Konten dari Pengguna

Dulu Mengejar Jabatan, Kini Mengejar Kehidupan: Fenomena Conscious Unbossing

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatimah Al Khumaira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Conscious unbossing menunjukkan perubahan cara sebagian pekerja memaknai promosi, ambisi, kepemimpinan, dan kesuksesan dalam karier.

Dulu Mengejar Jabatan, Kini Mengejar Kehidupan. Sumber : https://www.magnific.com/
zoom-in-whitePerbesar
Dulu Mengejar Jabatan, Kini Mengejar Kehidupan. Sumber : https://www.magnific.com/

Ada masa ketika kenaikan jabatan hampir selalu menjadi kabar yang membanggakan. Namun, conscious unbossing menghadirkan pertanyaan baru: bagaimana jika seseorang justru memilih tidak naik jabatan demi mempertahankan waktu, kebebasan, dan kehidupan di luar pekerjaan?

Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika dunia kerja mulai mengenal generasi yang tidak selalu memandang tangga karier sebagai satu-satunya jalan menuju keberhasilan.

Pada September 2026, fenomena conscious unbossing kembali ramai diperbincangkan setelah kisah seorang pekerja muda di China yang disebut menolak promosi sebanyak tiga kali menjadi viral. Kisah tersebut dilaporkan telah memperoleh lebih dari 40 juta tayangan di media sosial China.

Namun, yang menarik bukan sekadar keputusan untuk menolak promosi.

Yang lebih menarik adalah alasan di balik keputusan tersebut.

Sebab mungkin saja yang berubah bukan ambisinya, melainkan cara seseorang mendefinisikan keberhasilan.

Ketika Promosi Justru Ditolak

Istilah conscious unbossing digunakan untuk menggambarkan pilihan pekerja yang secara sadar tidak mengejar posisi manajerial atau kepemimpinan formal, meskipun kesempatan untuk naik jabatan tersedia.

Dalam kasus yang menjadi viral tersebut, seorang pekerja bernama June disebut telah menolak promosi sebanyak tiga kali selama sekitar satu dekade bekerja. Ia bahkan pernah menerima posisi untuk memimpin sebuah pusat pelatihan, tetapi kemudian kembali ke posisi sebelumnya setelah dua minggu karena merasa tekanan dan tanggung jawab yang meningkat terlalu berat.

Keputusannya kemudian memunculkan perdebatan.

Ada yang melihatnya sebagai bentuk perubahan nilai dalam dunia kerja. Ada pula yang menganggapnya sebagai tanda bahwa generasi muda tidak lagi tertarik mengejar posisi tinggi.

Tetapi, menyimpulkan bahwa seseorang yang menolak promosi berarti tidak memiliki ambisi tentu terlalu sederhana.

kumparan post embed

Apakah Tidak Ingin Jadi Bos Berarti Tidak Ambisius?

Kita sering menggunakan jabatan sebagai ukuran sederhana untuk membaca keberhasilan seseorang.

"Sudah jadi manajer."

"Sudah punya banyak bawahan."

"Sudah menduduki posisi senior."

Seolah-olah semakin tinggi posisi seseorang dalam struktur organisasi, semakin sukses pula hidupnya.

Padahal, pekerjaan bukan hanya soal posisi dalam struktur organisasi.

Ada orang yang memperoleh kepuasan ketika memimpin tim, mengambil keputusan, dan mengembangkan orang lain. Bagi mereka, menjadi manajer memang merupakan tujuan karier yang penting.

Namun, ada pula orang yang lebih menikmati pekerjaannya sebagai spesialis. Mereka ingin memperdalam kompetensi, mengerjakan proyek yang menantang, menghasilkan karya, atau menjadi ahli di bidang tertentu tanpa harus bertanggung jawab atas sebuah tim.

Keduanya sama-sama dapat menunjukkan ambisi.

Bedanya, ambisinya mengambil bentuk yang berbeda.

Penelitian mengenai pekerja Gen Z juga mulai membahas conscious unbossing sebagai bagian dari perubahan cara generasi tersebut memaknai otonomi, kepemimpinan, dan struktur kerja.

Karena itu, menolak promosi tidak otomatis berarti seseorang malas, tidak kompeten, atau tidak memiliki motivasi untuk berkembang.

Dalam beberapa kasus, keputusan tersebut justru merupakan pilihan sadar mengenai seperti apa pekerjaan dan kehidupan yang ingin dijalani.

Ketika Naik Jabatan Berarti Menambah "Harga" yang Harus Dibayar

Promosi memang dapat membawa sejumlah keuntungan: peningkatan pendapatan, status profesional, kewenangan yang lebih besar, serta kesempatan mengambil keputusan strategis.

Tetapi promosi juga datang bersama konsekuensi.

Tanggung jawab bertambah. Target meningkat. Konflik tim harus diselesaikan. Keputusan yang sebelumnya hanya menyangkut diri sendiri dapat berubah menjadi keputusan yang memengaruhi banyak orang.

Di posisi manajerial, seseorang bahkan sering berada di tengah-tengah tuntutan organisasi dan kebutuhan anggota tim.

Karena itu, pertanyaan yang rasional bukan hanya:

"Berapa besar kenaikan gajinya?"

Tetapi juga:

"Apa yang harus saya korbankan untuk mendapatkan posisi tersebut?"

Waktu, energi, fleksibilitas, kehidupan keluarga, bahkan ruang untuk menjalani kehidupan personal merupakan bagian dari perhitungan yang tidak selalu terlihat dalam angka gaji.

Ketika seseorang mulai menghitung semua itu, keputusan untuk menerima promosi menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar memilih antara "maju" atau "tidak maju".

kumparan post embed

Generasi Muda dan Definisi Sukses yang Mulai Bergeser

Perbincangan mengenai conscious unbossing menunjukkan adanya perhatian yang semakin besar terhadap perubahan cara sebagian pekerja muda melihat karier. Sejumlah laporan mengaitkannya dengan preferensi terhadap keahlian, fleksibilitas, otonomi, dan keseimbangan kehidupan kerja, meskipun tentu tidak semua pekerja Gen Z memiliki pandangan yang sama.

Karena itu, penting untuk tidak menyederhanakannya menjadi kalimat, "Gen Z tidak mau bekerja keras."

Itu terlalu mudah.

Pekerja muda tetap dapat memiliki target karier yang tinggi. Mereka tetap ingin mendapatkan penghasilan yang baik, berkembang secara profesional, memperoleh pengakuan, dan menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Yang mungkin berubah adalah pertanyaan yang mereka ajukan sebelum menerima sebuah kesempatan.

Dulu:

"Apakah posisi ini membuat saya naik?"

Sekarang, sebagian pekerja mungkin bertanya:

"Apakah posisi ini membuat saya berkembang?"

Dan satu pertanyaan tambahan:

"Apakah kehidupan saya masih saya miliki setelah menerima posisi ini?"

Perubahan pertanyaan tersebut penting karena karier pada akhirnya bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Karier adalah bagian dari kehidupan seseorang.

Dulu Mengejar Jabatan, Kini Mengejar Kehidupan: Fenomena Conscious Unbossing. Sumber : https://www.magnific.com/

Tidak Semua Pertumbuhan Harus Vertikal

Salah satu persoalan dalam sistem karier tradisional adalah kecenderungan menganggap perkembangan sebagai sesuatu yang harus bergerak secara vertikal.

Staf → supervisor → manajer → senior manager → direktur.

Jalur tersebut tentu valid bagi orang yang menginginkannya.

Tetapi bagaimana dengan orang yang ingin menjadi ahli?

Bagaimana dengan seseorang yang ingin tetap menjadi individual contributor tetapi memiliki kompetensi yang semakin tinggi?

Bagaimana dengan pekerja yang ingin memimpin proyek tanpa harus menjadi atasan?

Di sinilah organisasi perlu mulai melihat bahwa pertumbuhan karier tidak selalu harus berbentuk promosi jabatan.

Seseorang dapat berkembang melalui proyek yang lebih kompleks, peningkatan keahlian, sertifikasi, mentoring, penelitian, inovasi, atau kontribusi yang semakin besar terhadap organisasi.

Bahkan, seseorang dapat memiliki pengaruh besar tanpa memiliki banyak bawahan.

Mungkin yang Perlu Diubah Bukan Pekerjanya, tetapi Tangga Kariernya

Jika semakin banyak pekerja mempertimbangkan ulang posisi manajerial, organisasi sebaiknya tidak buru-buru menyimpulkan bahwa generasi muda kehilangan ambisi.

Justru organisasi dapat menggunakan fenomena ini untuk mengevaluasi kembali sistem kariernya.

Apakah satu-satunya cara mendapatkan kenaikan kompensasi adalah dengan menjadi manajer?

Apakah pekerja harus menjadi atasan untuk mendapatkan pengakuan?

Apakah seorang spesialis yang sangat kompeten memiliki kesempatan berkembang tanpa harus masuk ke jalur manajerial?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena organisasi membutuhkan bukan hanya manajer, tetapi juga orang-orang yang memiliki keahlian mendalam.

kumparan post embed

Sistem karier yang hanya menyediakan satu jalan menuju keberhasilan dapat membuat organisasi kehilangan talenta yang sebenarnya masih ingin berkembang, tetapi tidak ingin mengambil jalur kepemimpinan formal.

Kepemimpinan Tidak Selalu Harus Berupa Jabatan

Ada satu hal lain yang sering terlupakan: memimpin tidak selalu berarti menjadi bos.

Seseorang dapat menjadi tempat rekan kerja meminta saran tanpa memiliki jabatan manajerial.

Seorang ahli dapat menjadi rujukan tim tanpa memiliki banyak bawahan.

Seorang pekerja dapat memimpin sebuah proyek, mengembangkan sistem baru, membimbing junior, atau memengaruhi cara tim bekerja tanpa harus menduduki posisi formal sebagai atasan.

Dalam pengertian ini, kepemimpinan dapat dipahami bukan hanya sebagai posisi, tetapi juga sebagai kemampuan memberikan arah, mengambil tanggung jawab, dan menciptakan dampak.

Maka, mungkin persoalannya bukan bahwa anak muda tidak ingin memimpin.

Mungkin mereka hanya tidak ingin menganggap jabatan sebagai satu-satunya bentuk kepemimpinan.

Pada Akhirnya, Kita Sedang Mendefinisikan Ulang Arti "Berhasil"

Fenomena conscious unbossing menarik bukan karena semua orang tiba-tiba tidak ingin menjadi bos.

Tidak sesederhana itu.

Yang lebih menarik adalah munculnya ruang bagi pertanyaan yang selama ini jarang kita ajukan:

Untuk apa sebenarnya kita bekerja?

Apakah untuk mendapatkan jabatan setinggi mungkin?

Untuk mendapatkan penghasilan sebanyak mungkin?

Untuk mendapatkan pengakuan?

Atau untuk membangun kehidupan yang juga kita anggap bermakna?

Jawabannya tentu berbeda bagi setiap orang.

Bagi sebagian orang, menjadi direktur mungkin merupakan pencapaian yang sangat berarti. Bagi orang lain, menjadi spesialis yang ahli di bidangnya mungkin jauh lebih memuaskan. Ada pula yang menginginkan karier yang baik sambil tetap memiliki waktu untuk keluarga, teman, perjalanan, atau kehidupan personal.

Tidak ada satu definisi kesuksesan yang berlaku untuk semua orang.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti mengukur keberhasilan seseorang hanya dari seberapa tinggi ia menaiki tangga karier.

Sebab bisa jadi, bagi sebagian orang, keberhasilan bukan tentang mencapai anak tangga paling atas.

Melainkan tentang memastikan bahwa ketika sampai di sana, ia masih menyukai kehidupan yang sedang dijalaninya.