Konten dari Pengguna

Kamar Kost dan Seni Menjadi Dewasa: Antara Tugas HI dan Kucing Mujaer

Fitri Yanti

Fitri Yanti

Mahasiswi Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fitri Yanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: AI-generated visual. Suasana kamar kos dengan kehadiran kucing sekitar yang sering datang menemani.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: AI-generated visual. Suasana kamar kos dengan kehadiran kucing sekitar yang sering datang menemani.

Malam pertama di perantauan adalah yang terberat. Di dalam kamar kost ini, hawa dingin kesepian terasa begitu nyata. Biasanya, telinga saya riuh dengan suara Ayah yang menghidupkan musik, deru mesin jahit Ibu, hingga rengekan kucing saya yang kelaparan tiap kali habis pulang entah dari mana. Tiba-tiba saja, semua memori itu berputar di kepala, menyisakan rasa kangen dan takut. Ternyata, melepaskan kebiasaan bersama keluarga tidak semudah yang saya bayangkan. Namun, perlahan ketakutan itu berubah menjadi tantangan yang menyenangkan. Saya mulai belajar "seni bertahan hidup" secara mandiri. Memasak, mencuci baju, hingga menanam sayuran sendiri seperti kemangi, kangkung, daun bawang, dan seledri di sudut kost. Ada kebanggaan tersendiri saat bisa menikmati hasil masakan sendiri, atau sekadar menikmati kebebasan bangun siang di hari libur tanpa ada yang menegur. Ujian sesungguhnya datang saat tubuh ini tumbang. Menjadi anak kost yang sakit adalah momen paling melankolis. Saya teringat hangatnya tangan Ibu saat memijat, mengeroki, dan menyajikan bakwan udang, semur ayam, atau capcay kesukaan saya. Bahkan saya merindukan es krim yang biasa dibelikan Ayah meski saya sudah besar. Di sini, saya harus menahan pusing dan panas dingin sendirian, ditemani suara kucing liar yang berantem di luar—sangat berbeda dengan suara "meonggggg awowonggggg" kucing kesayangan saya di rumah. Kehidupan sebagai mahasiswa Hubungan Internasional (HI) tahun kedua pun menambah level tantangan ini. Memasuki semester enam, gempuran tugas seperti membuat artikel, video kelompok, hingga proyek UTS dan UAS seolah tak ada habisnya. Pusingnya kepala dan pegalnya kaki setelah berjalan pulang bersama sahabat saya, Agnes dan Dhara, seringkali diperparah dengan riuhnya suasana kost; mulai dari tetangga yang membawa banyak teman untuk menginap, suara ketokan palu, hingga alunan musik acara nikahan warga sekitar yang membuat istirahat menjadi barang mewah. Belum lagi urusan finansial yang terkadang "kritis". Saat jatah bulanan menipis karena terlalu asyik jajan bersama geng saya—Agnes, Angel, Anggun, Dhara, Erlin, dan Nafa—penyesalan pasti datang. Beruntung, saya punya dana darurat yang menyelamatkan saya dari kelaparan, juga dukungan dari Kakak saya yang cantik yang selalu memberikan uang jajan tambahan setiap bulannya. Dari sini saya belajar membagi waktu dan mengatur uang agar tidak terlalu membebani orang tua dan kakak.

Sumber: Dokumentasi pribadi | Keterangan: Kegiatan Sinar Bestari bersama anak-anak.

Di sela kesibukan kuliah yang melelahkan, saya juga menemukan wadah untuk memberi kembali melalui Sinar Bestari. Ini adalah komunitas relawan pendidikan yang dipelopori oleh anak muda seperti saya dan teman-saya untuk memberdayakan generasi muda Indonesia, khususnya bagi anak-anak yang memiliki akses terbatas. Dengan membawa nilai "Sinergi Nyata untuk Pemberdayaan" dan terinspirasi dari sosok Srikandi yang tangguh, kami berkomitmen membentuk generasi yang cerdas dan berprinsip. Kegiatan ini menjadi penawar lelah sekaligus pengingat untuk tetap bersyukur.

Sumber: Dokumentasi pribadi | Keterangan: Foto-Foto-foto kucing saya dengan muka menggemaskannya.

Momen yang paling ditunggu tentu saja saat libur lebaran tiba. Saat pulang, yang pertama saya cari adalah si "Jeyek" (alias Jelek), kucing kesayangan saya yang motif bulunya mirip ikan mujaer. Meski namanya Jeyek, aslinya dia sangat imut! Melihatnya tidur di teras rumah saja sudah membuat saya gemas luar biasa. Sambutan hangat Ibu dan ledekan Ayah saat melihat saya membawa koper hitam besar plus rentengan totebag—"Mau pindahan ya, Dek?" katanya—menjadi obat paling ampuh untuk semua rasa lelah di perantauan. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa ngekos ternyata tidak semenyedihkan yang dibayangkan. Ini adalah ruang belajar bagi kita untuk tumbuh, sebuah simulasi nyata sebelum nantinya kita benar-benar terjun ke dunia kerja atau membangun rumah tangga sendiri yang jauh dari orang tua. Lewat layar ponsel saat video call, seringkali ada rasa kangen yang tersembunyi yang tak sanggup saya ungkapkan secara langsung, namun rindu itulah yang justru menjadi bahan bakar bagi saya untuk tetap kuat bertahan di tanah rantau. Menjadi dewasa memang berarti harus berani melangkah keluar dari zona nyaman dan melepaskan kehangatan rumah demi mengejar mimpi. Sebagai mahasiswa semester enam yang sebentar lagi memasuki dunia magang, saya selalu berdoa agar setiap langkah saya diberikan tempat dan lingkungan yang baik. Perjalanan ini mungkin tidak selalu mudah, jalannya mungkin berliku, tapi saya belajar bahwa sejauh mana pun kita pergi, rumah dengan pelukan orang tua dan kehadiran hewan peliharaan tersayang akan selalu menjadi tempat pulang yang paling menenangkan. Hidup terpisah dari keluarga memang menantang, tapi dari sini saya membuktikan pada diri sendiri bahwa saya cukup tangguh untuk menaklukkan dunia perantauan ini.