Toxic Positivity: Sisi Gelap dari Berpikir Positif

Psychology Student UIN Jakarta
Tulisan dari Husnul Fitri Hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Feel your feelings, but don't let them become you.”
Dr. Ruth Ziemba

Semua orang pasti pernah ada di situasi yang nggak menyenangkan. Kamu juga pasti pernah merasa tidak baik-baik saja, kan? Entah itu karena teman yang tidak suportif, keluarga yang tidak sesuai harapan, tugas-tugas sekolah yang semakin menumpuk, dosen yang hobi memberi tugas segunung, atau bahkan pekerjaan kantor yang tidak kunjung selesai. Situasi-situasi tidak menyenangkan tersebut tentunya pernah membuat kamu merasa tidak baik-baik saja sampai terkadang berdampak pada aktivitas kamu. Lantas, bagaimana sih cara kamu mengatasi perasaan-perasaan yang kurang enak itu?
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perasaan tidak menyenangkan itu. Salah satunya adalah memilih untuk tetap berpikir positif. Tapi tahu nggak sih kalau terlalu berlebihan dalam berpikir positif malah memberikan efek yang buruk?
Lho, kenapa? Bukannya berpikir positif itu baik?
Kita semua pasti pernah dengar bahwa semua yang berlebihan itu akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Begitu juga dengan berpikir positif yang terlalu berlebihan. Kita semua tentu tahu bahwa selalu berpikir positif memang sesuatu yang baik. Tetapi, dalam hidup ini kita tidak selalu mengalami hal yang baik. Tidak semuanya selalu berjalan positif.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah toxic positivity. Apapun yang berhubungan dengan toxic selalu bermakna negatif. Nah, toxic positivity itu sebenarnya apa sih?
Yuk, Kenalan dengan Istilah Toxic Positivity!
Toxic positivity adalah situasi ketika seseorang memaksakan dan menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif dalam keadaan apapun itu, bahkan sampai menolak emosi negatif. (Adrian K : 2021)
Toxic positivity juga adalah kepercayaan bahwa seburuk atau sesulit apapun suatu situasi, seseorang harus tetap mempertahankan pola pikir positif. Meskipun memiliki pemikiran yang positif dan menjadi seseorang yang optimis memberikan banyak sekali manfaat, tetapi toxic positivity menolak semua emosi yang negatif demi wajah yang ceria dan seringkali malah menjadi positif yang penuh kepalsuan. (Cherry K : 2022)
Seorang Psikolog Klinis di Pennsylvania, Dr. Jaime Zuckerman mengatakan bahwa toxic positivity adalah sebuah asumsi bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan sulit atau mengalami emosi negatif harus tetap memiliki pola pikir yang positif.
Jennifer Murayama, seorang psikoterapis juga menjelaskan bahwa toxic positivity bukan hanya sekadar sikap positif dan optimis saja. Toxic positivity adalah sebuah penyangkalan, peminimalan, dan pembungkaman perasaan valid diri sendiri maupun orang lain.
Seorang konselor, Myisha Jackson, toxic positivity membuat orang lain membungkam semua pengalaman negatif dan bertindak seolah-olah tidak ada masalah.
Jadi, secara sederhana toxic positivity adalah sebuah keyakinan yang nggak wajar kalau kita harus selalu berpikir positif dalam keadaan apapun. Bahkan dalam kenyataan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Sehingga sikap positif tersebut alih-alih berdampak baik malah menjadi merugikan seseorang.
Sikap positif yang berlebihan pada akhirnya hanya akan menjadi racun. Niatnya memang baik untuk memberikan semangat supaya tidak sedih terus-menerus, tapi sikap positif yang sudah ada di tahap toxic hanya akan menyulitkan orang lain dan orang yang mendengarnya tidak akan merasa lebih baik.
Toxic positivity dapat berupa menyepelekan semua kesedihan dan berbagai emosi negatif yang dirasakan. Bisa juga dengan membungkam semua emosi negatif yang sebenarnya tidak apa-apa untuk diekspresikan. Hal itulah yang akhirnya membuat seseorang malah menekan perasaan yang sebenarnya dan berpura-pura bahagia.
Toxic positivity biasanya muncul dalam bentuk ucapan. Dan ternyata ucapan yang mengandung toxic positivity bukan hanya dilakukan oleh orang lain saja. Kita juga bisa menjadi pelaku toxic positivity kepada diri kita sendiri. Contohnya, dengan memaksakan diri kita untuk selalu terlihat bahagia.
Kenali Dulu Ciri-Ciri Toxic Positivity
Toxic positivity biasanya kamu temui pada orang yang sedang mengalami suatu masalah. Umumnya, seseorang yang toxic positivity adalah orang yang ketika memberikan motivasi atau masukan kepada orang lain, alih-alih merasa lebih baik, orang tersebut malah merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh orang yang toxic positivity. Ada beberapa ciri-ciri toxic positivity yang bisa kita kenali terlebih dahulu, di antaranya:
1. Tidak Jujur pada Perasaan Sendiri
Selalu bersikap dan berusaha untuk memunculkan sisi positif dalam diri di depan banyak orang dengan harapan orang lain juga akan ikut merasakan energi positif dalam diri memang adalah suatu hal yang baik. Akan tetapi terlalu memaksakan diri untuk selalu terlihat positif bahkan tidak memberikan kesempatan untuk emosi negatif keluar, maka itu bukanlah sesuatu yang baik. Seseorang dengan toxic positivity akan memiliki kesulitan untuk berdamai dengan dirinya, akan sulit menerima semua emosi negatif yang ada dalam dirinya dan bahkan merasa bersalah jika emosi negatif menguasai dirinya.
2. Selalu Menghindari Masalah
Orang-orang yang memiliki kecenderungan toxic positivity tidak akan membiarkan emosi negatif muncul dari dalam dirinya, kan? Nah, untuk menekan perasaan dan emosi negatif yang muncul, orang tersebut lebih memilih untuk menghindari semua permasalahan yang ada dan bahkan tidak berinisiatif untuk mencari solusi dari masalah tersebut. Menghindar dari masalah bukanlah pilihan yang tepat karena semakin sering kita menghindari, bukannya menyelesaikan yang ada, itu hanya akan membuat kita menghadapi permasalahan yang lebih besar nantinya.
3. Kesulitan Mengelola Emosi
Seseorang yang tidak jujur dan terbuka pada dirinya sendiri, akan sulit untuk mengelola emosinya sendiri. Hal ini hanya akan membuat kamu semakin gelisah, baik secara mental maupun fisik karena emosi yang semakin tidak terkendali.
4. Motivasi yang Diberikan Malah Terkesan Menghakimi
Pernahkah kamu bercerita pada temanmu tentang suatu masalah, tetapi malah merasa dihakimi seolah-olah kamulah penyebab dari semua masalah itu? Jika iya, mungkin temanmu tidak sadar memiliki kecenderungan toxic positivity.
Motivasi yang diberikan seharusnya bisa membantu seseorang untuk bangkit dari keterpurukan atau membantu mencari solusi dari suatu masalah, bukan malah membebani orang lain.
5. Selalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Beberapa orang terkadang tidak sadar sudah membandingkan dirinya dengan orang lain atau menganggap bahwa orang lain lebih baik dari dirinya. Atau ketika seseorang meminta pendapat, kita malah melakukan perbandingan dengan diri sendiri atau dengan orang lain supaya orang tersebut terlihat lebih baik. Akan tetapi, situasi seperti ini bukanlah pilihan yang tepat untuk dilakukan. Karena itu hanya akan membuatnya menjadi tampak menyedihkan karena terlalu mudah menyerah dan tidak bersikap positif.
Coba perhatikan dan renungkan lagi deh, ciri-ciri yang sudah disebutkan di atas apakah ada di dalam dirimu atau orang-orang di sekitarmu?
Dampak yang Diberikan Apa Saja?
1. Kesulitan untuk Bersosialisasi
Orang dengan sifat toxic positivity tidak akan bisa jujur dengan dirinya sendiri bahkan orang lain. Dia tidak akan berani jujur dengan permasalahan yang sedang dihadapinya. Dan jika hal itu terus terjadi, maka orang lain akan kesulitan bersosialisasi dengan dirinya. Dia akan jarang bergaul dengan orang-orang di sekitarnya atau bahkan sekalipun dia bersosialisasi, emosi-emosi yang dikeluarkannya kemungkinan adalah kebahagiaan palsu.
2. Anxiety
Karena selalu ingin terlihat positif dan berusaha untuk selalu menampilkan yang terbaik, orang dengan kecenderungan toxic positivity cenderung gelisah dan was-was di antara banyak orang di sekitarnya. Dia akan merasa ketakutan jika dia melakukan kesalahan dan tidak menampilkan sisi terbaik dari dirinya.
3. Munculnya Stres
Seseorang dengan toxic positivity akan selalu memikirkan banyak hal untuk menekan emosi negatif yang ada. Hal-hal sepele akan selalu menjadi bahan overthinking yang tidak akan ada habisnya di kepalanya. Inilah yang akan memicu stres yang berlebihan. Stres yang berlebihan akan memberikan pengaruh buruk untuk kesehatan mental yang bahkan bisa membuat beberapa orang mengalami perubahan fisik.
4. Merasa Paling Benar
Karena selalu menampilkan sisi positif dari dirinya, orang dengan kecenderungan toxic positivity akan dianggap sebagai orang yang paling positif di lingkungannya. Akhirnya dia akan merasa paling benar dan menutup pada kenyataan-kenyataan yang sebenarnya, bahkan akan terus mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. Dia juga akan menganggap sepele masalah orang lain dan menganggap bahwa orang lain lebih lemah dari dirinya.
Tips Untuk Menghindari Toxic Positivity Dong?
1. Rasakan dan Kelola Emosi Negatif
Semua emosi yang kita rasakan, entah itu emosi positif atau negatif perlu untuk dirasakan dan diekspresikan sehingga tidak akan menimbulkan toxic positivity. Tidak ada yang salah dengan emosi negatif. Kalau kamu marah, nangis, curse, lakukan selagi itu tidak mengganggu orang lain. Terima dan ekspresikan semua emosi dalam diri kamu, ya.
2. Pahami dan Jangan Menghakimi
Emosi negatif yang kamu atau orang lain miliki nggak boleh dihakimi. Pahami emosi itu dan cari tahu bagaimana cara mengatasinya, bukan mengabaikannya. Ingat, bahwa semua emosi punya haknya masing-masing.
3. Hindari Membanding-bandingkan
Masalah yang kamu dan orang lain miliki tidak sama dan tidak perlu dibandingkan. Setiap orang memiliki tantangan dan masalahnya masing-masing. Tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah. Semua masalah itu berbeda.
Referensi
Goodman, W. (2022). Toxic Positivity: keeping it real in a world obsessed with being happy. Penguin.
Adrian, K. (2021, Mei 11). Mengenal Lebih Jauh Tentang Toxic Positivity. Alodokter. Cherry, K. (2021, Februari 1). What is Toxic Positivity? Very Well Mind.
Lestari, D. A. (2021, Januari 12). Jangan Salah, Ini Bedanya Sikap Optimis dan Toxic Positivity. Hellosehat.
