Konten dari Pengguna

Tantangan dan Kebahagiaan Mahasiswa Perantau

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fildan Aditya Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Illustrasi Anak Rantau. Sumber : Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi Anak Rantau. Sumber : Dokumen Pribadi

Purwokerto - "Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri China." Itulah ungkapan yang cukup populer di tengah - tengah masyarakat kita. Banyak yang termotivasi untuk merantau sembari menuntut ilmu dengan tujuan yang beragam seperti menaikan value diri, menambah relasi, dan semacamnya. Sebelum menjadi perantau, tak jarang banyak yang memiliki ekspetasi akan hidup bebas karena jauh dari orang tua. Namun, ternyata banyak tantangan dan cobaan yang harus dijalani untuk menemukan kebahagiaan sebagai mahasiswa rantau. Mulai dari beradaptasi kembali dengan lingkungan yang baru, mempelajari bahasa baru, dan sebagainya. Berikut adalah beberapa fase yang dialami oleh mahasiswa rantau :

1. Adaptasi dengan Lingkungan Baru

Seperti yang dilakukan oleh Ridzna dan Taruno , mahasiswa rantau yang kini sedang menempuh studinya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

"Kalau masalah adaptasi sih Alhamdulillah gak terlalu sulit, emang dari awal udah paham resiko merantau. Bersyukur juga punya temen kost yang baik - baik pas itu." Ujar Taruno, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto Program Studi Teknik Sipil Angkatan 2021.

Jawaban yang hampir serupa juga dilontarkan oleh Ridzna, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang kini sedang menempuh Program Studi Teknik Informatika Angkatan 2021.

"Bisa adaptasi sih, karena pembawaan dari kepribadian sendiri yang apa adanya. Nggak neko - neko lah intinya."

Adaptasi dengan lingkungan baru yang hanya memakan waktu satu bulan termasuk cepat, sudah dipastikan bahwa Ridzna dan Taruno memiliki sifat yang fleksibel dan mudah bergaul.

2. Pencarian Identitas

Setelah fase adaptasi telah dilewati, pencarian dentitas diri menjadi tantangan selanjutnya. Perbedaan norma dan budaya di kota asal dengan kota rantauan menjadi salah satu faktor identitas mahasiswa rantau berubah atau mungkin bisa jadi bertambah. Pencarian identitas ini bisa berubah ke hal negatif atau positif, tergantung kondisi lingkungan sekitar.

Akulturasi budaya juga menjadi faktor terbentuknya identitas baru yang akan menjadi ciri khas dari mahasiswa rantau itu sendiri di lingkungannya.

3. Homesick, Fase Lumrah Anak Rantauan

Rasa rindu akan suasana rumah menjadi tantangan setiap orang yang sedang merantau. Hal ini sangat diwajarkan, karena perubahan kebiasaan dan pola hidup akan sangat terasa saat sedang menjalani kehidupan merantau.

"Tentu, biasanya setelah satu sampai maksimal dua bulan aku pulang ke rumah untuk sekedar makan bersama keluarga, tidur dikamar rumah selama satu sampai dua malam sudah cukup untuk mengobati rindu". Ujar Taruno.

Ridzna menambahkan, "Pas satu tahun pertama sering ngerasa kangen sama rumah, rasanya setiap bulan itu pengin pulang ke rumah".

Pada fase ini, permainan mental mulai diuji. Mahasiswa rantau harus kembali mengingat tujuan mereka selama merantau. Keinginan mencari pengalaman baru, kerja keras dan doa orang tua, dan banyak hal lainnya yang biasanya menjadi motivasi mahasiswa rantau bertahan demi masa depan yang cerah di tengah masa rindu suasana rumah yang hangat.

4. Kepuasan Diri Atas Tercapainya Suatu Keinginan

Selanjutnya, mahasiswa rantau ini akan menemukan kebahagiaan tersendiri karena bisa bertahan selama merantau. Mereka akan senang atas beberapa keinginan baik kecil maupun besar yang sudah tercapai. Contoh kecilnya adalah ketika mahasiswa rantau bisa beradaptasi dan menemukan teman baru, atau mungkin merasakan bahwa dirinya mampu untuk hidup mandiri selama beberapa waktu di kota orang lain. Kepuasan diri inilah, yang menjadikan kehidupan mahasiswa rantau semakin berwarna.

Pada fase ini, mahasiswa rantau merasakan manfaat yang sangat banyak dari hidup mandiri sebagai perantau sekaligus pelajar.

"Gara-gara merantau, aku jadi bisa belajar hidup mandiri, belajar memanajemen waktu dan uang." Ucap Ridzna.

Dari berbagai hambatan yang ada, mahasiswa rantau akan lebih mudah untuk merasakan bersyukur dan puas, karena bagi mereka bisa bertahan hidup di kota orang lain merupakan suatu achievment yang harus disyukuri.

"Jadi bisa belajar si, kalo ngga semua yang hal yang aku inginkan, rencanakan, dan mimpikan bisa terwujud dan harus untuk tetap mensyukuri semua hal yang ada." Imbuh Taruno.

Setelah membaca artikel pendek ini, apakah kalian tertarik untuk menjadi perantau di kota lain?