Konten dari Pengguna

Dari Teh Jepang ke Tren Gen Z: Perjalanan Matcha di Era Globalisasi

Gilard Danian Azzura Minadinagoro

Gilard Danian Azzura Minadinagoro

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gilard Danian Azzura Minadinagoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Segelas matcha latte yang kini semakin populer di kalangan Gen Z. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Segelas matcha latte yang kini semakin populer di kalangan Gen Z. Foto: Dokumentasi pribadi

Beberapa tahun lalu, matcha mungkin masih dianggap sebagai minuman yang 'asing' di Indonesia. Namun belakangan ini, matcha justru semakin mudah ditemukan, mulai dari kafe kecil, hingga kedai khusus matcha yang menjamur di berbagai kota. Fenomena ini terasa cukup menarik, terutama bagi generasi muda yang sangat aktif di media sosial. Matcha kini tidak hanya sekadar minuman teh asal Jepang, tetapi juga telah berubah menjadi bagian dari lifestyle modern di kalangan Gen Z. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa media sosial dan globalisasi memiliki peran besar dalam membentuk pola konsumsi masyarakat saat ini. Di balik segelas matcha yang terlihat sederhana dan menenangkan, terdapat perjalanan panjang tentang budaya, perdagangan internasional, hingga perubahan perilaku konsumen di era digital.

Popularitas matcha tidak muncul begitu saja jika dilihat lebih dalam. Di era media sosial, sesuatu bisa cepat naik daun, namun bukan hanya dari rasanya, tetapi juga karena citra yang dibangun di sekitarnya. Matcha membawa kesan yang earthy, calming, aesthetic, dan dianggap lebih cocok dengan gaya hidup Gen Z yang lekat dengan budaya visual. Bagi sebagian orang, memilih matcha bukan sekadar memilih minuman semata, tetapi juga memilih identitas: lebih kalem, lebih modern, dan lebih "relatable" untuk dibagikan ke media sosial. Dari sini terlihat bahwa konsumsi tidak lagi berdiri pada kebutuhan, melainkan juga pada simbol, tren, dan rasa ingin menjadi bagian dari arus yang sedang ramai.

Di tengah popularitas matcha, menarik juga untuk dilihat bagaimana minuman ini perlahan membentuk citra yang berbeda dari kopi. Jika kopi sudah lama melekat dengan budaya kerja, hustle, butuh kafein instan, dan kesan "dewasa" dalam kehidupan sehari-hari, matcha justru hadir dengan nuansa yang lebih tenang, lembut, dan modern. Bagi generasi muda, terutama Gen Z, matcha terasa lebih dekat dengan gaya hidup yang santai, visual, dan sering kali identik dengan aktivitas di kafe atau work from café (WFC). Perbedaan citra ini menunjukkan bahwa minuman bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal identitas sosial yang ingin ditampilkan. Dalam konteks ini, matcha tidak sekadar menjadi alternatif dari kopi, melainkan simbol dari perubahan selera dan gaya hidup pada generasi sekarang.

Perbandingan segelas matcha latte dan kopi yang memiliki citra gaya hidup berbeda di kalangan generasi muda. Foto: Dokumentasi pribadi

Fenomena ini erat kaitannya dengan globalisasi yang membuat suatu produk budaya dapat dengan cepat menyebar hingga ke berbagai negara. Matcha yang awalnya dikenal sebagai bagian dari tradisi upacara minum teh khas Jepang kini hadir dalam bentuk yang lebih modern dan mudah diterima oleh pasar global. Melalui media sosial, tren konsumsi dapat menyebar sangat cepat, sehingga permintaan terhadap matcha juga ikut meningkat di banyak negara, termasuk Indonesia. Pada titik ini, matcha bukan lagi sekadar produk lokal dari satu negara, melainkan komoditas global yang bergerak mengikuti permintaan pasar internasional. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ilmu ekonomi internasional, budaya, perdagangan, dan gaya hidup saling bertemu dalam satu ruang konsumsi yang sama.

Pada akhirnya, tren matcha menunjukkan bahwa sebuah minuman bisa membawa cerita yang lebih besar dari sekadar rasa. Di balik segelas matcha, ada jejak budaya Jepang, pengaruh media sosial, perubahan selera generasi muda, hingga arus globalisasi yang membuat satu produk dapat menyebar ke berbagai negara dengan sangat cepat. Matcha menjadi contoh bahwa dalam ekonomi internasional, barang tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga membawa makna, identitas, dan gaya hidup baru. Karena itu, mungkin yang membuat matcha menarik bukan hanya karena ia enak atau sedang tren, melainkan karena ia memperlihatkan bagaimana budaya dan pasar bisa saling membentuk di era global saat ini.