Konten dari Pengguna

Mencetak Pemain Digital Indonesia, Inovasi Menuju Generasi Emas 2045

Fetria Isai Saman

Fetria Isai Saman

Staf Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalteng

·waktu baca 5 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fetria Isai Saman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi investasi.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi. Foto: Shutterstock

Tahun 2045 Indonesia akan mengalami lonjakan penduduk usia produktif yaitu Bonus Demografi. Masa itu akan dipersiapkan sejak saat ini dan semua arah kebijakan akan menuju tahun yang disebut Indonesia Emas 2045. Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, salah satu tantangan terbesar bangsa adalah menyiapkan generasi muda yang bukan hanya cakap secara akademis, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi, inovatif dalam berpikir, dan kompetitif di tingkat global.

Baru-baru ini, tepat di bulan Februari 2026 muncul berita yang menggaungkan sebuah program yaitu PIDI, Pusat Inovasi Digital Indonesia. PIDI yang digagas oleh Bank Indonesia ini bukan sekadar program pelatihan digital atau arena kompetisi teknologi. Ia adalah sebuah ekosistem inovasi nasional yang dirancang sebagai policy enabler, menjembatani kebijakan publik dengan kebutuhan industri, sekaligus membangun jalur talenta digital yang berkelanjutan. Bank Indonesia menempatkannya dalam kerangka besar transformasi ekonomi dan keuangan digital, sejalan dengan visi 2045 yang memimpikan Indonesia sebagai negara maju berbasis inovasi. (bi.go.id). Sasarannya? Generasi muda yang akan menjadi pemain dalam Indonesia Emas 2045.

Sumber: Siaran Pers No.28/49/DKom bi.go.id

Lantas, apa urgensi bank sentral di Indonesia ini meluncurkan PIDI di Tengah ketidakpastian global ini? Salah satu inti pemikiran menuju Generasi Emas 2045 adalah keyakinan bahwa masa depan ekonomi Indonesia akan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya khususnya generasi muda.

Ketika Bank Indonesia meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), banyak yang melihatnya sebagai program kompetisi dan pelatihan digital. Namun sesungguhnya, PIDI adalah respons terhadap perubahan zaman sebuah era ketika teknologi bukan lagi alat tambahan, tetapi fondasi kehidupan sosial dan ekonomi. Generasi yang disasar PIDI adalah generasi yang hidup dalam persimpangan transformasi besar: antara dunia analog orang tuanya dan dunia digital yang semakin otonom yang mereka masuki. Tidak ada lagi ketakutan terhadap perkembangan digital di mana “katanya” tugas manusia akan digantikan oleh robot. Karena di masa depan kita akan hidup berdampingan dengan teknologi dan menguasainya untuk mempermudah hidup kita sehari-hari.

Melalui program DIGDAYA, PIDI menyediakan pelatihan terstruktur dan sertifikasi yang dirancang untuk membentuk talenta yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan solusi digital dan bahkan membangun startup baru. Program Hackathon yang menjadi bagian inti PIDI bukan hanya kompetisi ide. Ia adalah ruang eksperimen kolaboratif yang mempertemukan talenta muda, industri, regulator, dan investor untuk menguji prototipe nyata berbasis kebutuhan industri. Pendekatan ini penting bagi generasi 2045 yang harus bermental problem solver dan tidak sekadar job seeker.

Jika kita melihat peta ekonomi digital Indonesia saat ini, fakta menarik yang menunjukkan relevansi PIDI adalah peningkatan pembayaran non tunai QRIS maupun BIFAST yang digemari oleh generasi muda yang saat ini didominasi oleh GenZ. Data menunjukkan akselerasi luar biasa dalam adopsi teknologi pembayaran digital.

Namun, di tengah pertumbuhan tersebut terdapat kebutuhan besar yaitu talenta digital berkualitas dalam jumlah besar. Generasi Emas 2045 adalah gambaran Indonesia sebagai negara maju yang bertumpu pada inovasi, teknologi, dan sumber daya manusia unggul. Bonus demografi tidak cukup tanpa kompetensi digital. Tahun 2045 bukan hanya tentang jumlah penduduk usia produktif, tetapi tentang kemampuan mereka menguasai teknologi. Tanpa kemampuan tersebut, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban. Oleh sebab itu penting untuk membekali dan membimbing generasi ini sejak dini untuk menguasai teknologi yang akan menjadi masa depan saat itu.

Dunia kerja masa depan menuntut skill yang fleksibel. Automasi, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital menuntut SDM yang cepat beradaptasi. Dengan banyak talenta yang mampu menciptakan solusi digital, Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar teknologi global, tetapi produsen inovasi.

Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, PIDI bukan hanya program, tetapi simbol optimisme baru. Ia menunjukkan bahwa negara hadir bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai enabler inovasi yang membuka jalan bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam pembangunan nasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa “transformasi digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang kesiapan manusia untuk menerjemahkan ide menjadi solusi.” Jika kita berhasil membangun ekosistem talenta digital yang inklusif, kuat, dan berkelanjutan, maka generasi yang tumbuh bersama PIDI hari ini bisa menjadi pelopor inovasi yang membawa Indonesia menuju puncak kejayaan ekonominya pada 2045.

Generasi yang disasar adalah generasi yang hidup dalam kenyataan di mana pekerjaan tradisional mulai menghilang, teknologi otomatisasi menjadi standar, dan kreativitas manusia menjadi satu-satunya keunggulan kompetitif yang tidak bisa digantikan.

GenZ Adalah generasi DIY. Mereka tidak lagi belajar dari buku saja, tetapi dari platform digital, video singkat, forum global, hingga eksperimen cepat. PIDI menjawab pola belajar baru ini melalui pelatihan berbasis self paced, ruang eksperimen, kesempatan menguji prototipe dalam dunia nyata. Model seperti ini sejalan dengan zaman yang menuntut proses belajar yang interaktif, cepat, dan relevan. Inilah bentuk pendidikan baru yang sesuai dengan ritme kehidupan digital yang serba real-time. Di sinilah peran Bank Indonesia hadir untuk memfasilitasi dan memberikan ruang bagi mereka untuk bertumbuh.

Jika masa lalu menilai kesuksesan dari kompetisi, generasi masa kini bergerak dalam dunia kolaborasi: antartalenta, industri, regulator, hingga investor. Saat ini ekosistem yang dikembangkan adalah yang mempertemukan semua pihak dalam satu ruang inovasi terintegrasi. Inilah bentuk adaptasi terhadap zaman ketika kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci lahirnya solusi digital berskala besar.

Generasi modern tidak bisa disiapkan dengan pendekatan lama. Mereka membutuhkan ekosistem belajar yang cepat, fleksibel, kolaboratif, dan terhubung dengan industri. Zaman bergerak cepat, dan generasi pun harus bergerak bersama. Inilah alasan mengapa dibutuhkan suatu arah kebijakan yang tidak hanya mendidik, tetapi membangunkan generasi muda. Agar mereka tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi menciptakan masa depan itu sendiri.