Sebagian Guru di Lini Masa: Mengajar Sambil Ngonten

Penulis Merupakan Penggiat Literasi Sosial
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Fiderman Gori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Realitas keagungan digitalisasi telah merambah diberbagai masalah kehidupan kita saat ini. Dari usia muda hingga tua, digitalisasi menjadi sesuatu yang "hampir" seluruh aktivitas dan pilihan serius dan bodoh kita bergantung padanya. Sepertinya, ini adalah tanda-tanda penjajah di atas benda pintar yang dimimpikan oleh kita. Mohon maaf jika kalimat ini terlalu berlebihan.
Saya tau dan kita semua sama-sama tau, bahwa digitalisasi ini mempunyai beberapa e-produk yang gempar dan gila-gilaan di gunakan tanpa batas oleh umat manusia. Jasa aplikasi Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, YouTube dan sebagainya bagian afirmasi dari pada produk digital itu sendiri yang setiap saat kita akses untuk up date informasi.
Pengguna media sosial jenis ini, tak perlu di ragukan lagi di Indonesia. Saya pastikan 100 persen semua ponsel android yang berjuta-juta harganya itu sudah mengunduh jasa aplikasi diatas. Minimal kalua gak suka bermedia sosial satu atau dua diantara beberapa aplikasi canggih itu ada di ponsel kalian.
Saya sih, senang dengan aplikasi-aplikasi seperti ini karena buat saya aplikasi canggih ini mempermudah saya mendapatkan informasi terutama dalam menunjang ilmu dan kreativitas saya setiap hari. Apa lagi dengan interaksi media sosial yang masif, saya lebih mudah membangun relasi dan komunikasi dengan tokoh-tokoh pintar yang kalau dipikir untuk bertemu dengan mereka harus melewati pemeriksaan ketat, menunjukkan identitas, dan lain-lain. Rumiiiitttt dan Ruwetttt bukan?
"Begitulah kecanggihan teknologi digital hari ini," kita mensyukurinya.
Ya! Fakta kecanggihan teknologi banyak mengubah kognitif banyak orang, khususnya orang-orang Indonesia. Sepakat, Ya. Sikap primitif berubah totalitas diangka180 derajat menjadi manusia-manusia modern seutuhnya. Signifikansi modernisasi ini dialami oleh semua kalangan termasuk para guru di lingkungan pendidikan di Indonesia.
Pertanyaan hakiki adalah apakah seluruh pemanfaatan produk elektronik ini selalu berdampak positif? Menurut saya tentu saja tidak! Penggunaan media sosial yang gila-gilaan, brutal dan tidak terkontrol saat ini, membuka sisi gelap dari ketidakpantasan sikap penggunaan media sosial tersebut. Dan guru salah satu objek terpaparnya virus ini. Kok bisa? Silakan baca-baca tulisan ini sampai akhir jangan setengah-setengah agar anda mendapatkan informasi yang utuh dan konkret.
Mengajar Sambil Ngonten
Nah, setelah melihat dan membaca beberapa kasus penggunaan media sosial oleh sebagian guru di Indonesia di lini masa, saya akhirnya memutuskan untuk memberi judul tulisan ini "Guru: Mengajar sambil Ngonten". Jika idenya mentok, menjadi penggemar viral di media sosial pun, yes!
Tapi ingat loh, ya! Tidak semua guru melakukan hal serupa seperti yang saya sebut di atas. Kalau dihitung dari estimasi populasi guru hari ini mungkin hanya sedikit dari ribuan guru di Indonesia. Tolong jangan sampai salah pemahaman. Biar gak konslet, hehehe.
Di zaman saya dulu guru itu saya deskripsikan sebagai "Mengajar sambil Belajar". Mengajar dengan pendekatan komprehensif sesuai standar pendidikan anak-anak dan belajar mencari alternatif agar anak-anak lebih mudah memahami pelajaran. Misalnya, guru belajar bagaimana cara mengajarkan perkalian 3x3 agar mudah di mengerti oleh anak-anak. Guru mengambil lidi, kerikil atau apa, jumlahnya 9 di bagi 3, 3, dan 3, kemudian meminta kami menghitung satu per satu dari lidi yang di bagi itu. Emang sih, klasik tapi efektif.
Tetapi zaman sekarang sudah jauh berbeda, tidak sedikit guru mengajar sambil ngonten karena kebutuhan media sosial Facebook, TikTok, Instagram, Twitter dan YouTube. Guru yang tadinya mengajar sambil belajar, malah mengajar sambil membuat konten dengan siswa.
Oppsss,,, Konten apa dulu? Konten produktif berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung kreativitas dan tidak merugikan anak-anak, lagi-lagi menurut saya itu sah-sah saja. Asal tugas pokok sebagai guru (pendidik) tidak dilupakan. Itu saja!
Lalu, bagaimana dengan konten video yang berpotensi mendeskreditkan siswa yang dilakukan guru? Yang dengan sadar di upload di media sosial dan melewati batas kepantasan.
Fenomena media sosial, gila konten, gila viral, gila followers sepertinya sulit di bendung saat ini. Perilaku brutal ini di alami sebagian guru di Indonesia dalam memanfaatkan penggunaan media sosial yang lost control (hilang kendali). Selama ide, kuota dan jaringan internet stabil, Gaspolllll. Soal apakah yang dilakukan layak atau tidak bagi anak, itu urusan nanti.
Ruang kelas yang seharusnya sebagai laboratorium ilmu pengetahuan atau tempat mengembangkan potensi siswa, beralih menjadi ruang "Ngonten" receh, tidak produktif dan menimbulkan keresahan pada diri anak.
Bagi para guru yang membaca tulisan ini jangan tersinggung, ya. Saya tidak bermaksud mendeskreditkan profesi anda sebagai guru. Bahkan saya bangga dengan kalian, karena saya sadar karena gurulah saya bisa begini. Tetapi mari kita membuka dan mata hati atas kebablasan bermedia sosial di tengah guru-guru tercinta saat ini. Supaya media sosial benar-benar di manfaatkan sesuai mekanisme yang kompromis.
Ada satu contoh kasus konten video yang sempat viral di lini massa media sosial tahun 2022 lalu, begini rentetan peristiwanya. Seorang siswa SD yang tampak kebingungan setengah menangis karena gurunya meminta menghitung 5x3 sambil di rekam. Karena dalam waktu siswa itu tidak bisa menjawab dan anak itu terlihat putus asa hingga ia ditertawakan oleh teman-temannya.
Ponsel di tangan kanan sang guru pun tak kunjung diturunkan dan mengajari si anak itu untuk mendapatkan hasil perkalian 5x3 tersebut. Sang guru tidak melakukan metode klasik seperti yang diajarkan kepada kami dulu. Parahnya lagi sang guru malah terkekeh-kekeh geli melihat siswanya yang tegang di hadapan kamera karena tidak tahu jawaban dari pertanyaan.
Konten video si anak yang di unggah di TikTok oleh sang guru telah diserbu oleh ribuan orang dengan beragam komentar. Tak jarang ada komentar warganet yang mengutuk perilaku sang guru tersebut dan tidak sedikit ada komentar aneh-aneh yang menimbulkan rasa percaya diri dan psikologis anak menjadi terganggu.
Salah satu komentar warganet yang bikin saya geram adalah "anaknya kurang gizi mungkin, bu" sambil tertawa. Coba bayangkan kira-kira bagaimana perasaan si anak dan orangtuanya ketika tetangga-tetangganya melihat konten dan membaca komentar itu? Lagi-lagi silakan jawab sendiri!
Supaya konkret dan gak di bully oleh netizen yang budiman, saya kasih contoh kasus lainnya agar kasus-kasus seperti ini tidak berkesinambungan alias berkembang biak di lingkungan pendidikan.
Beberapa Minggu lalu kebetulan saya buka-buka TikTok sambil skrol ke atas dan ke bawah mencari konten hiburan. Tiba-tiba pada skrolan terakhir saya diadang sebuah live TikTok seorang perempuan cantik yang merupakan Bu guru yang tengah mengajar di depan kelas siswa SD. Saya pun memutuskan untuk bergabung pada live TikTok Bu guru itu yang di tonton dua ribu lebih manusia yang entah dari mana aja.
Saya sudah menebak dari awal jika pola mengajar Bu guru ini tidak lazim. Bu guru yang sedang live TikTok sambil menjelaskan itu terlihat bolak-balik membaca komentar pada live TikToknya. Karena kesal, saya pun meninggalkan sepenggal komentar pada live TikTok Bu guru itu.
“Bu, Ngajar dulu. Live TikToknya di rumah Aja. Kasihan anak-anak yang serius belajar" kata saya pada kolom komentar TikTok Bu guru itu.
Inilah distraksi penggunaan media sosial yang berlebihan. Ketidakwajaran dianggap sesuatu perilaku yang pantas di tempat-tempat mulia seperti lingkungan pendidikan akibat kecanduan bermedia sosial. Guru yang seyogyanya sebagai edukator bagi anak-anak supaya bijak menggunakan media sosial sejak dini, namun faktanya guru menjadi korban dari virus media sosial tersebut.
Sumpah! Bu gurunya sih gila medsos menurutku. Bagaimana menurut kalian?
Kalau naluri memang bikin konten di medsos atau live di TikTok, saya kira jangan sekali-kali memanfaatkan ruang kelas atau kelemahan anak-anak sebagai idenya. Jika kebelet ngonten karena alasan ingin viral, ingin mendapatkan followers atau ingin mendapatkan cuan, saran saya buatlah konten produktif yang menunjang semangat belajar anak-anak.
