Konten dari Pengguna

Ganja, Narkotika Penyebab Gangguan Tubuh dan Otak

Nia Febriana

Nia Febriana

Dokter gigi yg bekerja sebagai PNS di Deputi Bidang Rehabilitasi, Badan Narkotika Nasional.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Febriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar tanaman Cannabis atau ganja. Sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Gambar tanaman Cannabis atau ganja. Sumber: freepik.com

Jumat, 12 Juni 2021 lalu, seorang artis dengan inisial EAP tertangkap oleh aparat dan terbukti melalui tes urine, positif mengandung Delta-9-Tetrahydrocannabinol (THC). THC adalah zat yang terkandung dalam Cannabis sativa atau ganja. Ganja atau mariyuana merupakan zat narkotika yang secara undang-undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 masuk ke dalam Narkotika Golongan I, yaitu narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi ketergantungan. Ganja yang dimaksud adalah semua jenis tanaman cannabis, termasuk biji, buah, dan hasil olahan.

Cannabis merupakan zat yang berdasarkan efeknya masuk ke dalam golongan depresan atau downer. Disebut sebagai depresan karena dapat menekan sistem saraf, sehingga menurunkan aktivitas fungsional tubuh. Ganja menyebabkan penggunanya menjadi lebih tenang dan dapat tertidur. Selain itu, zat tetrahirolkanabinol dan Cannabidiol (CBD) yang terkandung dalam ganja, menimbulkan perasaan euphoria pada pemakainya. Pada umumnya ganja digunakan dengan cara dihisap seperti rokok.

Manfaat vs dampak

Dengan tertangkapnya EAP ini, maka semakin panjang daftar artis yang kedapatan mengkonsumsi narkoba. Diakui oleh yang bersangkutan bahwa dengan menggunakan ganja dapat membuatnya rileks dan lebih produktif. Namun, apakah memang benar demikian efek dari penggunaan ganja? Bagaimana dengan efek negatif yang ditimbulkan? Apakah ada manfaatnya bagi kesehatan seperti yang digaungkan oleh kelompok pendukung legalitas ganja?

Terlepas dari kontroversi wacana legalisasi ganja di tanah air, bahwa ganja merupakan jenis tanaman yang tersebar di berbagai negara di dunia, terutama pada negara tropis dan subtropis. Banyak istilah yang digunakan untuk ganja, seperti cannabis, cimeng, hasis, mariyuana, gelek, rasta, pot, weed, dan masih banyak lagi.

Pada beberapa negara, ganja dilegalkan sebagai tanaman medis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dapat menyembuhkan beberapa penyakit, seperti glaukoma, Alzheimer, fibromyalgia, kanker, HIV/AIDS dan beberapa penyakit lainnya.

Di Belanda, ganja tersedia sebagai obat resmi di apotek. Obat ini biasanya diresepkan untuk pasien Sindrom Tourette, nyeri kronis, sklerosis ganda, kerusakan sumsum tulang belakang, orang yang menjalani perawatan kanker dan HIV/AIDS.

Ada pula beberapa negara bagian Amerika Serikat, yang melegalkan ganja untuk kepentingan medis. Seperti California, yang sejak tahun 1996 melegalkan ganja untuk pengobatan. Penyakit atau gejala yang diperbolehkan menggunakan ganja pada negara bagian ini antara lain AIDS, anoreksia, arthritis, cancer, glaukoma, cachexia, migrain dan beberapa penyakit kronis lainnya.

Namun dibalik efek pengobatan dari ganja, maka perlu juga diketahui dampak buruk penggunaan ganja untuk dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penggunaannya. NIDA (2018) mencatat bahwa sebanyak 11,8 juta dewasa muda mengkonsumsi ganja. Dan ganja banyak disalahgunakan secara luas karena relatif mudah didapatkan dan lebih murah.

Gangguan pada otak

Ganja sangat mempengaruhi sistem saraf pusat. Penggunaan ganja dapat meningkatkan nafsu makan, perasaan gembira, kemampuan untuk mendengar, melihat, mencium, mengecap, dan merasa.

Pada efek jangka pendeknya, ganja dapat menyebabkan mudah lupa, kesulitan konsentrasi, kelelahan, kebingungan yang mengarah pada gangguan kecemasan, ketakutan, dan respons yang lambat terhadap suatu aksi. Ganja bahkan dapat menyebabkan paranoid, delusi dan halusinasi. Hal ini menyebabkan pengguna ganja berbahaya jika mengendarai kendaraan bermotor atau mengoperasikan suatu mesin.

Penggunaan ganja jangka panjang akan mengakibatkan penurunan yang signifikan dalam konsentrasi, daya ingat, kesulitan dalam mengambil keputusan dan dapat menurunkan IQ secara permanen.

Ganja terbukti dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental. THC menyebabkan munculnya gejala gangguan mental psikosis dan neurokognitif. Gangguan neurokognitif inilah yang menyebabkan menurunnya kemampuan daya ingat, konsentrasi, persepsi, bahasa dan kognisi sosial.

Selain itu, ganja dapat menyebabkan perubahan kepadatan otak pada lobus frontal sehingga otak rusak secara permanen. Penggunaan ganja pada masa kehamilan dapat meningkatkan terjadinya psikosis pada bayi yang dikandungnya kelak.

Penggunaan ganja juga meningkatkan risiko terjadinya skizofrenia dan depresi. Dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap kejadian putus sekolah dan pengangguran. Ganja juga terbukti memperparah kondisi gangguan bipolar seseorang.

Gangguan pada tubuh

Efek jangka pendek ganja pada tubuh penggunanya dapat berupa kerusakan pembuluh darah, penurunan tekanan darah dan meningkatkan denyut jantung. Hal ini menyebabkan penggunanya menjadi pingsan bahkan dapat terjadi serangan jantung.

Jika penggunaan ganja terus menerus dilakukan dalam waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit pada paru-paru, seperti bronkitis, infeksi paru, batuk kronis, dan adanya lendir dalam tenggorokan.

Ganja mempunyai sifat adiktif sehingga dapat menyebabkan adiksi atau ketergantungan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ganja mempengaruhi hormon testosteron sehingga dapat mengurangi jumlah sperma, menurunnya vitalitas pria atau bisa juga mandul.

Mengingat dampak buruk yang besar baik bagi kesehatan mental dan fisik, maka perlu dipertimbangkan secara bijaksana dalam penggunaan ganja tersebut, sekalipun itu dalam bidang medis. Jika seseorang kedapatan mengalami ketergantungan terhadap ganja, maka harus segera mencari bantuan melalui rehabilitasi ketergantungan narkoba, untuk menghentikan ketergantungannya dan untuk mencegah dampak buruk lebih lanjut bagi kesehatan.