Konten dari Pengguna

Mindset, Takhta dari Segala Aset

Fina Raihana

Fina Raihana

Mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fina Raihana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. Foto: pexels/Aphiwat  chuangchoem
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Foto: pexels/Aphiwat chuangchoem

Kita adalah apa yang kita pikirkan."

Itu sebuah quote yang ada baiknya kita camkan dalam pikiran. Jika otak adalah kunci tubuh seseorang, maka kunci kehidupan seseorang adalah mindset itu sendiri. Mindset dapat menentukan kehidupan yang akan kita jalankan.

Mindset yang terbentuk secara positif, akan menjadikan kehidupan kita jauh lebih sehat dan produktif. Untuk mencapai titik tersebut tentu tidaklah mudah. Dibutuhkan pengendalian mindset hingga dapat menjadi sebuah kebiasaan baik.

Hal sepele yang mungkin seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Mengenai perkataan remeh yang mengandung unsur negatif berkepanjangan.

Ilustrasi. Foto: Shutter Stock

Gara-gara aku, orang lain kerap kali sial."

Sepertinya aku tidak menarik sehingga orang-orang tidak mendengarkanku."

Pasalnya, hal tersebut berpotensi membuat seseorang tidak tahu cara mengenal dan menghargai diri sendiri. Ini dapat merambat pada segala hal yang akan ia lakukan.

Overthinking adalah contoh konkret mengenai titik di mana manusia menentukan arah mindset-nya. Overthinking yang tidak dapat dikendalikan dengan baik hanya akan membuat diri seseorang cenderung menyalahkan diri pada sebuah masalah.

Manusia terbiasa berada di titik merasa menjadi pembuat onar di sebuah masalah yang orang lain pun tidak menganggapnya demikian. Pikiran-pikiran yang tidak bisa dikendalikan tersebut susah untuk dihilangkan jika kita tidak memiliki kontrol yang baik berupa self-love. Self-love tersebut dapat berupa perkataan positif yang mengandung lawan kata terhadap apa yang kita khawatirkan.

Ilustrasi perempuan self love. Foto: Asier Romero/Shutterstock

Bukan, kok. Aku bukanlah alasan sialnya orang lain. Masih ada banyak orang di sekitar sini."

Bukan aku yang gak menarik, tapi mereka yang tidak tahu cara menghargai siapa yang sedang berbicara."

Oleh karenanya, dibandingkan mengisi pikiran kita dengan hal-hal negatif yang belum tentu sesuai dengan fakta, alangkah lebih baik jika berfokus pada hal-hal baik mengenai diri sendiri.

Gak apa overthinking, tapi tidak dengan melukai diri.