Kumparan Logo

Papua Barat Jadi Provinsi Paling Bikin Betah Turis Asing, Ini Kata Pengamat

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tampilan udara gugusan pulau karst tropis di Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia, dengan kapal selam wisata mewah berlayar di antara pulau-pulau kecil pada musim panas. Foto: blind.impulse/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Tampilan udara gugusan pulau karst tropis di Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia, dengan kapal selam wisata mewah berlayar di antara pulau-pulau kecil pada musim panas. Foto: blind.impulse/Shutterstock

Bali selama ini dikenal sebagai destinasi utama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia. Namun, data terbaru justru menunjukkan provinsi di Tanah Papua menjadi wilayah yang paling lama membuat turis asing tinggal di Indonesia.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berdasarkan rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang di Indonesia per Februari 2026, Papua Barat justru menempati urutan pertama dengan masa tinggal turis asing paling lama di Indonesia.

Menanggapi hal itu, pengamat pariwisata Prof. Azriel menilai capaian Papua Barat mencerminkan adanya perubahan tren wisata global. Menurutnya, wisman kini tidak lagi hanya mencari destinasi populer, tetapi lebih tertarik pada pengalaman yang unik dan autentik.

“Harusnya kementerian melihat adanya pergeseran paradigma pariwisata dunia. Perilaku wisatawan sekarang berubah. Mereka mencari tiga hal utama, yaitu uniqueness, authenticity, dan localized,” ujar Prof. Azriel saat dihubungi kumparan pada Sabtu (25/4).

Seorang wisatawan mancanegara mengamati suvenir yang dijual saat Mini Festival Lembah Baliem 2022 di Kampung Wosiala, Distrik Usilimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (8/8/2022). Foto: ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra

Ia menjelaskan, keunggulan Papua Barat dan wilayah Papua secara umum terletak pada kekayaan alam yang masih alami. Salah satu daya tarik utamanya adalah wisata alam dan pengamatan satwa endemik, termasuk burung cenderawasih yang hanya bisa ditemukan di kawasan tersebut.

Alasan Wisatawan Betah di Papua

Menurutnya, wisatawan asing yang datang ke Papua umumnya memang menghabiskan waktu lebih lama. Sebab, aktivitas seperti bird watching, fotografi alam, hingga eksplorasi kawasan membutuhkan waktu lebih panjang dibanding liburan singkat di kota wisata biasa.

“Mereka tidak bisa tinggal dua atau tiga hari. Biasanya seminggu atau lebih, karena untuk melihat burung, mengambil foto, atau menunggu momen terbaik itu butuh waktu,” katanya.

Burung Cenderawasih di di Hutan Nangguo, Sausapor, Tambrauw, Papua Barat. Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata

Selain itu, wisatawan yang datang ke Papua dinilai memiliki loyalitas tinggi. Banyak di antaranya merupakan wisatawan minat khusus yang datang kembali karena pengalaman berbeda yang tidak didapat di negara lain.

Prof. Azriel menambahkan, lamanya masa tinggal wisatawan seharusnya menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan sektor pariwisata, bukan semata jumlah kunjungan.

“Target pariwisata jangan hanya jumlah wisatawan. Yang penting adalah length of stay dan spending money. Semakin lama tinggal, semakin besar pengeluaran mereka untuk akomodasi, konsumsi, hingga belanja,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai Bali mulai menghadapi tantangan karena sebagian unsur keunikan lokalnya mulai bergeser akibat orientasi bisnis yang terlalu kuat. Karena itu, destinasi lain seperti Papua kini memiliki peluang besar untuk naik daun.

“Papua menawarkan alam yang natural, pemandu wisata yang bagus, dan pengalaman yang sangat khas. Itu yang dicari turis sekarang,” pungkasnya.