Konten dari Pengguna

Menulis, Meski Tak Sempurna

Firdaus Arifin
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pasundan & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat
25 Februari 2025 16:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Firdaus Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Ada yang berkata bahwa tulisan yang buruk tak lebih dari sampah. Bahwa jika ia tak sempurna, tak layak dibaca, sebaiknya tak pernah lahir. Tapi bukankah setiap kata yang ditorehkan, betapapun buruknya, tetaplah sebuah karya? Bahwa dalam setiap goresan, ada niat yang menjadikannya ada?
ADVERTISEMENT
Seorang penulis mungkin ragu. Kata-kata yang tersusun di layar atau kertas terasa kering, kosong, jauh dari keindahan yang diharapkan. Ia mungkin membandingkannya dengan karya-karya besar yang pernah dibaca—yang menakjubkan, yang sempurna. Dan dalam perbandingan itu, tulisannya terasa ringkih. Tapi benarkah yang buruk tak punya tempat? Bukankah ada sesuatu yang tetap bernilai dalam setiap usaha menciptakan?
ilustrasi Menulis, Sumber: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Menulis, Sumber: Freepik
Dalam dunia yang menuntut kesempurnaan, kita lupa bahwa segala yang besar pernah dimulai dari yang kecil. Tak ada mahakarya yang lahir tanpa cacat, tak ada tulisan yang langsung sempurna tanpa proses. Bahkan Hemingway pun menulis ulang. Bahkan Pramoedya harus menghapus dan merangkai kembali kalimat-kalimatnya.
Tulisan yang buruk, jika ditinggalkan begitu saja, tak akan pernah membaik. Tapi tulisan yang buruk yang terus diasah, disusun ulang, diperbaiki dengan ketekunan, suatu hari bisa menjadi karya yang layak dikenang. Seperti batu kasar yang diasah menjadi permata, tulisan yang tampak sederhana mungkin hanya butuh waktu untuk menemukan bentuknya.
ADVERTISEMENT
Tapi bagaimana dengan tulisan yang tak pernah menjadi baik? Yang tetap saja terasa hambar, kosong, seperti kumpulan kata yang terhimpun tanpa ruh? Apakah ia masih layak disebut karya? Barangkali jawabannya ada dalam niat. Tulisan, meskipun buruk, tetaplah cerminan dari pikiran. Ia adalah rekaman dari kegelisahan, dari upaya memahami dunia.
Bahkan dalam tulisan yang jelek, ada manusia yang berusaha menyusun makna. Dalam kalimat yang tak sempurna, ada seseorang yang mencoba berbicara, menyalurkan suara yang mungkin jika tak dituliskan, akan lenyap begitu saja. Jika kita hanya menerima yang indah, yang sempurna, maka kita menutup ruang bagi keberanian untuk mencoba.
Menulis adalah proses yang tak selalu menghadirkan keindahan. Terkadang ia hanya menghasilkan jejak-jejak kecil yang tampak tak berarti. Tapi tanpa jejak itu, bagaimana seorang penulis bisa menemukan jalannya? Tanpa tulisan yang buruk, bagaimana sebuah kalimat yang kuat bisa muncul?
ADVERTISEMENT
Dalam kehidupan, kita lebih sering melihat hasil akhir dan melupakan prosesnya. Kita mengagumi novel besar, puisi yang tajam, esai yang menggugah, tapi kita lupa bahwa di baliknya ada halaman-halaman yang ditinggalkan, ada draf-draf yang penuh coretan. Kita lupa bahwa bahkan penulis besar pun pernah menghasilkan tulisan yang buruk.
Lalu, mengapa kita begitu takut pada ketidaksempurnaan? Mengapa tulisan yang jelek sering dianggap tak layak ada? Mungkin karena kita diajarkan bahwa hanya yang terbaik yang pantas dipertunjukkan, bahwa hanya yang sempurna yang patut dihargai. Padahal, jika kita melihat lebih dekat, setiap karya, betapapun kecil dan tak sempurnanya, tetap memiliki nilai.
Di zaman ini, menulis menjadi semakin sulit. Media sosial menciptakan ilusi bahwa setiap kata harus sempurna sejak awal. Bahwa kesalahan kecil bisa menjadi bahan ejekan. Bahwa tulisan yang belum matang bisa mendatangkan kritik tajam. Tapi bukankah tulisan seharusnya menjadi ruang kebebasan? Tempat di mana kita bisa mencari, menemukan, tanpa takut dihakimi?
ADVERTISEMENT
Jika seseorang menulis sesuatu yang buruk, ia tetaplah telah berusaha. Ia telah menyalakan percikan kecil dalam pikirannya, mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dibaca. Itu lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Tulisan yang jelek bisa diperbaiki. Tapi gagasan yang tak pernah ditulis, akan hilang.
Maka, barangkali kita perlu memberi tempat bagi yang tidak sempurna. Bukan untuk menerima mediokritas, bukan untuk membenarkan kemalasan, tapi untuk memahami bahwa dalam tulisan yang buruk pun, ada upaya. Dan upaya itu, sekecil apa pun, tetaplah sebuah langkah menuju sesuatu yang lebih baik.
Dalam sejarah sastra, ada begitu banyak penulis yang awalnya dianggap remeh. Ada karya-karya yang dulu dicemooh, dianggap tak berharga, tapi kemudian menemukan pembacanya di masa depan. Apakah ini berarti tulisan yang buruk bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai? Barangkali iya, barangkali tidak. Tapi yang pasti, sebuah tulisan yang tak pernah dibuat tak akan pernah punya kesempatan untuk berkembang.
ADVERTISEMENT
Maka, menulislah. Bahkan jika hasilnya jelek. Bahkan jika terasa hampa. Karena dalam setiap kata yang dituliskan, ada kemungkinan. Ada ruang untuk tumbuh. Ada peluang untuk menemukan sesuatu yang sebelumnya tak terlihat.
Barangkali, dalam satu tulisan yang buruk, ada benih untuk sesuatu yang akan bertahan. Barangkali, dalam satu paragraf yang terasa gagal, ada satu kalimat yang suatu hari bisa mengubah seseorang. Dan barangkali, dalam satu tulisan yang tak sempurna, ada kejujuran yang lebih berarti dari kata-kata yang dipoles tanpa makna.
Jadi, jangan takut menulis. Jangan takut gagal. Karena tulisan, meskipun jelek, tetaplah sebuah karya.