Konten dari Pengguna

Cara Sembelih dan Tangani Kambing Kurban agar Tak Bau Perengus

Firman Febrianto

Firman Febrianto

Penulis berprofesi sebagai Dosen Peternakan di PSDKU UNPAD Kampus Pangandaran Minat saya dalam bidang Sosial Ekonomi Peternakan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firman Febrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tips Qurban Bebas Prengus, Kurban Berkualitas, Daging Bebas Bau

Sumber : Tangkapan Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Tangkapan Pribadi

Setiap datangnya Iduladha, kambing menjadi salah satu hewan yang paling banyak dikurbankan. Tapi ada satu masalah klasik yang selalu muncul: bau prengus. Bau khas kambing yang tajam dan menyengat ini sering bikin orang malas mengolah atau bahkan memakan dagingnya. Padahal, kalau ditangani dengan benar, daging kambing bisa bebas dari aroma tak sedap itu.

Masalahnya bukan pada kambing, tapi pada cara kita menyembelih dan menanganinya. Bau prengus bukan takdir, tapi bisa dicegah. Nah, berikut beberapa hal penting yang sering diabaikan tapi berdampak besar pada kualitas daging qurban kita.

1. Jangan Salah Pilih dan Perlakukan Kambing

Semua berawal dari kambing yang kita pilih. Pilihlah kambing jantan yang sehat, cukup umur, dan tidak stres. Kambing yang stres—karena perjalanan jauh, kepanasan, atau lapar—bisa mengeluarkan hormon tertentu yang memengaruhi aroma dagingnya.

Jangan beri pakan atau minuman berbau tajam seperti fermentasi atau limbah dapur sehari sebelum disembelih. Berikan air bersih dan biarkan kambing istirahat. Ini sederhana, tapi sangat membantu mengurangi risiko bau prengus.

2. Sembelih dengan Pisau Tajam, Jangan Asal Potong

Proses penyembelihan sangat krusial. Gunakan pisau tajam dan lakukan dengan satu kali sayatan cepat, sesuai syariat. Selain aspek keagamaan, cara ini juga penting untuk mengeluarkan darah semaksimal mungkin dari tubuh kambing.

Darah yang tersisa dalam daging bisa jadi penyebab bau dan mempercepat pembusukan. Setelah disembelih, gantung kambing agar darah mengalir keluar. Jangan buru-buru membelah tubuhnya sebelum proses ini selesai.

3. Jaga Kebersihan Saat Menguliti dan Memotong

Ini sering terabaikan: tangan dan alat yang kotor. Setelah menguliti kambing, banyak orang langsung memotong daging tanpa mencuci tangan atau pisau. Padahal kulit kambing membawa minyak alami dan bau khas dari kelenjar yang menempel. Saat tangan yang kotor itu menyentuh daging, aromanya ikut terbawa.

Gunakan pisau berbeda untuk menguliti dan memotong. Cuci tangan dan alat dengan sabun sebelum lanjut ke proses selanjutnya.

4. Buang Lemak dan Kelenjar yang Tidak Perlu

Banyak orang suka daging kambing berlemak, tapi di sinilah sumber bau prengus sering bersembunyi. Lemak, terutama di sekitar perut dan ketiak kambing, menyimpan aroma yang kuat. Termasuk juga kelenjar di sekitar leher dan selangkangan.

Sebaiknya, bersihkan bagian ini jika ingin hasil daging yang lebih bersih, ringan baunya, dan lebih enak dimasak.

5. Simpan dan Masak dengan Cara yang Tepat

Setelah dipotong, jangan langsung masukkan daging ke kulkas. Diamkan dulu beberapa jam agar uap panas dan sisa darah menghilang, dan jangan cuci daging sebelum di masukan ke kulkas Simpan dalam wadah tertutup dan hindari menumpuk daging terlalu banyak.

Untuk memasak, gunakan rempah-rempah seperti jahe, kunyit, daun jeruk, atau serai yang bisa menetralisir aroma. Merebus daging sebentar sebelum dimasak lebih lanjut juga bisa jadi solusi sederhana tapi ampuh.

Penutup: Qurban yang Baik, Daging yang Layak

Ibadah qurban adalah bentuk ketaatan, tapi juga bentuk tanggung jawab sosial. Daging yang diberikan ke orang lain harus dalam kondisi terbaik. Jangan sampai karena kelalaian dalam penanganan, niat baik justru berujung pada makanan yang tidak layak konsumsi.

Bau prengus pada kambing bukan hal yang tak terhindarkan. Dengan teknik dan penanganan yang tepat, daging kambing bisa enak, sehat, dan disukai banyak orang.