Konten dari Pengguna

Bahasa 'Anak Jaksel': Antara Fenomena Campur Kode dan Stigma Masyarakat

Fickyh Verdhyawan Santoso

Fickyh Verdhyawan Santoso

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang Suka musik dan bercita-cita menjadi musisi tapi tidak bisa main alat musik dan suara saya jelek

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fickyh Verdhyawan Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bahasa obrolan 'anak Jaksel' dan bahasa yang sering digunakan dalam fenomena bahasa 'anak Jaksel' (freepik.com/@rawpixel.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bahasa obrolan 'anak Jaksel' dan bahasa yang sering digunakan dalam fenomena bahasa 'anak Jaksel' (freepik.com/@rawpixel.com)

Apa yang terlintas di kepala kalian kalau dengar kata Jaksel? Tempat nongkrongnya anak gaul Jakarta?, atau sekumpulan anak muda yang suka nyampurin bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam proses komunikasinya? Kalau gitu, mending kita sedikit membahas tentang fenomena bahasa ‘anak Jaksel’ ini.

Di era globalisasi ini, kemajuan teknologi berimbas pada berbagai sektor. Banyak budaya asing yang masuk ke Indonesia dan pelahan mulai membaur dengan budaya lokal. Begitupun bahasa, seiring dengan perkembangan teknologi, banyak bahasa asing yang masuk ke Indonesia. Kalau melirik sejarah bangsa kita, kita pasti tau kalau bangsa kita pernah dijajah oleh banyak bangsa. Gak heran kalau dalam bahasa Indonesia ada beberapa kata dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Penyerapan dari bahasa asing ke bahasa indonesia ini memicu munculnya fenomena yang dinamakan campur kode. Apa itu campur kode? Campur kode diartikan sebagai peristiwa yang dimana penutur menyisipkan kode yang berada di luar bahasa ibunya, dengan kata lain campur kode ini bisa saja terjadi antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing atau bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Selain itu, campur kode juga berkaitan dengan kedwibahasaan atau kemampuan seseorang untuk menguasai dua bahasa (misalnya bahasa nasional disamping bahasa daerah).

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya fenomena campur kode ini, salah satunya kemajuan teknologi. Dengan kemajuan teknologi, masyarakat akan semakin mudah mencari informasi melalui internet, dengan kata lain penyebaran informasi juga akan lebih cepat. Sama halnya seperti yang terjadi pada fenomena bahasa ‘anak Jaksel’.

Dalam fenomena ini bisa kita pahami bahwa ada pengaruh dari perkembangan teknologi yaitu internet, sehingga penyebaran informasi tentang bahasa tersebut lebih cepat tersebar. Mayoritas pengguna 'bahasa jaksel’ ini adalah remaja berasal dari golongan jetset. Mereka sering nyampurin kosakata dari bahasa Inggris kayak Which is, Literally, dude, even, overthinking, anxiety dan semacamnya terus dicampur dengan bahasa Indonesia. Sebenarnya hal ini lumrah terjadi, cuma sebagian masyarakat gak terbiasa dengan ini makanya dianggap aneh karena beda.

Selain faktor teknologi, faktor jarak kekuasaan atau power distance dalam lingkup masyarakat cukup berpengaruh. Kok gitu? Karena sebagian masyarakat mengggap bahasa Inggris kedudukannya lebih tinggi dibanding bahasa Indonesia. Mengingat bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional yang mau tidak mau harus kita kuasai meskipun hanya dasarnya saja. Tapi bukan berarti kita bisa menganggap kedudukannya lebih tinggi dibanding bahasa Indonesia. Padahal kalau kita sadar, bahasa itu cerminan dari identitas suatu bangsa. Dengan kata lain, bahasa Indonesia merupakan cerminan dari masyarakatnya. Bukan mau bersikap ‘sok Nasionalis’ tapi sebagai warga Indonesia sudah seharusnya kita bangga dengan bahasa Indonesia.

Balik ke pembahasan, stigma terhadap Jaksel (Jakarta Selatan) di mata masyarakat kini berubah semenjak adanya fenomena ini. Sekarang kalau kita dengar kata ‘Jaksel’ yang terlintas di kepala kita bukan lagi mengarah ke sebuah wilayah di Jakarta tapi mengarah ke sekumpulan anak muda yang hobi nyisipin kata which is, literally, overthinking, anxiety, basically, dan semacamnya terus dicampur sama bahasa Indonesia.

Sebenarnya fenomena bahasa 'anak Jaksel’ ini ada sisi positif dan negatifnya masing-masing. Salah satu sisi positifnya adalah meningkatkan keberanian untuk berbicara bahasa asing, kita sudah tau kalau keberanian berbicara dengan bahasa asing masih jadi kendala sebagian warga Indonesia. Faktor utamanya adalah takut salah dan keterbatasan kosakata. Padahal itu wajar dalam prosesnya, cuma balik lagi ke awal kalau masyarakat gak biasa dengan ini jadi kalau kita coba-coba ikutin bahasa 'anak Jaksel' pasti dikira 'sok Inggris' atau dikira 'anak Jaksel'.

Selain sisi positif ada juga sisi negatifnya. Sisi negatifnya, WNA yang tinggal di Indonesia jadi malas belajar bahasa Indonesia karena orang Indonesianya sendiri malah pakai campur kode. Sebenarnya gak salah juga sih pakai campur kode kalau lawan bicaranya orang asing yang gak paham bahasa Indonesia.

Kalau ditanya siapa yang benar dan siapa yang salah dalam fenomena ini? Jawabannya, gak ada yang benar dan gak ada yang salah. Benar dan salah itu relatif, tergantung sudut pandang masing-masing. Yang salah itu kalau kita overproud dengan budaya asing sampai lupa budaya sendiri (termasuk bahasa). Daripada sibuk mikirin benar atau salah lebih baik kita sebagai generasi penerus memikirkan bagaimana cara melestarikan bahasa kita sendiri di tengah badai globalisasi yang melanda. Mengingat eksistensi bahasa Indonesia (yang baik dan benar) semakin mengkhwatirkan.