Konten dari Pengguna

Mahasiswa Endorser: Antara Cuan dan Tekanan Sosial

Fatih Arrahman
Fatih adalah mahasiswa manajemen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang memiliki ketertarikan mendalam pada dunia entertainment
23 Juni 2025 15:47 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mahasiswa Endorser: Antara Cuan dan Tekanan Sosial
Endorsement bukan cuma buat seleb. Mahasiswa kini jadi pelaku ekonomi digital, tapi ada tekanan sosial dan risiko etika yang mengintai.
Fatih Arrahman
Tulisan dari Fatih Arrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumbet gambar: dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumbet gambar: dokumen pribadi
ADVERTISEMENT
Di kampus hari ini, mahasiswa bukan cuma sibuk kuliah. Banyak dari mereka juga sibuk “jualan”—bukan barang, tapi pengaruh.
ADVERTISEMENT
Melalui Instagram, TikTok, dan YouTube, mereka jadi endorser. Bantu UMKM lokal, hasilkan uang saku, bahkan bisa bayar kuliah. Tapi… semua itu datang dengan harga.
Jadi Pemain Ekonomi Digital
Mahasiswa kini masuk dunia pemasaran digital. Mereka dikenal sebagai nano influencer—pengikut tak banyak, tapi pengaruhnya besar.
Brand kecil suka mereka: lebih murah, lebih personal, dan lebih dekat ke pasar anak muda.
Contohnya? Satu posting TikTok dari mahasiswa hits bisa bikin kedai kopi lokal rame total.
Ekonomi Kampus yang Bergerak
Fenomena ini menciptakan ekosistem ekonomi mikro. Mahasiswa jadi pelaku, bukan penonton.
Mereka bangun personal brand, bikin konten, dan kerja sama dengan brand. Banyak yang dapat penghasilan tetap, cukup untuk hidup mandiri.
Tapi makin banyak cuan, makin tinggi juga tekanannya.
ADVERTISEMENT
Perang Citra & Validasi Diri
Di balik semua itu, muncul efek samping. Mahasiswa berlomba jadi “layak endorse.” Citra jadi penting. Validasi digital—likes, views, followers—jadi tolok ukur sukses.
Gaya hidup konsumtif pun terbentuk. Barang dibeli demi konten, bukan kebutuhan.
Lebih bahaya lagi, ada yang asal terima kontrak. Tanpa sadar, promosi produk ilegal, manipulatif, atau bahkan melanggar hukum.
Kampus Harus Turut Bergerak
Kampus perlu hadir. Literasi ekonomi digital bukan cuma teori, tapi praktik langsung.
Ajarkan cara kelola uang hasil endorse, baca kontrak, hingga etika promosi.
Kolaborasi antara kampus, brand, dan komunitas digital bisa bangun ekosistem yang sehat.
Mahasiswa Bukan Lagi Penonton
Mahasiswa kini bukan cuma konsumen. Mereka pelaku ekonomi digital baru. Tapi tanggung jawabnya juga besar.
ADVERTISEMENT
Keberhasilan bukan soal followers. Tapi dampak: apakah yang dilakukan membawa manfaat nyata—bagi diri sendiri, komunitas, dan masyarakat.