Konten dari Pengguna

Kenapa Gen Z Mulai Menganggap Menikah Bukan Lagi Kewajiban?

Firda Alyanti

Firda Alyanti

mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firda Alyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi: pasangan pengantin berbahagia merayakan awal pernikahan. source: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi: pasangan pengantin berbahagia merayakan awal pernikahan. source: Shutterstock

“Umur segini kok belum nikah?” Pertanyaan seperti ini mungkin sudah tidak asing bagi banyak anak muda, khususnya Gen Z. Memasuki usia 20-an, pertanyaan tentang pasangan dan pernikahan seolah menjadi bagian dari percakapan wajib. Padahal, tidak semua orang di usia tersebut sedang memikirkan hal yang sama. Bagi sebagian Gen Z, menikah bukan lagi sebuah pencapaian yang harus segera diraih. Ada yang memilih fokus menyelesaikan pendidikan, membangun karier, menikmati kehidupan sendiri, atau sekadar ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar siap sebelum memutuskan untuk menikah.

Menikah Bukan Sekadar “Sudah Waktunya”

Generasi sebelumnya mungkin lebih terbiasa dengan pola hidup: sekolah, bekerja, menikah, lalu memiliki anak. Namun, Gen Z tumbuh dengan kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda. Harga kebutuhan hidup semakin menjadi pertimbangan. Memiliki rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga mempersiapkan kehidupan setelah menikah bukan perkara sederhana. Karena itu, bagi sebagian anak muda, menikah tanpa kesiapan justru terasa lebih menakutkan daripada menunda pernikahan. Belum lagi adanya kesadaran bahwa pernikahan bukan hanya tentang pesta sehari. Ada komitmen, komunikasi, tanggung jawab finansial, serta kesiapan menghadapi berbagai masalah bersama pasangan. Jadi, ketika seseorang mengatakan “belum mau menikah,” belum tentu artinya ia membenci pernikahan. Bisa saja ia sedang berpikir lebih jauh mengenai kehidupan setelah pernikahan.

Media Sosial Ikut Mengubah Cara Pandang

Gen Z juga hidup di tengah arus informasi yang sangat besar. Melalui media sosial, mereka dapat melihat berbagai cerita tentang hubungan dan kehidupan rumah tangga secara lebih terbuka. Konten mengenai perceraian, perselingkuhan, toxic relationship, hingga pengalaman pasangan dalam menjalani rumah tangga dapat ditemukan dengan mudah. Di satu sisi, hal ini membuat anak muda lebih sadar bahwa pernikahan tidak selalu berjalan seperti cerita romantis. Namun, media sosial juga memperlihatkan bahwa hidup bahagia tidak harus selalu mengikuti satu pola. Ada orang yang memilih menikah muda, ada yang menikah di usia lebih matang, dan ada pula yang memilih menjalani hidup tanpa pernikahan. Pilihan hidup pun menjadi semakin beragam.

“Kapan Nikah?” Bukan Lagi Pertanyaan Sederhana

Masalahnya, keputusan untuk tidak terburu-buru menikah sering kali masih dianggap aneh oleh lingkungan. Pertanyaan “kapan nikah?” mungkin terdengar sederhana bagi orang yang bertanya. Namun bagi orang yang ditanya, pertanyaan tersebut bisa terasa seperti tekanan. Seolah-olah ada batas usia tertentu yang harus dipenuhi agar seseorang dianggap berhasil menjalani hidup. Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan prioritas yang berbeda. Ada yang memang ingin menikah, tetapi belum menemukan pasangan yang tepat. Ada yang ingin menunggu kondisi finansial lebih stabil. Ada pula yang memang belum menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidup. Tidak semua pilihan harus memiliki waktu yang sama.

Gen Z Bukan Anti-Nikah, Mereka Lebih Selektif

Menurut saya, menyebut Gen Z sebagai generasi yang “tidak mau menikah” juga terlalu sederhana. Lebih tepat jika fenomena ini dilihat sebagai perubahan cara generasi muda memandang pernikahan. Mereka cenderung mempertanyakan kembali anggapan bahwa menikah adalah sesuatu yang wajib dilakukan hanya karena usia sudah cukup. Bagi sebagian Gen Z, pernikahan harus menjadi keputusan yang benar-benar diinginkan, bukan sekadar respons terhadap tekanan keluarga, lingkungan, atau rasa takut tertinggal dari teman sebaya. Pada akhirnya, menikah atau tidak menikah merupakan keputusan personal. Yang penting bukan seberapa cepat seseorang menikah, tetapi apakah keputusan tersebut diambil dengan sadar dan siap menerima konsekuensinya. Mungkin Gen Z bukan tidak percaya pada pernikahan. Mereka hanya mulai percaya bahwa menikah seharusnya karena siap, bukan karena “sudah waktunya.”