Konten dari Pengguna
Dari Toko Sembako Keluarga, Saya Melihat Bagaimana Ekonomi Digital Masuk ke Desa
3 Desember 2025 14:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Dari Toko Sembako Keluarga, Saya Melihat Bagaimana Ekonomi Digital Masuk ke Desa
Cerita tentang bagaimana toko sembako keluarga saya perlahan beradaptasi dengan pembayaran digital hingga akhirnya menggunakan QRIS di desa.Fika Minkhatul Maula
Tulisan dari Fika Minkhatul Maula tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sejak kecil, saya terbiasa membantu orang tua menjaga toko sembako yang terletak di depan rumah. Toko tersebut memang tidak besar, hanya sebuah warung sederhana yang menjadi tempat bagi warga sekitar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dulu, hampir semua transaksi dilakukan dengan uang tunai. Para pelanggan datang membawa recehan, kami menyiapkan uang kembalian, dan semuanya berjalan seperti itu selama bertahun-tahun.
ADVERTISEMENT
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat perubahan yang tak pernah saya duga sebelumnya. Secara perlahan ekonomi digital mulai masuk ke desa, bukan melalui seminar besar atau program pemerintah yang rumit, tetapi melalui kebiasaan sederhana para pembeli saat berbelanja.
Perubahan pertama yang saya ingat adalah saat seorang pelanggan bertanya “Mbak, bisa transfer? Uang tunai saya gak cukup”.
Awalnya, kami kebingungan. Toko sembako keluarga kami sebelumnya tidak pernah menerima pembayaran digital. Namun karena pelanggan sudah terlanjur belanja, akhirnya kami memberikan nomor rekening.
Setelah itu permintaan serupa mulai sering muncul. Ada yang lupa bawa dompet, ada yang hanya bawa HP, dan ada juga yang memang sengaja belanja pakai mobile banking karena lebih praktis. Dari pengalaman tersebut, saya mulai menyadari bahwa transaksi digital tidak lagi menjadi hal yang asing bagi warga desa. Mereka mulai merasa nyaman dengan cara baru tersebut.
ADVERTISEMENT
Selain transfer bank, beberapa anak muda yang membeli jajanan di toko juga sering bertanya, “Mbak, aku bayar pakai e-wallet bisa?”
Walaupun saat itu toko kami belum punya QRIS, mereka tetap mencari cara supaya bisa bayar melalui e-wallet. Padahal mereka tinggal di lingkungan pedesaan, bukan di area yang memiliki finansial digital lengkap. Di titik ini saya mulai merasakan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga di desa kami sedikit demi sedikit.
Pada awalnya, orang tua saya merasa teknologi itu merepotkan. “Beli minyak goreng saja harus buka HP dulu? Ribet banget’, kata ibu saya waktu itu. Namun karena semakin banyak pelanggan meminta pembayaran digital, orang tua saya mulai belajar cara cek transfer, cara menggunakan mobile banking, cara menghindari penipuan, dan akhirnya mulai mempertimbangkan penggunaan QRIS. Melihat perkembangan itu, saya sadar bahwa adaptasi memang tidak mudah tapi bukan tidak mungkin.
ADVERTISEMENT
Setelah cukup banyak pelanggan meminta pembayaran via digital, kami akhirnya mendaftarkan toko untuk menggunakan QRIS. Keputusan ini mengubah banyak hal mulai dari pelanggan yang lebih nyaman karena tinggal scan, orang tua saya tidak perlu mengecek nominal satu per satu, tidak ada lagi masalah uang kembalian, dan transaksi jadi lebih cepat dan lebih rapi.
Dari toko sembako keluarga, saya melihat bahwa digitalisasi tidak hanya milik kota besar. Ia masuk ke desa melalui kebutuhan, kepraktisan, dan keberanian untuk mencoba hal baru. Toko kami yang dulu sepenuhnya tunai, kini sudah nyaman menggunakan transfer dan QRIS. Dan saya yakin jika toko-toko kecil di desa saja bisa beradaptasi, Indonesia tidak perlu takut ketinggalan dalam menghadapi era digital. Karena perubahan besar terkadang dimulai dari tempat paling sederhana, seperti warung sembako kecil yang berdiri di depan rumah saya.
ADVERTISEMENT

