”Si Merah” Asli Hutan Papua: Harta Alam Indonesia Penangkal Kanker

Mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Fauzan Zachry Setiady tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Anda mendengar kata “Buah Merah”, apa yang terlintas di benak Anda? Apakah buah yang berwarna merah? Tepat sekali! Namun, apakah Anda tahu darimana asal buah merah? Anda mungkin berpikir buah tersebut adalah buah yang diimpor dari luar negeri, karena namanya yang asing sekali didengar oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Kenyataannya, buah merah merupakan tumbuhan endemik Indonesia yang hanya tumbuh di wilayah Papua, terutama di dataran tinggi Gunung Jayawijaya dan dapat juga dijumpai pada dataran rendah. Buah merah hanya dipanen selama dua kali dalam satu tahun. Nama tumbuhan buah merah berasal warna buahnya yang merah dan bentuknya yang khas (Wawo et al., 2019). Buah merah memiliki nama lokal yang biasa disebut oleh penduduk setempat sebagai buah tawi ataupun kuansu (Malik dan Romdon, 2022).
Penyakit kanker hingga saat ini masih menjadi permasalahan yang krusial di dunia kesehatan. Kanker merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia dan juga di dunia. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) terkait penyakit di dunia yang dapat menyebabkan kematian tertinggi, yaitu kanker yang berada di posisi kedua setelah penyakit kardiovaskular dan strok. Menurut Triansyah et al. (2023), kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena terjadinya pertumbuhan sel tubuh secara progresif dan abnormal. Pengobatan kanker dapat dilakukan dengan beberapa metode terapi, seperti kemoterapi, pembedahan, imunoterapi, dan terapi radiasi. Namun, metode terapi tersebut dapat menimbulkan efek samping bila dilakukan dalam jangka panjang. Nyatanya, pengobatan kanker tidak selalu harus diobati dengan metode tersebut, melainkan penyembuhan kanker juga dapat dilakukan dengan pengonsumsian obat-obatan herbal yang mengandung senyawa antikanker dan tentunya tidak memiliki efek samping dan terjamin keamanan obatnya karena berasal dari bahan alam.
Buah merah (Pandanus conoideus Lamk) merupakan tumbuhan langka yang hanya tumbuh di wilayah Papua. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Pandanaceae. Morfologi dari tumbuhan buah merah, yaitu: (1) pohonnya yang menyerupai pandan, (2) tinggi pohonnya dapat mencapai hingga 16 meter, (3) batangnya yang bercabang, tegak, bergetah, dan berwarna cokelat dengan bercak putih, (4) daunnya yang berbentuk lanset sungsang berwarna hijau tua dan berseling, (5) akar tanamannya yang berserabut dengan tipe perakaran dangkal, (6) buahnya yang panjang dan berbentuk silindris dengan ujungnya yang tumpul, serta warnanya yang merah marun terang, tetapi ada pula beberapa jenis buah merah yang berwarna cokelat hingga cokelat kekuningan (Fauzi, A., 2017). Bagian dari tumbuhan buah merah yang dapat digunakan sebagai obat herbal adalah buahnya karena mengandung senyawa antioksidan alami yang tinggi, seperti karotenoid, asam linoleat, asam oleat, asam kaprat, kalsium, protein, zat besi, vitamin, lipid, dan serat (Sirait et al., 2021). Kandungan senyawa alami pada buah merah ini memiliki efek farmakologi terhadap penghambatan pertumbuhan sel kanker dengan meningkatkan kadar antioksidan di dalam tubuh. Selain itu, kandungan pada buah merah berpotensi sebagai bahan baku obat herbal untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung iskemik, kencing manis, kolesterol, gout, osteoporosis, hipertensi, dan HIV/AIDS (Maran et al., 2022). Beragam manfaat dari senyawa alami yang terkandung pada buah merah ini, membuat masyarakat lokal di sana memanfaatkannya sebagai bahan dalam pembuatan obat-obatan herbal. Selain menjadi obat herbal, buah merah juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, pewarna merah alami, bahan kerajinan, dan keperluan dalam upacara adat (Zebua dan Walujo, 2016).
Senyawa Antikanker Pada Buah Merah
Buah merah (Pandanus conoideus Lamk) mengandung senyawa antikanker yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Kandungan senyawa karotenoid yang tinggi pada buah merah, seperti α-karoten, β-karoten, dan β-kriptosantin. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa tingginya kadar serum karoten dalam tubuh dapat menurunkan risiko penyakit kanker. Penyataan tersebut dikuatkan dengan pendapat menurut Purwaningsih et al. (2023), yang menyatakan bahwa senyawa fitonutrien yang terdapat pada buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian, seperti karotenoid dan polifenol berpotensi untuk menurunkan risiko penyakit kanker jika dikonsumsi secara rutin. Maka dari itu, kandungan senyawa karotenoid pada buah merah berperan sebagai agen kemopreventif dalam mencegah kanker. Selain itu, buah merah juga mengandung senyawa α-tokoferol yang memiliki peran penting dalam aktivitas antikanker (Indriatmoko dan Kumala, 2017).
Mekanisme Senyawa Antikanker Pada Buah Merah Dalam Menghambat Pertumbuhan Sel Kanker
Senyawa karotenoid pada buah merah yang mengandung β-karoten dapat menghasilkan antioksidan yang bekerja dengan menghambat kerusakan sel dan jaringan pada tubuh akibat stres oksidatif atau yang lebih kita kenal dengan radikal bebas. Penghambatan kerusakan sel ini dapat membuat radikal bebas di dalam tubuh dapat dinetralisir dan mencegah terjadinya transformasi sel normal menjadi kanker (Kondorik et al., 2017). Selain itu, β-karoten mengandung provitamin A yang ketika berinteraksi dengan protein di dalam tubuh dapat meningkatkan produksi antibodi, sehingga meningkatkan kadar limfosit T dan sel Natural Killer (sel NK) yang dapat mengenali dan melisis sel abnormal penyebab kanker. Sementara itu, pada senyawa α-tokoferol juga memiliki peran penting dalam menghambat pertumbuhan sel kanker, terutama kanker kulit. Vitamin E yang menghasilkan α-tokoferol bekerja dengan menghambat pertumbuhan melanoma dengan menimbulkan apoptosis sel tumor (Putri et al., 2024).
Buah merah (Pandanus conoideus Lamk) sebagai salah satu harta kekayaan flora Indonesia memiliki beragam manfaat, terutama sebagai bahan baku obat herbal. Sebagai obat herbal, buah merah berpotensi sebagai obat untuk penyakit kanker. Kandungan karotenoid dalam buah merah memiliki aktivitas antikanker dengan menghasilkan antioksidan yang menghambat radikal bebas. Selain itu, senyawa α-tokoferol yang dihasilkan buah merah dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, terutama terhadap kanker kulit. Oleh karena itu, pemanfaatan buah merah ini perlu digencarkan supaya masyarakat Indonesia semakin mengenal manfaatnya sebagai obat antikanker.
DAFTAR PUSTAKA
Fauzi, A. (2017). Aneka Tanaman Obat dan Khasiatnya. Jakarta: PT BUKU SERU.
Indriatmoko, D. D., & Kumala, S. (2017). Aktivitas Ekstrak Biji Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk) Terhadap Proliferasi Limfosit dan Sel Tumor Kelenjar Susu Mencit C3h Secara In Vitro. Jurnal Farmagazine, 4(2), 1-13.
Kondororik, F., Martosupono, M., & Susanto, A. B. (2017). Peranan β-karoten Dalam Sistem Imun Untuk Mencegah Kanker. Jurnal Biologi & Pembelajarannya, 4(1), 1-8.
Malik, A., & Romdon, A. S. (2022). Mengenal Pandan Buah Merah dan Manfaatnya. Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian, 8(1).
Maran, P., & Siburian, R. H. (2022). Morfologi dan Karakteristik Tempat Tumbuh Tanaman Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk) di Kampung Eroma Distrik Kurima Kabupaten Yahukimo. Cassowary, 5(2), 112-119.
Purwaningsih, D., Muhammad, A., & Marwati, M. (2023). Skrining Antikanker Ekstrak Buah Merah (Pandanus conoideus L.) Dengan Variasi Cairan Penyari Menggunakan Metode BSLT (Brine Shrimp Letality Test). Majalah Farmasi dan Farmakologi, 27(2), 39-42.
Putri, S. Y., Isadiartuti, D., Isnaeni, I., ..., & Rohma, U. A. (2024). The Effectiveness of Vitamin E Soft Capsules as an Antioxidant. Berkala Ilmiah Kimia Farmasi, 11(1), 5–11.
Sirait, M. S., Warsiki, E., & Setyaningsih, D. (2021). Potential of Red Fruit Oil (Pandanus conoideus Lamk) as an Antioxidant Active Packaging: A review. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 749, No. 1, p. 012008). IOP Publishing.
Triansyah, F. A., Wijaya, S. J., Melani, R., Jayanti, E. D., & Teapon, N. (2023). Bakti Sosial Untuk Meningkatkan Motivasi Pasien Penderita Kanker di Rumah Pejuang Kanker Ambu. Cakrawala: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global, 2(2), 101-109.
Wawo, A. H., Lestari, P., & Setyowati, N. (2019). Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk) Bioresources Pegunungan Tengah Papua: Keanekaragaman dan Upaya Konservasinya. Jurnal Biologi Indonesia, 15(1).
Zebua, L. I., & Walujo, E. B. (2016). Pengetahuan Tradisional Masyarakat Papua Dalam Mengenali, Mengklasifikasi, dan Memanfaatkan Pandan Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk). Jurnal Biologi Papua, 8(1), 23-37.
