Konten dari Pengguna

Jejak Lama di Jalur Baru QRIS di Tiongkok

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fetria Isai Saman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

April 2026 menjadi awal dimulainya babak baru sistem pembayaran Indonesia. Peluncuran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Tiongkok bukan sekadar ekspansi sistem pembayaran digital. Ia adalah simbol yang lebih dalam, sebuah jembatan baru yang dibangun di atas fondasi relasi panjang antara Indonesia dan Tiongkok. Relasi yang, jika ditarik jauh ke belakang, menghadirkan gema kisah-kisah klasik yang sering kita saksikan dalam film-film Tiongkok berlatar sejarah lampau.

Dalam film-film Tiongkok kuno, kita kerap menemukan adegan rombongan pedagang yang melintasi gurun atau lautan, membawa sutra, rempah, dan keramik dari satu negeri ke negeri lain. Pertukaran barang itu bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan juga pertukaran budaya, nilai, dan kepercayaan. Di banyak adegan, interaksi antara pedagang asing dan penduduk lokal digambarkan penuh kehati-hatian, namun perlahan tumbuh menjadi hubungan saling percaya.

Sumber: website bi.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: website bi.go.id

QRIS yang kini menembus pasar Tiongkok bisa dilihat sebagai versi modern dari perjalanan para pedagang itu. Bedanya, yang “dipertukarkan” bukan lagi sutra atau keramik, melainkan kemudahan transaksi, kepercayaan sistem, dan standarisasi teknologi. Wisatawan Indonesia di Tiongkok, atau sebaliknya, kini tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar cukup dengan satu kode QR, transaksi lintas negara menjadi secepat adegan “pertukaran koin” yang sering digambarkan dalam film klasik, namun dengan efisiensi yang jauh lebih tinggi.

Hubungan Indonesia dan Tiongkok ini bukanlah hubungan kerjasama baru. Jauh sebelum ini, kedua negara sudah saling mengenal satu sama lain. Hubungan baik yang dimiliki ini ditegaskan melalui hubungan diplomatik yang tidak putus, pertukaran pelajar, pertukaran barang dan komoditas serta pertukaran budaya yang saling mengadaptasi.

Yang menarik, dalam banyak film sejarah Tiongkok, hubungan antara kerajaan dengan wilayah Nusantara kerap disiratkan melalui jalur perdagangan maritim. Film-film berlatar Dinasti Tang atau Ming sering menggambarkan kapal-kapal besar yang berlabuh di pelabuhan asing, termasuk wilayah Asia Tenggara. Dalam konteks ini, Indonesia bukanlah entitas baru dalam jaringan ekonomi Tiongkok melainkan mitra lama yang kini kembali bertemu dalam bentuk yang berbeda.

Peluncuran QRIS di Tiongkok juga mencerminkan evolusi “bahasa perdagangan.” Jika dahulu bahasa yang digunakan adalah barter atau mata uang logam, kini bahasa itu berubah menjadi kode digital. Namun esensinya tetap sama: membangun kepercayaan. Dalam film-film silat klasik, kepercayaan sering diuji melalui sumpah, simbol, atau benda tertentu. Hari ini, kepercayaan itu diwujudkan dalam sistem keamanan digital, interoperabilitas, dan regulasi yang disepakati bersama antarnegara.

Jika kita kembali ke jaman awal munculnya drama china dilayar televisi sebelum munculnya tren dracin saat ini, tentunya kita familiar dengan drama berjudul Kembalinya Pendekar Rajawali. Hubungan simbolis yang paling diingat adalah hubungan antara Yoko dan Rajawali Besar. Sebuah ikatan yang melampaui kata-kata, dibangun atas saling pengertian dan kesetiaan. Ini dapat dianalogikan sebagai hubungan antar sistem pembayaran lintas negara. Tidak cukup hanya dengan teknologi yang canggih, tetapi juga membutuhkan “keselarasan” (interoperability), saling pengakuan, dan komitmen untuk menjaga stabilitas bersama.

Menariknya, dalam Kembalinya Pendekar Rajawali, dunia persilatan pada akhirnya menyadari bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari teknik yang diwariskan, tetapi dari kemampuan beradaptasi dan menciptakan jalur baru disitu para ahli persilatan mulai mengaku sang pendekar rajawali yaitu Yoko. QRIS mencerminkan hal yang sama, ia bukan sekadar meniru sistem yang sudah ada, tetapi menghadirkan pendekatan standar nasional yang fleksibel dan dapat diintegrasikan secara global.

Dengan demikian, seperti perjalanan Yoko yang akhirnya diterima sebagai pendekar besar setelah melalui berbagai ujian, QRIS di Tiongkok dapat dipandang sebagai hasil dari proses panjang membangun kepercayaan. Ia bukan sekadar alat pembayaran, melainkan simbol bahwa Indonesia mampu hadir sebagai mitra yang setara, yang kehadirannya diakui karena kualitas dan konsistensinya, bukan sekadar posisi.

Bagi Indonesia, langkah ini juga memiliki makna strategis. Ini bukan sekadar mengikuti arus digitalisasi, tetapi juga menunjukkan kesiapan untuk berdiri sejajar dalam ekosistem pembayaran global. Dalam analogi film klasik, Indonesia bukan lagi sekadar “pelabuhan persinggahan,” tetapi sudah menjadi pemain aktif dalam jaringan perdagangan yang kompleks.

Namun seperti dalam banyak film Tiongkok kuno, setiap kerja sama selalu diiringi dengan tantangan. Ada dinamika kepentingan, ada perbedaan sistem, dan ada kebutuhan untuk terus menjaga keseimbangan. Justru di sinilah kekuatan hubungan Indonesia-Tiongkok diuji, apakah mampu bertransformasi dari hubungan historis menjadi kemitraan strategis yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, QRIS di Tiongkok adalah lebih dari sekadar inovasi finansial. Ia adalah kelanjutan cerita panjang dua bangsa yang telah lama saling mengenal. Jika dulu kisah itu dituturkan melalui layar lebar dengan pedagang, kapal, dan pasar tradisional, maka kini kisah yang sama ditulis ulang dalam bentuk kode QR, aplikasi digital, dan jaringan pembayaran global.

Seperti adegan penutup dalam film klasik, di mana dua tokoh dari negeri berbeda saling berpamitan dengan harapan akan bertemu kembali, peluncuran QRIS ini bisa dilihat sebagai awal babak baru bukan perpisahan, melainkan pertemuan ulang dalam bentuk yang lebih modern, lebih cepat, dan lebih terhubung.