Konten dari Pengguna

Di Balik Kilau Bank Emas: Kesejahteraan atau Kendali?

Firdaus Arifin
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pasundan & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat
27 Februari 2025 14:46 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Firdaus Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Langit Jakarta pagi itu muram. Seperti ada beban yang menggantung di antara gedung-gedung tinggi, yang mencerminkan ambisi dan ketidakpastian. Di layar televisi, Presiden baru saja meresmikan bank emas pertama di negeri ini. Senyum optimisme disiarkan ke seluruh penjuru, seolah menegaskan bahwa inilah jawaban atas keresahan ekonomi, atas inflasi yang menggerogoti daya beli, atas ketidakpastian masa depan.
ADVERTISEMENT
Bank emas, begitu kata mereka, adalah instrumen baru untuk menstabilkan keuangan negara, mengurangi ketergantungan pada dolar, dan memberikan alternatif investasi yang lebih aman bagi rakyat. Sebuah kebijakan yang tampak cemerlang. Tapi sejarah telah mengajarkan kita satu hal: tidak semua yang berkilau adalah emas.
Ilustrasi Bank Emas, Sumber: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Emas, Sumber: Freepik
Emas dan Kekuasaan
Emas selalu memiliki daya pikat yang lebih dari sekadar logam mulia. Ia adalah simbol kekayaan, kestabilan, dan—di atas semuanya—kekuasaan. Sejak zaman Kekaisaran Romawi hingga standar emas dalam sistem moneter dunia runtuh pada 1971, emas menjadi fondasi bagi kekuatan ekonomi dan dominasi politik.
Di berbagai negara, penguasaan emas oleh negara sering kali bukan sekadar upaya stabilisasi ekonomi, tetapi juga strategi untuk mengendalikan aliran kekayaan dan memastikan bahwa hanya segelintir orang yang bisa benar-benar mengontrolnya. Bank emas, dalam konteks ini, bukan sekadar institusi keuangan, tetapi juga instrumen politik.
ADVERTISEMENT
Maka pertanyaannya: apakah bank emas di Indonesia hari ini adalah langkah maju menuju kesejahteraan rakyat, atau justru cara baru bagi negara untuk mengkonsolidasikan kontrolnya atas sumber daya yang paling berharga?
Mimpi atau Ilusi?
Dalam dokumen resmi pemerintah, tujuan bank emas ini jelas: mendukung perekonomian nasional, menyediakan alternatif investasi bagi rakyat, dan mengurangi impor emas yang selama ini membuat negeri ini bergantung pada pasar luar.
Tapi mari kita renungkan. Apakah rakyat benar-benar membutuhkan bank emas? Apakah para petani di desa, buruh di pabrik, atau pedagang kecil di pasar akan berbondong-bondong membeli emas sebagai instrumen keuangan mereka? Atau justru, seperti banyak kebijakan ekonomi lainnya, ini hanya akan menjadi permainan baru bagi para elite keuangan?
ADVERTISEMENT
Di negara-negara lain, konsep bank emas bukanlah hal baru. Beberapa negara telah mencoba sistem ini dengan hasil yang bervariasi. Turki, misalnya, menggunakan bank emas untuk menarik cadangan emas yang selama ini disimpan rakyat di rumah-rumah agar dapat dikelola dalam sistem keuangan formal. Hasilnya? Sebagian besar emas yang masuk justru dikuasai oleh bank-bank besar, dan rakyat tetap berada di pinggiran kebijakan ini.
Di Indonesia, potensi skenario serupa sangat besar. Emas rakyat yang selama ini disimpan sebagai tabungan diam-diam bisa beralih ke sistem yang lebih terkonsolidasi—dan siapa yang memiliki kontrol atasnya? Negara, melalui bank emas ini.
Negara dan Monopoli Emas
Bank emas memberikan kewenangan bagi negara untuk mengontrol aliran emas dalam negeri. Ini berarti bahwa dalam situasi tertentu—sebut saja krisis ekonomi atau ketidakstabilan politik—negara memiliki akses penuh untuk membatasi, mengendalikan, bahkan mungkin menyita emas yang berada dalam sistem.
ADVERTISEMENT
Kita tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Beberapa dekade lalu, Amerika Serikat, melalui Executive Order 6102 pada tahun 1933, melarang warga negaranya memiliki emas dalam jumlah tertentu dan memaksa mereka menjual emas mereka kepada pemerintah. Alasannya? Stabilitas ekonomi. Tapi hasil akhirnya? Negara mengambil alih kendali atas cadangan emas, sementara rakyat kehilangan akses terhadap salah satu instrumen keuangan paling stabil.
Dengan adanya bank emas di Indonesia, apakah kita sedang bergerak ke arah yang sama? Apakah kebijakan ini benar-benar untuk rakyat, ataukah justru memudahkan negara untuk memiliki kontrol lebih besar atas emas yang selama ini menjadi pilihan tabungan independen bagi banyak orang?
Emas dalam Pusaran Politik
Ada satu kenyataan yang sering kali luput dari perbincangan: bahwa emas tidak pernah lepas dari politik.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, emas bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kekuasaan. Cadangan emas besar di Papua, konflik kepentingan dalam bisnis tambang, hingga tarik-menarik kepentingan antara negara dan perusahaan multinasional adalah bukti bahwa emas selalu berada di jantung pertarungan politik dan ekonomi.
Maka pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: siapa yang benar-benar akan diuntungkan oleh bank emas ini?
Apakah ini akan membuka akses yang lebih luas bagi rakyat untuk memiliki emas sebagai bentuk tabungan yang aman? Ataukah justru menjadi mekanisme bagi segelintir elite untuk semakin memperkuat dominasi mereka atas sumber daya ini?
Kita tentu tidak boleh apriori menolak kebijakan ini. Tapi kita juga tidak boleh buta terhadap potensi implikasi jangka panjangnya.
ADVERTISEMENT
Kesejahteraan atau Kendali?
Di permukaan, bank emas tampak seperti inovasi finansial yang menjanjikan. Tapi di balik kilauannya, ada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang belum terjawab.
Apakah ini benar-benar tentang kesejahteraan rakyat, ataukah ini adalah bentuk baru dari kontrol negara atas aset yang selama ini lebih bebas? Apakah rakyat akan semakin memiliki akses terhadap emas, atau justru semakin jauh dari kepemilikan riil karena sistem ini dikuasai oleh lembaga keuangan besar?
Dalam sejarahnya, emas telah menjadi simbol kebebasan sekaligus alat kekuasaan. Yang membedakan keduanya adalah siapa yang mengendalikannya. Jika bank emas hanya menjadi instrumen baru bagi segelintir orang untuk memperkuat cengkeraman mereka atas kekayaan, maka rakyat tetap berada dalam posisi yang sama—terpinggirkan dalam pusaran ekonomi yang semakin kompleks.
ADVERTISEMENT
Kita bisa saja berdebat panjang soal niat baik pemerintah dalam kebijakan ini. Tapi satu hal yang pasti: sejarah selalu berpihak pada mereka yang memiliki kendali atas emas. Dan pertanyaannya kini adalah, siapa yang benar-benar akan menguasai kilau emas itu?
Sebab di dunia ini, tidak semua yang berkilau adalah kesejahteraan. Kadang, ia hanya ilusi yang dikendalikan oleh mereka yang tahu bagaimana cara mempermainkannya.