Konten dari Pengguna

Lingkaran Setan "Produk Digital": Ilusi Kaya Instan yang Menjebak Remaja?

Fattah Zakaria

Fattah Zakaria

Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fattah Zakaria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siklus “produk digital” di media sosial, di mana pengguna beralih dari pembeli menjadi penjual dalam pola yang terus berulang. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI (GPT Image Generator), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siklus “produk digital” di media sosial, di mana pengguna beralih dari pembeli menjadi penjual dalam pola yang terus berulang. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI (GPT Image Generator), 2026.

Dalam beberapa waktu terakhir lalu, media sosial khususnya diramaikan oleh tren konten yang mempromosikan penghasilan dari produk digital. Banyak kreator membuat video yang menampilkan narasi seperti “1 juta pertama di usia 16 tahun”, “penghasilan dari kamar hanya dengan HP”, atau “cara dapat uang dari produk digital tanpa modal”. Konten-konten tersebut menggambarkan bisnis digital sebagai sesuatu yang sangat mudah dilakukan, bahkan tanpa memerlukan pengalaman, keterampilan khusus, atau modal besar. Narasi inilah yang kemudian menarik perhatian banyak pengguna, terutama remaja dan anak usia belasan tahun.

Pada awalnya, tren ini sebenarnya lebih banyak ditujukan kepada kalangan dewasa atau mereka yang sedang mencari penghasilan tambahan. Banyak konten yang menggunakan cerita seperti “saya sudah lama menganggur tetapi akhirnya bisa menghasilkan uang dari produk digital”. Namun seiring waktu, tren tersebut menyebar luas karena algoritma media sosial yang merekomendasikan konten berdasarkan minat pengguna, bukan berdasarkan usia. Akibatnya, konten tentang penghasilan digital juga dikonsumsi oleh remaja bahkan anak sekolah yang kemudian tertarik untuk mencoba hal yang sama.

Dalam praktiknya, bisnis produk digital yang dipromosikan di media sosial sering kali mengikuti pola yang berulang. Seorang kreator menjual sebuah produk digital, biasanya berupa e-book, template desain, atau panduan bisnis digital. Setelah membeli produk tersebut, pembeli kemudian membuat konten yang sama tentang cara menghasilkan uang dari produk digital dan menjual kembali produk yang serupa kepada orang lain. Siklus ini terus berulang sehingga pembeli akhirnya menjadi penjual baru. Dengan kata lain, pasar produk digital tersebut sering kali hanya diisi oleh orang-orang yang ingin menjual produk digital lagi, bukan oleh konsumen yang benar-benar membutuhkan produknya.

Fenomena ini kemudian dianggap oleh sebagian orang sebagai semacam “lingkaran setan” dalam ekonomi digital. Produk yang dijual bukanlah inovasi baru, melainkan template yang sama yang berputar dari satu kreator ke kreator lainnya. Bahkan dalam banyak kasus, jika seseorang membeli e-book dari beberapa kreator berbeda, isi materi yang diberikan ternyata hampir identik. Hal ini terjadi karena banyak produk digital tersebut berasal dari template yang sama atau dari sumber yang serupa.

Selain itu, muncul pula fenomena penggunaan kecerdasan buatan untuk menghasilkan isi produk digital secara cepat. Banyak e-book dibuat hanya dengan memanfaatkan hasil generate AI tanpa penyuntingan atau pengembangan lebih lanjut. Secara teknis penggunaan AI tidak selalu bermasalah, namun persoalan muncul ketika produk tersebut dijual seolah-olah sebagai karya original atau panduan eksklusif. Dalam kondisi seperti ini, nilai kreatif dari produk digital menjadi sangat rendah karena tidak ada kontribusi pemikiran atau pengalaman nyata dari pembuatnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan bisnis digital yang benar-benar berbasis karya dan keterampilan. Produk digital yang memiliki nilai biasanya berasal dari pengalaman, pengetahuan, atau kemampuan tertentu. Contohnya adalah e-book yang ditulis berdasarkan riset dan pengalaman pribadi, modul pembelajaran yang disusun secara sistematis, atau jasa digital seperti desain grafis, pembuatan website, voice over, penulisan konten, ilustrasi, dan editing video. Dalam model ini, yang dijual bukan sekadar file digital, melainkan keahlian dan kreativitas seseorang.

Ilustrasi maraknya tren “produk digital instan” di media sosial yang menjanjikan penghasilan cepat, namun sering kali menimbulkan tekanan dan kebingungan bagi generasi muda. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI (GPT Image Generator), 2026.

Reaksi dari kreator lain terhadap fenomena ini cukup beragam. Sebagian kreator mencoba memberikan edukasi dengan menjelaskan bahwa bisnis digital tetap membutuhkan proses, keterampilan, dan konsistensi. Mereka menekankan bahwa tidak semua orang dapat dengan mudah mendapatkan penghasilan besar hanya dengan menjual template. Namun di sisi lain, ada juga kreator yang menanggapi tren ini dengan cara menyindir atau membuat konten parodi. Dalam beberapa kasus, kritik tersebut bahkan berubah menjadi bentuk perundungan digital atau cyberbullying, terutama ketika diarahkan kepada kreator muda yang ikut tren tersebut.

Akibat tekanan komentar negatif dan kritik yang terus muncul, beberapa kreator yang sebelumnya mempromosikan produk digital akhirnya mengambil langkah untuk melindungi diri di media sosial. Ada yang mengunci akun mereka menjadi private, menonaktifkan kolom komentar, menghapus konten lama, bahkan berhenti membuat konten tentang produk digital. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika media sosial dapat berubah dengan sangat cepat, dari tren yang dianggap menjanjikan menjadi bahan kritik dan ejekan publik.

Secara lebih luas, fenomena ini menggambarkan bagaimana budaya internet bekerja dalam beberapa tahap. Pertama, sebuah tren muncul dan menarik perhatian publik. Kedua, banyak orang ikut terlibat karena rasa takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out). Ketiga, publik mulai menyadari kejanggalan dalam tren tersebut. Keempat, muncul kritik, satire, dan meme sebagai bentuk respons sosial. Pada tahap terakhir, tren tersebut biasanya mulai kehilangan popularitas atau legitimasi.

Dengan demikian, fenomena “produk digidaw” bukan hanya sekadar tren hiburan di media sosial, tetapi juga mencerminkan dinamika ekonomi digital dan budaya internet masa kini. Di satu sisi, media sosial memang membuka peluang baru bagi siapa saja untuk berkarya dan menghasilkan uang dari internet. Namun di sisi lain, tren yang terlalu menekankan narasi penghasilan instan tanpa proses sering kali menciptakan ilusi kesuksesan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial, terutama generasi muda, untuk memahami bahwa bisnis digital yang berkelanjutan tetap memerlukan kreativitas, keterampilan, dan usaha yang nyata.