Bokori dan Keindahan yang Tak Direncanakan

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harus saya akui, sekaligus saya kagumi, ia adalah pribadi yang memiliki kemauan keras. Jika sudah menginginkan sesuatu, ia akan memperjuangkannya sampai benar-benar terwujud. Tidak dengan cara memaksa, tetapi dengan keteguhan yang sulit digoyahkan. Dalam banyak keadaan, sifat seperti itu kadang melelahkan orang di sekitarnya. Namun di lain waktu, justru menjadi pintu menuju pengalaman yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Siang itu, setelah hampir setengah hari menikmati Pantai Toronipa, saya merasa perjalanan kami sudah cukup. Matahari mulai condong ke barat. Energi juga mulai berkurang. Di kepala saya, rencana pulang terasa jauh lebih masuk akal daripada menambah destinasi baru.
Namun rupanya ia belum selesai dengan hari itu.
Ketika kendaraan kami melewati belokan menuju penyeberangan Pulau Bokori, ia langsung meminta agar saya mengarah ke sana. Kalimatnya sederhana, tetapi nadanya menunjukkan bahwa keputusan itu sudah bulat.
Saya sempat ragu. Bukankah kami tidak membawa perlengkapan? Bukankah waktu sudah semakin sore? Bukankah perjalanan ini memang tidak ada dalam rencana?
Tetapi kadang hidup memang bergerak di luar logika daftar perjalanan yang sudah kita susun. Ada pengalaman yang tidak lahir dari perencanaan yang sempurna, melainkan dari keberanian menerima kemungkinan yang datang tanpa pemberitahuan.
Kami pun masuk ke lokasi penyeberangan.
Sebuah perahu kecil telah bersiap membawa rombongan menuju Pulau Bokori. Setelah membeli karcis, kami beruntung bisa langsung ikut tanpa perlu menunggu lama. Seolah-olah hari itu memang sedang memberi ruang bagi keputusan yang serba spontan.
Perjalanan hanya sekitar sepuluh menit. Laut tenang. Angin membawa aroma garam yang khas. Dari kejauhan, hamparan pasir putih Pulau Bokori mulai terlihat jelas.
Sesederhana itulah sebuah keputusan dapat mengubah arah sebuah hari.
Ketika Rencana Bukan Segalanya
Sesampainya di Pulau Bokori, rasa lelah yang sempat saya rasakan perlahan menghilang. Air laut yang begitu jernih memantulkan cahaya matahari seperti kaca bening. Pasir putih membentang bersih. Di beberapa sudut, anak-anak bermain pasir, keluarga menikmati waktu bersama, sebagian pengunjung berenang, sementara yang lain mencoba banana boat atau jet ski.
Ada sesuatu yang selalu menarik ketika melihat wajah-wajah orang yang sedang berlibur. Mereka tampak melepaskan sebagian beban yang selama ini dibawa. Tidak semua persoalan hidup selesai, tentu saja. Namun setidaknya, untuk beberapa jam, mereka memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk bernapas lebih lega.
Psikolog Amerika, Barbara Fredrickson, melalui teori Broaden-and-Build, menjelaskan bahwa emosi positif tidak sekadar membuat seseorang merasa senang. Emosi positif memperluas cara berpikir, meningkatkan kreativitas, serta membantu membangun ketahanan psikologis dalam jangka panjang. Liburan, menikmati alam, atau mengalami pengalaman baru sering kali menjadi pemicu munculnya emosi positif tersebut.
Mungkin itulah yang sedang terjadi pada kami.
Kami datang tanpa persiapan. Tidak membawa pakaian ganti khusus, tidak membawa perlengkapan berenang. Semua serba spontan.
Namun justru spontanitas itulah yang membuat pengalaman ini terasa jauh lebih hidup.
Sering kali kita terlalu percaya bahwa pengalaman terbaik selalu lahir dari perencanaan yang matang. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa mengatur hampir segala sesuatu: jadwal, target, anggaran, hingga waktu istirahat. Semua harus efisien dan terukur.
Cara berpikir seperti itu memang penting. Tetapi jika dibawa terlalu jauh, hidup perlahan kehilangan ruang bagi kejutan.
Padahal, menurut banyak penelitian mengenai kebahagiaan, salah satu sumber kepuasan hidup justru berasal dari pengalaman baru (novel experiences). Penelitian yang dipublikasikan dalam Nature Neuroscience menunjukkan bahwa pengalaman baru mampu meningkatkan aktivitas dopamin di otak, hormon yang berkaitan dengan motivasi, pembelajaran, dan rasa senang. Dengan kata lain, manusia memang dirancang untuk sesekali keluar dari rutinitas.
Pulau Bokori hari itu mengingatkan saya pada fakta sederhana tersebut.
Mengambang dan Belajar Melepaskan Kendali
Di Pantai Toronipa saya masih berhasil menahan diri untuk tidak turun ke laut. Namun di Bokori, saya menyerah. Airnya terlalu jernih untuk hanya dipandangi dari tepian.
Saya pun menceburkan diri ke laut. Tetapi yang paling saya nikmati bukan berenang. Saya lebih menikmati mengambang.
Keahlian sederhana itu saya peroleh ketika pernah tinggal di daerah pesisir. Tubuh direbahkan perlahan di atas air, napas diatur, lalu semua otot dibiarkan rileks. Tidak melawan ombak. Tidak panik. Tidak tergesa.
Yang dilakukan hanya percaya bahwa air akan menopang tubuh.
Semakin kita tegang, tubuh justru lebih sulit mengapung.
Semakin kita memaksa, keseimbangan justru semakin mudah hilang.
Saya sering merasa bahwa hidup pun bekerja dengan prinsip yang hampir sama.
Kita tumbuh dalam budaya yang mengajarkan bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendali. Kita ingin mengendalikan karier, keluarga, keuangan, bahkan masa depan. Seolah-olah seluruh hidup dapat dipastikan hanya dengan perencanaan yang rinci.
Padahal kenyataannya, hidup jauh lebih cair daripada itu.
Pandemi beberapa tahun lalu sudah menjadi pelajaran besar bahwa manusia tidak pernah benar-benar memegang kendali penuh. Banyak rencana runtuh dalam hitungan minggu. Banyak kepastian berubah menjadi ketidakpastian.
Mungkin karena itulah mengambang di laut selalu memberi saya ketenangan.
Laut mengajarkan bahwa pasrah bukan berarti menyerah.
Pasrah adalah memahami batas kendali kita.
Ada saatnya kita bekerja keras. Ada saatnya kita mengambil keputusan. Tetapi ada pula saatnya kita mempercayakan sebagian perjalanan kepada arus kehidupan yang tidak sepenuhnya bisa kita atur.
Bagi saya, mengambang menjadi semacam meditasi yang tidak membutuhkan ruangan sunyi ataupun musik relaksasi. Laut menjadi guru yang diam, tetapi pelajarannya begitu jelas.
Terima Kasih untuk Sebuah Keras Kepala
Kami bergantian mandi agar tetap ada yang menjaga barang bawaan. Sesekali kami sama-sama turun ke air, tetapi salah seorang tetap mengarahkan pandangan ke tempat barang-barang kami disimpan.
Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari mulai turun. Kami pun mengakhiri waktu di Pulau Bokori.
Ketika perahu kembali membawa kami meninggalkan Pulau Bokori, saya terus menoleh ke belakang. Pulau kecil itu semakin jauh, tetapi justru terasa semakin dekat dalam ingatan.
Dalam perjalanan pulang, saya diam-diam bersyukur karena tadi memilih mengalah.
Kalau saja saya bersikeras mempertahankan rencana awal, mungkin hari itu hanya akan menjadi satu perjalanan biasa ke Pantai Toronipa. Menyenangkan, tetapi mungkin tidak meninggalkan kesan yang begitu dalam.
Ternyata, seseorang yang memiliki kemauan keras kadang bukan sedang mempersulit keadaan. Ia hanya sedang melihat kemungkinan yang belum mampu kita lihat.
Tentu saja tidak semua keinginan harus selalu diikuti. Kehidupan tetap membutuhkan pertimbangan, kewaspadaan, dan akal sehat. Namun ada kalanya keraguan yang berlebihan justru membuat kita kehilangan kesempatan mengalami sesuatu yang berharga.
Barangkali inilah penyakit yang semakin banyak menjangkiti kehidupan modern. Kita terlalu sibuk menghitung risiko hingga lupa menghitung kemungkinan. Kita terlalu takut salah mengambil langkah sehingga akhirnya memilih tidak melangkah sama sekali.
Padahal, pengalaman hidup tidak pernah hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan besar. Ia juga dibangun oleh keputusan-keputusan kecil yang tampak sepele: berbelok ke sebuah dermaga, menaiki perahu yang tidak direncanakan, atau mengiyakan ajakan seseorang yang percaya bahwa hari itu masih menyimpan kejutan.
Pulau Bokori akhirnya bukan hanya menjadi tujuan wisata yang saya kunjungi. Ia berubah menjadi pengingat bahwa hidup sesungguhnya selalu menyediakan ruang bagi pengalaman baru, asalkan kita tidak terlalu kaku memegang rencana sendiri.
Sejak hari itu saya mulai berpikir, mungkin kebijaksanaan bukan hanya soal kemampuan menyusun rencana dengan baik. Kebijaksanaan juga terletak pada keberanian mengubah rencana ketika kehidupan menawarkan sesuatu yang lebih bermakna.
Dan jika suatu hari nanti saya kembali melewati belokan menuju penyeberangan Pulau Bokori, saya mungkin tidak akan lagi terlalu lama berpikir.
Sebab saya telah belajar bahwa ada keputusan-keputusan yang nilainya baru benar-benar kita pahami setelah perjalanan itu selesai. Bukan karena semuanya berjalan sempurna, melainkan karena pengalaman tersebut memperluas cara kita memandang hidup. Pada akhirnya, mungkin yang paling layak kita syukuri bukanlah bahwa semua berjalan sesuai rencana, tetapi bahwa kita masih memiliki keberanian untuk sesekali keluar dari rencana itu sendiri. Di sanalah, sering kali, hidup memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.
