Brussels, Kota Yang Sarat Sejarah, Kuliner yang Menggoda, dan Humor Jenaka

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Brussels, ibu kota Belgia, merupakan kota yang tenang namun dinamis. Brussel tampil sebagai kota dengan lapisan cerita yang tak habis digali. Ia bukan sekadar pusat administrasi Eropa, tetapi juga ruang hidup yang merayakan keberagaman rasa, rupa, hingga cara manusia berinteraksi lintas budaya. Jumlah penduduk di Belgia sekitar 11,7 juta (Worldometer, 2026). Banyak warga berasal dari negara-negara Uni Eropa, Afrika Utara, Turki, hingga Asia. Hal ini tidak lepas dari peran Brussels sebagai pusat berbagai institusi penting seperti Uni Eropa dan NATO. Brussels dipenuhi berbagai bahasa, budaya, dan tradisi yang hidup berdampingan. Lingkungan tertentu bahkan memiliki identitas multikultural yang sangat kuat, dengan restoran, toko, dan komunitas yang merepresentasikan asal-usulnya.
Belgian waffle, coklat, dan kentang goreng
Langkah pertama di kota Brussels disambut oleh aroma khas Belgian waffle yang dipanggang segar di kios-kios. Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam, dan sering disajikan dengan taburan gula halus, lelehan cokelat, susu, atau aneka topping yang bisa dipilih seperti buah stroberi, kiwi, atau pisang. Harga waffle bervariasi mulai dari 3 euro atau sekitar Rp 60 ribu sampai 6 euro atau 120 ribu per buah. Harga yang cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya.
Belgia telah lama dikenal sebagai rumah bagi Belgian chocolate terbaik di dunia. Di Brussels, cokelat bukan sekadar makanan penutup, melainkan bagian dari identitas nasional. Toko-toko cokelat berjejer dengan etalase artistik, menampilkan praline yang dibuat dengan teknik presisi tinggi. Tradisi ini berakar sejak abad ke-19, ketika inovasi dalam pengolahan kakao berkembang pesat di negara ini. Hingga kini, cokelat Belgia tetap menjadi simbol kualitas, kemewahan, dan dedikasi terhadap detail.
Selain cokelat, kentang juga memegang peranan penting dalam budaya kuliner Belgia. French fries yang secara lokal justru diklaim berasal dari Belgia. Kentang goreng ini menjadi camilan yang hampir selalu hadir di setiap sudut kota. Disajikan dalam kerucut kertas dengan berbagai pilihan saus yang didominasi mayones dan aneka campuran rasa. Kentang goreng di Brussels memiliki ciri khas, yaitu potongannya lebih besar dan digoreng dua kali untuk menghasilkan tekstur luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut. Bagi warga lokal, kentang goreng ini bukan sekadar makanan cepat saji, tetapi bagian dari keseharian.
Grand Place of Brussels, alun-alun yang memesona
Dari kuliner, perjalanan berlanjut ke ruang-ruang historis. Grand Place menjadi titik sentral yang tak bisa dilewatkan. Dikelilingi bangunan bergaya Gotik dan Barok, alun-alun ini menghadirkan suasana megah yang seolah membekukan waktu. Detail arsitektur yang rumit menjadi bukti kejayaan masa lalu sekaligus kebanggaan nasional.
Brussels menjadi panggung global. Wisatawan dari berbagai belahan dunia berkumpul, menciptakan mozaik budaya yang hidup. Bahasa menjadi alat utama dalam menjembatani perbedaan. Percakapan dapat dengan mudah berpindah dari bahasa Prancis ke Inggris atau Belanda, mencerminkan kemampuan adaptasi masyarakat lokal yang tinggi.
Komuniksai Antarbudaya dan Patung Anak Kecil Pipis
Komunikasi antarbudaya di Brussel tidak hanya soal bahasa, tetapi juga sikap dan perilaku. Warga cenderung menghargai ruang pribadi, menjaga kontak mata secukupnya, dan bersikap sopan tanpa kehilangan kehangatan. Fleksibilitas ini menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana perbedaan tidak menjadi hambatan, melainkan kekayaan.
Di tengah semua itu, terdapat sebuah ikon yang justru tampil sederhana namun sarat makna, yaitu Manneken Pis. Patung kecil setinggi sekitar 61 sentimeter ini menggambarkan seorang anak laki-laki yang sedang pipis. Meski ukurannya jauh dari megah, daya tariknya justru mendunia. Dibuat oleh Jerome Duquesnoy pada abad ke-17, Manneken Pis dikelilingi berbagai legenda. Salah satu kisah paling terkenal menyebutkan bahwa seorang anak kecil berhasil menyelamatkan kota dengan memadamkan sumbu bom menggunakan air kencingnya. Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, patung ini telah menjelma menjadi simbol keberanian, spontanitas, dan yang tak kalah penting, selera humor warga Brussels.
Keunikan lain dari Manneken Pis adalah tradisi kostumnya. Patung ini memiliki ratusan pakaian dari berbagai negara dan tema, yang dikenakan pada momen-momen tertentu. Bahkan, pada perayaan khusus, aliran airnya dapat digantikan dengan minuman seperti bir, menambah daya tarik sekaligus menunjukkan sisi santai kota ini.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa identitas sebuah kota tidak selalu dibangun dari kemegahan. Brussels justru menemukan kekuatannya dalam hal-hal kecil yang autentik. Dari makanan jalanan hingga patung mungil, semuanya berkontribusi pada narasi besar tentang keterbukaan dan keberagaman.
