Konten dari Pengguna

Akal – Akalan Inggris Mengenai Wortel

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagas Sultan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Perang Dunia 2, negara – negara yang sedang berperang akan sangat menggelontorkan dana pada sektor riset dan teknologi guna mengembangkan serta menciptakan perangkat yang mendukung dalam peperangan. Baik itu dari blok sekutu maupun blok poros terus mengembangkan teknologi yang terasa seperti melampaui zamannya. Sebagai contoh pihak poros atau Nazi Jerman yang memiliki persenjataan serta teknologi yang canggih, seperti roket V-2 yang merupakan rudal balistik jarak jauh pertama, Messerschmitt Me 262 yang merupakan pesawat tempur bertenaga jet pertama yang beroperasi, dan lain sebagainya. Bahkan setelah perang usai, Amerika Serikat sampai tertarik untuk membawa beberapa ilmuwan Jerman ke tanah Paman Sam dalam Operasi Paperclip.

Akan tetapi, kecanggihan teknologi buatan Nazi Jerman terkadang masih dapat dikejar. Salah satunya seperti Kerajaan Inggris yang pada saat itu juga berpartisipasi aktif dalam melawan Nazi Jerman. Pada 7 September 1940, Luftwaffe yang merupakan angkatan udara Nazi Jerman melakukan misi pengeboman paling intens yang bernama The Blitz. Misi tersebut merupakan perintah langsung dari Hermann Goring selaku komandan tertinggi dari Luftwaffe. Rentetan pengeboman tersebut menargetkan Britania Raya yang berlangsung hingga 8 bulan lamanya. Beberapa kota besar seperti London, Liverpool, maupun Bristol menjadi sasaran dari Luftwaffe.

Melihat beberapa kota di Britania Raya yang terus menerus dijatuhkan bom, pemerintah Kerajaan Inggris pun segera bertindak cepat. Bentuk tindakan cepat dari Kerajaan Inggris yaitu seperti dengan pemadaman massal seluruh kota yang menjadi target Luftwaffe, pemasangan meriam anti-aircraft, serta pengerahan angkatan udara atau Royal Air Force guna menjatuhkan pesawat pengangkut bom milik Nazi Jerman. Pemadaman massal tersebut bukanlah tanpa alasan. Dikarenakan misi The Blitz sendiri merupakan operasi night raid atau serangan pada malam hari, sehingga pemadaman massal bertujuan guna mengaburkan pandangan para pilot Luftwaffe. Akan tetapi, pemadaman massal tersebut ternyata juga menjadi bumerang bagi Royal Air Force. Di satu sisi, pemadaman masal tersebut memang mengaburkan penglihatan para pilot Luftwaffe, di sisi lain juga berdampak sama terhadap penglihatan pilot Royal Air Force. Dilansir dari laman The Guardian yang menyebutkan bahwa uji coba oleh Royal Air Force mengungkapkan sejauh mana kurangnya penerangan di darat membingungkan bahkan pilot Inggris yang mencoba menemukan penanda lokasi. Hal tersebut diperparah juga oleh fakta yang menyatakan bahwa pesawat Luftwaffe dilengkapi oleh sistem radar sederhana. Sistem yang dimiliki oleh Luftwaffe yaitu Knickebein yang merupakan sistem navigasi yang menggunakan kode morse guna memandu para pilot serta X-Gerät dan Y-Gerät yang merupakan sistem penentuan jarak berbasis pancaran dan transponder frekuensi tinggi yang lebih canggih, yang digunakan kemudian dalam Blitz untuk menandai target secara tepat.

Ilustrasi John Cunningham. Foto: Ilustrasi AI

Maka dari itu, pemerintah Britania Raya juga berusaha untuk mengembangkan sistem radar ala mereka yang digunakan pada pesawat Royal Air Force. Salah satu sistem radar yang sukses yaitu bernama Aircraft Interception (AI) Mk. IV. Menurut laman Royal Air Force Museum menyatakan bahwa pada 19 November 1940, sebuah Junkers Ju885-A dari 3/Kampfgeschwader 54 rusak akibat tembakan Beaufighter yang diterbangkan oleh Letnan Penerbangan John Cunningham dan Sersan J. Philipson dari Skuadron no. 604 di atas Midlands dan kemudian jatuh di dekat East Wittering, Chichester. Atas prestasi tersebut pilot John Cunningham mendapatkan julukan “Cats Eyes”. Akan tetapi oleh pemerintah Britania Raya, keberhasilan radar tersebut berusaha mereka tutupi dengan sebuah propaganda wortel, yang bisa dikatakan konyol. Berdasarkan laman Smithsonian magazine menyatakan jika pemerintah Britania Raya mengatakan kepada surat kabar bahwa alasan keberhasilan Royal Air Force adalah karena pilot seperti Cunningham mengonsumsi wortel secara berlebihan.

Secara kandungan, wortel memiliki vitamin A yang berguna untuk menjaga kesehatan mata terutama retina serta mencegah rabun senja. Akan tetapi, wortel tidak serta merta memberikan pengaruh lebih terhadap ketajaman penglihatan. Berdasarkan laman Halodoc menyatakan bahwa manfaat dari wortel memang baik untuk menjaga kesehatan mata, tetapi tidak dapat meningkatkan ketajaman penglihatan (mengobati gangguan mata minus maupun silinder). Terlalu banyak mengonsumsi wortel juga dapat memberikan efek samping pada tubuh seperti kulit yang berubah warna menjadi kekuningan (karotenemia), masalah pencernaan, dan yang paling parah yaitu berpotensi menyebabkan kelebihan vitamin A. Namun hingga saat ini terdapat segelintir masyarakat yang masih mempercayai propaganda wortel dari masa Perang Dunia 2. Cerita turun temurun, bias informasi medis, serta penyampaian fakta sejarah yang tidak menyeluruh bisa menjadi faktor mengapa masih terdapat orang yang percaya propaganda wortel.