Gerakan Biopori Mahasiswa KKN UMY Menghidupkan Sokawoya

Hi! Saya Fauzan Ramadan, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakata.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fauzan Ramadan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di halaman rumah warga Dukuh Sokawoya, Boyolali, beberapa mahasiswa KKN UMY tampak berjongkok menggali tanah. Lubang kecil itu mungkin terlihat sederhana, namun di sanalah harapan baru mulai ditanam. Sokawoya bukan desa yang asing dengan persoalan genangan air saat musim hujan dan penumpukan sampah organik di pekarangan. Kondisi tersebut menjadi kegelisahan bersama, hingga akhirnya mahasiswa KKN UMY hadir membawa satu solusi sederhana namun berdampak. Bukan sekadar program kerja, melainkan gerakan lingkungan yang melibatkan warga untuk bersama-sama menjaga tanah, air, dan masa depan desa.

Di Dukuh Sokawoya, RT 6 dan RT 7, sampah daun kering dan sisa dapur kerap dibakar di pekarangan rumah. Asap yang mengepul sudah menjadi hal biasa, meski wilayah Boyolali memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga tanah dengan daya resap baik sangat dibutuhkan untuk mencegah genangan air.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN mengadakan sosialisasi tentang manfaat dan kegunaan biopori. Dengan pendekatan yang partisipatif, warga diajak memahami bahwa sampah organik tidak harus dimusnahkan, tetapi bisa dimanfaatkan kembali. Respons pun positif. “Pas banget RT kami ingin membuat hal yang serupa,” ujar salah satu warga RT 7.
Sebanyak 20 titik biopori kemudian dibuat di kedua RT dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan pengisi. Kini, yang sebelumnya dibakar perlahan berubah menjadi kompos alami yang membantu menyuburkan tanah. Dari langkah sederhana ini, tumbuh kesadaran bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari pekarangan rumah sendiri, bersama-sama dan secara berkelanjutan.
Dari lubang-lubang kecil itu, perubahan mulai tumbuh. Selain membantu meningkatkan daya resap tanah saat musim hujan, sampah organik yang terurai berpotensi menjadi kompos alami yang menyuburkan tanaman pekarangan. Lebih dari sekadar solusi teknis, biopori menjadi cara baru warga Sokawoya memandang sampah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai bagian dari siklus kehidupan yang bisa dikelola dengan bijak.Pada akhirnya, biopori di Dukuh Sokawoya bukan hanya tentang tanah yang dilubangi atau pipa yang ditanam. Ini tentang kebersamaan mahasiswa dan warga yang duduk di bawah terik matahari, saling belajar dan berbagi kepedulian. Dari percakapan sederhana di pekarangan rumah, tumbuh kesadaran bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari halaman sendiri.
Mungkin lubang-lubang itu kecil dan jumlahnya tidak banyak. Namun di sanalah harapan disemai. Harapan agar daun kering tak lagi dibakar, agar tanah semakin subur, dan agar anak-anak kelak tumbuh di lingkungan yang lebih sehat. Ketika masa KKN usai, semoga yang tertinggal bukan hanya bekas galian di tanah, tetapi juga semangat bersama untuk terus merawat Sokawoya dengan cara yang lebih bijak dan berkelanjutan.
