Semangat Siswa Madrasah di NTT, Belajar dalam Kelas Beralaskan Tanah

MAUMERE- Belajar di ruang kelas darurat dan minim fasilitas menjadi keseharian yang dijalani puluhan siswa di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Dusun Blatat, Desa Darat Pantai, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT.
Ruang kelas yang hanya berdinding pelupuh bambu dan beralaskan tanah menjadi saksi bisu semangat puluhan siswa Madrasah Ibtidaiyah Kelas Filial Tanjung Darat belajar pelajaran umum dan ilmu agama Islam.
Tim Florespedia mengunjungi sekolah ini pada Selasa pagi (1/10). Kami bertemu puluhan siswa dan 4 guru yang setia mengabdi demi memajukan derajat pendidikan dan ilmu agama anak-anak di Desa Darat Pantai,
Ketika tiba di sekolah, waktu menunjukkan pukul 10.30 WITA. Saat itu, siswa kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan kelas 4 sedang belajar di ruangan kelas.
Saya pun bertemu Koordinator Sekolah Madrasah Ibtidaiyah, Masmur Harahap. Kepada kami, Masmur Harahap menuturkan sekolah ini berdiri pada tahun 2016 di atas tanah wakaf (hibah) salah seorang tokoh masyarakat desa, Rusli Ali.
Sekolah yang berdiri di atas tanah seluas 1.200 meter persegi itu terdiri dari 4 ruang kelas yang semua berupa bangunan darurat berdinding pelupuh bambu dan beratapkan seng.
Ada 3 ruangan kelas yang sudah berlantai semen kasar dan 1 ruang kelas, yakni ruang kelas 1, yang hingga kini masih beralaskan tanah.
Siswa kelas 2, kelas 3, dan kelas 4 sudah bisa menikmati ruangan kelas berlantai semen kasar, sedangkan siswa kelas 1 yang berjumlah 15 anak, masih harus belajar di ruangan yang beralaskan tanah.
Fasilitas yang ada di masing-masing ruang kelas berupa meja dan kursi siswa serta meja dan kursi guru. Ada pula sebuah lemari untuk menyimpan buku. Tak ada banyak hiasan di dinding kelas. Hanya berupa foto Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kala.
Madrasah ini belum memiliki ruangan guru dan ruangan perpustakaan, apalagi ruangan kepala sekolah. Bangunan sekolah hanya berupa 4 ruangan kelas, sehingga buku administrasi sekolah ditaruh pada masing-masing kelas.
Untuk menggelar rapat, guru biasanya menggunakan salah satu ruangan, kala siswa sudah selesai jam pelajaran sekolah.
Madrasah ini juga hanya mempunyai satu toilet umum yang dipakai bersama oleh guru dan siswa. Papan plang penanda sekolah pun hanya berupa sebuah papan kayu berukuran 50×30 sentimeter yang sudah mulai lapuk.
Pagar sekolah dari bilah bambu untuk memisahkan halaman sekolah dan tanah lapang luas serta hutan bakau yang persis berada di depan sekolah.
Masmur Harahap menuturkan misi dari pihaknya membangun sekolah agama agar anak-anak Muslim di Darat Pantai bisa belajar ilmu agama sejak dini secara optimal dibanding saat mereka belajar di sekolah umum.
Menurutnya, di tengah keterbatasan, walaupun duduk beralaskan tanah, 45 anak-anak semangat untuk belajar ilmu agama dasar berupa fikih, Alquran-hadits, dan bahasa Arab.
"Dengan adanya sekolah ini banyak orang tua muslim dan nonmuslim mendukung penuh. Anak-anak belajar ilmu agama Islam menjadi lebih terfokus,"ungkap Masmur.
Masmur Harahap mengatakan madrasah ini masih berupa kelas filial dari MIN 1 Sikka di Nangahure, Kecamatan Alok Barat. Mereka sedang berjuang untuk membangun yayasan sehingga madrasah ini dapat berdiri sendiri menjadi madrasah mandiri.
Lanjut Masmur Harahap, untuk tahun depan, pihaknya akan berswadaya lagi, ditambah dukungan sekolah induk untuk membangun 1 unit ruangan kelas bagi siswa kelas 5. Selain itu akan dibangun 1 ruangan kelas 6 secara swadaya.
"Sekarang baru sampai kelas 4. Tahun depan kami akan berusaha bangun 1 ruangan kelas lagi secara swadaya orang tua dan pengelola. Untuk ujian nasional akan dilakukan di sekolah induk, MIN 1 Sikka," ungkap Masmur Harahap.
Guru Digaji Rp 250 Ribu Sebulan
Salah seorang guru lainnya, Rafika, menuturkan dirinya rela mengabdi di madrasah ini, walaupun dengan fasilitas yang minim dan gaji yang kecil. Sebagai wali kelas 2, ia pun mengajarkan mata pelajaran umum serta ilmu agama bagi para siswa.
Terkait gaji, Rafika menuturkan ia dan 3 guru lainnya setiap bulannya mendapatkan gaji Rp 250 ribu yang biasa diterima setiap akhir bulan. Gaji yang diberikan memang terbilang kecil, tetapi dirinya tetap semangat untuk mengajar dan mengabdi bagi anak-anak muslim di Desa Darat Pantai.
Hal senada diungkapkan oleh Masmur Harahap. Menurutnya sebagai guru pertama sejak 2016 madrasah ini didirikan, ia sudah mengetahui konsekuensinya akan mendapatkan upah yang kecil.
Untuk kecukupan kebutuhan istri dan 2 anaknya, sepulang sekolah, ia juga menjadi nelayan sehingga bisa menambah penghasilan bagi keluarga kecilnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya gaji, Masmur Harahap, Rafika, dan 2 guru lainnya, tetap berkomitmen untuk membangun madrasah ini menjadi madrasah yang mandiri demi masa depan pendidikan anak-anak muslim di Desa Darat Pantai.(FP-01).
