Konten dari Pengguna

Manusia Tidak Haus Validasi, Manusia Cuma Butuh Ruang

Febrina lintang Cahyani

Febrina lintang Cahyani

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Febrina lintang Cahyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT (OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT (OpenAI), 2026.

Istilah "pick me" sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di sosial media. Istilah ini biasanya ditujukan kepada seseorang yang dianggap berusaha menarik perhatian orang lain atau mencari validasi dengan menjatuhkan keberadaan orang lain. Namun, seiring berkembangnya era digital, penggunaan istilah "pick me" menjadi semakin sering digunakan tanpa mempertimbangkan makna sebenarnya. Akibatnya, seseorang yang sekadar menceritakan pengalaman, mengungkapkan perasaan, atau membagikan pencapaiannya dapat dengan mudah memperoleh label tersebut.

Menurut saya, fenomena ini menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan cara manusia memandang dirinya sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Fenomena humaniora ini juga mempelajari manusia sebagai makhluk yang memiliki pengalaman, emosi, nilai, dan kebutuhan sosial. Salah satu kebutuhan sosial yang dimiliki manusia adalah kebutuhan untuk diakui dan dipahami. Kebutuhan tersebut bukanlah suatu bentuk kelemahan, melainkan bagian dari kodrat manusia sebagai makhluk sosial.

Setiap orang memiliki keinginan untuk berbagi cerita. Ada yang menceritakan kesedihannya untuk memperoleh dukungan dan kata semangat, ada yang membagikan keberhasilannya sebagai bentuk rasa bangga dan syukur, dan ada pula yang ingin menyampaikan pengalaman hidup yang dianggap bermakna. Namun, ketika masyarakat terlalu mudah memberikan label "pick me", ruang bagi seseorang untuk mengekspresikan dirinya menjadi semakin sempit. Banyak orang akhirnya merasa takut untuk berbicara karena khawatir dianggap mencari perhatian atau haus validasi.

Masalah utama bukan terletak pada keinginan seseorang untuk didengar, melainkan pada respon masyarakat yang sering menilai seseorang tanpa memahami latar belakang suatu perilaku dan peristiwa. Tidak semua orang yang membicarakan dirinya sendiri sedang berusaha menjadi pusat perhatian. Dalam banyak kasus, seseorang hanya ingin berbagi pengalaman atau mencari rasa aman dari orang lain. Sayangnya, sosial media sering kali membuat penilaian dilakukan secara cepat tanpa adanya kesempatan untuk memahami konteks yang lebih luas.

Setiap orang punya pengalaman hidup yang berbeda. Apa yang terlihat sebagai tindakan mencari perhatian bagi satu orang, bisa jadi merupakan bentuk kebutuhan emosional yang wajar bagi orang lain. Oleh karena itu, pemahaman terhadap manusia tidak dapat dilakukan hanya melalui asumsi atau potongan informasi yang terbatas tanpa penelusuran lebih jauh.

Penggunaan label "pick me" secara berlebihan justru berpotensi menciptakan lingkungan sosial yang toxic. Ketika seseorang merasa terus-menerus dihakimi, ia akan lebih memilih menyembunyikan perasaan, pencapaian, maupun kesulitannya. Karena hal itu, komunikasi menjadi kurang efektif, hubungan sosial kehilangan unsur empati dan kebebasan berekspresi dalam kehidupan masyarakat juga akan mati.

Fenomena "pick me" menunjukkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pengakuan, tetapi juga membutuhkan pemahaman dari sesamanya. Oleh karena itu, daripada melakukan judge kepada orang lain, masyarakat sebaiknya bersikap lebih bijaksana, dan empatik. Dengan begitu, lingkungan sosial dapat menjadi tempat yang lebih manusiawi bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya tanpa rasa takut akan penilaian yang berlebihan.