justru menjadi waktu ketika berbagai data harus segera disiapkan karena esok pagi pimpinan harus memberikan penjelasan kepada publik, menghadiri rapat kabinet, rapat dengan DPR, atau mengambil keputusan penting berdasarkan informasi yang akurat.
Pekerjaan semacam ini tidak hanya saya alami. Banyak ASN lain yang harus siap bekerja di luar jam kantor karena karakter tugasnya memang demikian. Dalam banyak situasi, pelayanan publik tidak dapat menunggu hingga esok pagi.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada ASN yang bekerja tidak profesional. Ada yang melanggar disiplin, memberikan pelayanan yang buruk, bahkan menyalahgunakan kewenangannya.
Fakta ini tidak boleh ditutup-tutupi. Reformasi birokrasi justru menuntut agar perilaku seperti itu diperbaiki secara konsisten.
Namun, perlu diingat bahwa ASN bukanlah profesi yang bekerja tanpa aturan. Sistem kepegawaian mengatur disiplin, etika, penilaian kinerja, hingga mekanisme pemberian sanksi.
Pelanggaran terhadap kewajiban dapat berujung pada hukuman disiplin, penurunan jabatan, bahkan pemberhentian apabila memenuhi ketentuan yang berlaku. Artinya, perilaku buruk bukan bagian yang dibenarkan dalam sistem birokrasi.
Yang juga sering terlupakan adalah posisi ASN dalam sistem ketatanegaraan. ASN tidak bekerja untuk partai politik tertentu dan tidak pula mengabdi kepada individu yang sedang memegang kekuasaan.
Pemerintahan dapat berganti melalui pemilu, tetapi pelayanan publik harus tetap berjalan. Siapa pun presidennya, siapa pun menterinya, siapa pun kepala daerahnya, ASN tetap berkewajiban melaksanakan kebijakan yang sah berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Karena itulah, birokrasi sesungguhnya merupakan salah satu penyangga keberlangsungan negara. Ketika terjadi pergantian pemerintahan, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti, sekolah harus tetap berjalan, administrasi kependudukan tetap melayani masyarakat, bantuan sosial harus tetap tersalurkan, keamanan pangan tetap diawasi, dan berbagai fungsi negara lainnya harus tetap berlangsung.
Kita tentu berhak mengkritik ASN yang tidak profesional. Kritik merupakan bagian penting dalam membangun birokrasi yang lebih baik. Namun kritik yang adil juga mengharuskan kita melihat keseluruhan gambaran. Tidak bijaksana menyimpulkan jutaan ASN hanya dari perilaku segelintir orang yang kebetulan viral.
Sebagian besar ASN mungkin memang tidak pernah muncul di layar televisi atau media sosial. Mereka tidak memperoleh tepuk tangan, tidak menjadi trending topic, dan tidak dikenal publik. Namun setiap hari mereka memastikan negara tetap hadir melalui pelayanan yang mereka berikan.
Pada akhirnya, negara tidak hanya dijalankan oleh para pemimpin yang tampil di depan publik. Negara juga ditopang oleh jutaan ASN yang bekerja dalam diam, menjalankan tugas sesuai kewenangannya, serta memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berlangsung, apa pun yang sedang terjadi di negeri ini.
