Kumparan Logo

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Makanan Korea Cepat Digemari di Indonesia

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi dessert butter tteok. Foto: askwhatz/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dessert butter tteok. Foto: askwhatz/Shutterstock

Tren kuliner Korea memang enggak pernah ada habisnya. Selalu ada saja makanan baru yang mencuri perhatian publik. Belakangan, salah satu yang ramai diperbincangkan adalah dubai chewy, dessert asal Korea Selatan yang unik karena memadukan tekstur kenyal seperti mochi dengan isian pasta pistachio dan kunafa yang renyah.

Belum juga hype dubai chewy mereda, muncul butter teok yang ikut meramaikan jagat kuliner. Kue berbahan dasar tepung ketan, susu, dan butter ini dikenal dengan teksturnya yang renyah di luar namun tetap kenyal di dalam.

Tak hanya populer di Korea Selatan, butter teok juga dengan cepat mencuri perhatian pecinta kuliner di Indonesia. Bahkan, tak sedikit toko yang mulai menghadirkan versi mereka sendiri, salah satunya adalah Paris Baguette Indonesia.

Nyobain butter tteok, makanan Korea yang lagi viral. Foto: Azalia Amadea/kumparan

Mereka mencoba inovasi dengan menambahkan wijsman agar aromanya lebih harum dan buttery, sekaligus menyesuaikan dengan selera lokal yang cenderung menyukai rasa yang lebih kaya.

“Kalau di negara asalnya butter tteok hanya dinikmati dengan kental manis atau condensed Milk, di sini kami mengembangkan menjadi beberapa varian semisal isi matcha, double cheese, dan Nutella. Kemudian untuk saus cocolannya ada cokelat dan caramel yang dibuat secara homemade,” kata chef Indra Dewa, Field Trainer Baker Paris Baguette Indonesia saat berbincang dengan kumparanFOOD.

Indra mengaku, alasan turut menghadirkan menu butter teok karena melihat tren kuliner Korea sangat diminati di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya minat masyarakat terhadap budaya Korea, termasuk kulinernya, masih menjadi peluang besar bagi pelaku usaha untuk terus berinovasi dan menghadirkan menu yang relevan dengan selera pasar.

instagram embed

“Kami juga percaya makanan Korea masih bisa mendominasi pasar di sini. Untuk menu butter tteok sendiri saat ini masih limited time, tapi kalau tinggi peminat tidak menutup kemungkinan akan menjadi menu reguler,” katanya.

Butter tteok sendiri merupakan kue yang terbuat dari bahan utama butter dan tepung ketan. Menariknya, meskipun banyak yang mengira butter teok berasal dari Korea, kue ini sebenarnya berasal dari Shanghai atau yang dikenal dengan nama Shanghai butter rice cake. Nama “butter teok” sendiri diambil dari kata “tteok” dalam bahasa Korea yang berarti kue beras.

Nah, di balik fenomena ini, pernah enggak sih kalian bertanya-tanya, kok bisa makanan-makanan Korea begitu cepat viral di Indonesia?

Dosen Antropologi Gastronomi Universitas Padjadjaran Hardian Eko Nurseto. Foto: Universitas Padjadjaran

Ternyata, popularitas kuliner Korea tidak terjadi secara instan. Dosen Antropologi Gastronomi Universitas Padjadjaran, Hardian Eko Nurseto, menjelaskan bahwa di balik viralnya makanan Korea, mulai dari tteokbokki, kimchi, hingga butter tteok, terdapat strategi yang telah dirancang sejak lama.

Korea secara serius menjalankan strategi gastrodiplomasi, yakni menjadikan kuliner sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan budaya mereka ke dunia. Dengan cara ini makanan Korea tidak hanya dikenal, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat.

Menurut Seto, proses ini biasanya dimulai dari meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap drama atau musik Korea. Dari situ, rasa penasaran muncul dan mendorong mereka untuk mencoba berbagai makanan yang kerap tampil di layar.

“Ketika awareness masyarakat global terhadap Korea meningkat, mereka sebenarnya sudah menyiapkan ‘peluru’ yang siap dilempar ke berbagai negara untuk dipasarkan,” kata Seto.

Butter Tteok, makanan Korea yang lagi viral. Foto: Ela Nurlaela/kumparan

Rasa yang Familiar

Selain itu, faktor kedekatan rasa juga menjadi alasan mengapa kuliner Korea mudah diterima di Indonesia. Sebagai sesama negara Asia, profil rasanya dinilai tidak terlalu jauh berbeda dengan lidah masyarakat lokal.

"Jadi tidak terlalu lebar perbedaan preferensi rasanya sama seperti preferensi makanan yang disukai oleh orang Indonesia,” ujar dia.

Guru Besar Ilmu Perilaku Konsumen IPB University Prof Ujang Suwarman. Foto: IPB University

Senada dengan Seto, Guru Besar Ilmu Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Ujang Sumarwan, menilai bahwa dari sisi rasa, kuliner Korea relatif mudah diterima oleh lidah masyarakat Indonesia karena rasanya yang familiar.

"Banyak kesamaan dengan lidah kita. Jadi kan ada manis, gurih, pedas, itu kan sama dengan kita. Nah, beda dengan India yang sangat kuat spices-nya. Kari kan spices-nya sangat kuat itu bagi anak muda, kalau manis, gurih itu kan disukai anak muda," kata Prof Ujang.

Selain itu, bahan-bahan yang digunakan juga sudah akrab dalam keseharian masyarakat Indonesia. Hal ini membuat kuliner Korea terasa tidak terlalu asing dan lebih mudah diadaptasi.

Prof. Ujang menyebut popularitas kuliner Korea tak lepas dari efek spillover budaya pop, seperti K-Pop dan drama Korea. Menurutnya, penggemar kerap terdorong untuk meniru gaya hidup idol atau aktor favorit mereka, termasuk dalam hal makanan.

“Karena mereka punya idol orang Korea, dia akan semaksimal mungkin meniru, pakaiannya kan sudah, nah yang berikutnya itu makanannya,” jelasnya.

Visual Menarik

Ilustrasi dessert butter tteok. Foto: askwhatz/Shutterstock

Selain itu, tampilan makanan Korea yang menarik juga menjadi daya tarik tersendiri. Warna-warnanya yang cerah, plating estetik, hingga visual yang menggugah selera membuat makanan kuliner mudah sekali viral di media sosial.

Peran influencer dan konten digital pun tidak bisa diabaikan. Berbagai format konten seperti mukbang, ulasan makanan, hingga video singkat dapat menjadi stimulus yang memicu rasa penasaran masyarakat.

“Kalau dari sisi teori konsumen, ini semacam stimulus ya, mendorong orang mau nyoba. Jadi orang mau nyobalah, jadi terprovokasi mau nyoba,” tambahnya.

Fenomena ini juga semakin diperkuat oleh peran media sosial sebagai akselerator utama viralitas. Konten makanan yang menarik dapat dengan mudah dibagikan, ditiru, dan menjadi tren dalam waktu singkat.

“Media sosial itu mempercepat semuanya. Ada algoritma, ada user-generated content, jadi cepat sekali viral,” jelasnya.

Nyobain butter tteok, makanan Korea yang lagi viral. Foto: Azalia Amadea/kumparan

Meski begitu, Prof. Ujang menilai tren ini masih berada dalam tahap tren, belum menjadi megatren yang bertahan dalam jangka panjang. “Kalau sekarang mungkin masih tren. Bisa saja nanti digantikan oleh tren lain,” kata dia.

Menariknya, meskipun kuliner Korea populer, banyak masyarakat tetap kembali pada makanan lokal dalam keseharian. Dengan kata lain, tren kuliner Korea bukan untuk menggantikan, melainkan melengkapi ragam pilihan kuliner di Indonesia.