Konten dari Pengguna

Lulus Kuliah Bukan Jaminan Kerja: Mengapa Anak Muda Sulit Mendapat Pekerjaan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frastian Yeskia Renaldi Lumban Tobing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi editorial untuk artikel opini tentang tantangan lulusan baru memasuki dunia kerja. Visual menggambarkan seorang lulusan muda Indonesia membawa CV di tengah keramaian bursa kerja, sebagai simbol persaingan dan ketidakpastian memperoleh pekerjaan setelah lulus kuliah. (chatgpt.ai)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi editorial untuk artikel opini tentang tantangan lulusan baru memasuki dunia kerja. Visual menggambarkan seorang lulusan muda Indonesia membawa CV di tengah keramaian bursa kerja, sebagai simbol persaingan dan ketidakpastian memperoleh pekerjaan setelah lulus kuliah. (chatgpt.ai)

Ada satu pertanyaan yang semakin menghantui banyak anak muda Indonesia setelah wisuda: setelah bertahun-tahun belajar, membayar biaya pendidikan, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan mengejar nilai, mengapa mendapatkan pekerjaan yang layak masih terasa begitu sulit?

Bagi sebagian lulusan baru, wisuda bukanlah garis awal menuju kehidupan yang lebih mapan. Justru setelah toga dilepas, perjuangan baru dimulai. Mereka mengirim puluhan lamaran, memperbarui CV, mengikuti tes daring, menjalani wawancara, lalu menerima jawaban yang sama: belum sesuai kualifikasi.

Ironisnya, tidak sedikit lowongan yang meminta pengalaman kerja bagi kandidat yang baru saja lulus. Ada pula pekerjaan dengan tanggung jawab besar, tetapi menawarkan upah yang sulit mengimbangi biaya hidup di kota tempat pekerjaan itu berada.

Di tengah situasi tersebut, anak muda sering mendapat nasihat yang terdengar sederhana: tingkatkan keterampilan, perluas jaringan, jangan pilih-pilih pekerjaan, dan terus berusaha.

Nasihat itu tidak sepenuhnya salah. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah persoalan sulitnya mendapatkan pekerjaan memang semata-mata disebabkan oleh kurangnya kemampuan individu, atau ada masalah struktural dalam hubungan antara pendidikan dan pasar kerja?

Jika setiap kegagalan mencari pekerjaan selalu dibebankan kepada pencari kerja, kita berisiko mengabaikan persoalan yang lebih besar: bagaimana pendidikan, dunia usaha, dan kebijakan ketenagakerjaan menyiapkan masa depan generasi muda.

Angka Pengangguran Bukan Sekadar Statistik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen. Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang dan penduduk yang bekerja mencapai 147,67 juta orang. Rata-rata upah buruh tercatat Rp3,29 juta per bulan.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar angkatan kerja memang bekerja. Namun, angka pengangguran nasional tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh persoalan yang dihadapi lulusan baru.

Ada perbedaan antara memiliki pekerjaan dan memperoleh pekerjaan yang layak, stabil, sesuai keterampilan, serta memberikan kesempatan berkembang. Seseorang bisa saja tercatat bekerja, tetapi masih menghadapi jam kerja yang tidak memadai, pendapatan yang terbatas, atau pekerjaan yang jauh dari kompetensi pendidikannya.

Inilah sebabnya diskusi tentang masa depan anak muda tidak cukup berhenti pada persentase pengangguran. Kita juga perlu melihat kualitas pekerjaan, tingkat upah, kepastian hubungan kerja, dan peluang mobilitas karier.

Angka nasional memberikan gambaran penting, tetapi pengalaman seorang lulusan baru juga ditentukan oleh lokasi tempat tinggal, bidang studi, kondisi ekonomi keluarga, akses transportasi, dan kebutuhan industri di daerahnya.

Dengan kata lain, tantangannya bukan hanya menciptakan pekerjaan, melainkan memastikan pekerjaan yang tersedia benar-benar dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan Tinggi, Ekspektasi Tinggi, Peluang yang Terbatas

Selama bertahun-tahun, pendidikan sering dipandang sebagai salah satu jalan utama untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Gelar akademik diharapkan membuka peluang kerja, meningkatkan penghasilan, dan memperluas masa depan.

Harapan itu masih relevan. Pendidikan memberikan pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan kesempatan mengembangkan keterampilan. Namun, gelar tidak otomatis menjadi tiket masuk ke pekerjaan yang diinginkan.

Masalah muncul ketika lulusan bertambah, tetapi hubungan antara kurikulum dan kebutuhan dunia kerja tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Sebagian perusahaan membutuhkan kemampuan praktis yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di kelas. Sebaliknya, perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan dengan bekal teori yang baik, tetapi kesempatan menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi kerja nyata masih terbatas.

Akibatnya, muncul lingkaran yang menyulitkan. Lulusan membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pengalaman, tetapi pengalaman justru dijadikan syarat untuk mendapatkan pekerjaan.

Program magang dapat menjadi jembatan, tetapi kualitasnya perlu diperhatikan. Magang seharusnya memberi kesempatan belajar, pendampingan, dan pengalaman profesional yang nyata, bukan sekadar memindahkan pekerjaan rutin kepada peserta tanpa kejelasan manfaat.

Perguruan tinggi, perusahaan, dan pemerintah perlu memperkuat kerja sama agar mahasiswa memperoleh pengalaman relevan sebelum lulus. Namun, tanggung jawab itu tidak boleh dibebankan kepada kampus semata. Perusahaan juga harus menjelaskan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dan menyediakan jalur masuk yang masuk akal bagi pemula.

Jangan Semua Kesalahan Dibebankan kepada Anak Muda

Ketika sulit mendapatkan pekerjaan, anak muda sering dianggap kurang kompeten, terlalu banyak menuntut, atau tidak mau memulai dari bawah.

Sebagian pencari kerja memang perlu meningkatkan kemampuan dan menyesuaikan ekspektasi. Akan tetapi, generalisasi semacam itu tidak adil jika digunakan untuk menjelaskan seluruh persoalan ketenagakerjaan.

Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pelatihan berkualitas, perangkat digital, transportasi, jaringan profesional, atau kesempatan magang. Anak muda dari keluarga yang mampu mungkin dapat mengikuti kursus tambahan, tinggal dekat pusat pekerjaan, atau menjalani magang dengan dukungan finansial keluarga.

Sebaliknya, pencari kerja yang harus membantu ekonomi rumah tangga tidak selalu memiliki kemewahan untuk bekerja tanpa bayaran atau menunggu berbulan-bulan demi memperoleh pekerjaan yang sesuai.

Ketimpangan akses ini membuat persaingan di pasar kerja tidak selalu dimulai dari garis yang sama.

Karena itu, membicarakan daya saing generasi muda harus disertai pembahasan mengenai akses terhadap kesempatan. Pelatihan keterampilan akan lebih bermanfaat jika terjangkau. Informasi lowongan akan lebih berarti jika dapat diakses secara luas. Program magang akan lebih adil jika tidak membuat peserta menanggung biaya yang tidak masuk akal.

Kita perlu mendorong anak muda untuk terus belajar, tetapi jangan sampai semangat pengembangan diri berubah menjadi alasan untuk menutup mata terhadap persoalan sistemik.

Gaji, Biaya Hidup, dan Dilema Pekerjaan Pertama

Mendapatkan pekerjaan pertama bukan berarti seluruh persoalan selesai. Bagi sebagian lulusan baru, tantangan berikutnya adalah apakah penghasilan yang diterima cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari.

Biaya tempat tinggal, makan, transportasi, komunikasi, dan kebutuhan keluarga dapat menghabiskan sebagian besar pendapatan, terutama di wilayah perkotaan dengan biaya hidup tinggi.

Data BPS menunjukkan rata-rata upah buruh nasional pada Februari 2026 sebesar Rp3,29 juta per bulan. Angka ini merupakan rata-rata seluruh buruh dalam cakupan statistik tersebut, bukan standar gaji lulusan baru dan bukan pula gambaran yang sama untuk setiap daerah atau jenis pekerjaan.

Perbedaan itu penting. Upah harus dibaca bersama lokasi kerja, jam kerja, biaya hidup, serta jenis pekerjaan yang dijalankan.

Jika seseorang harus mengeluarkan biaya transportasi dan tempat tinggal yang besar hanya untuk mempertahankan pekerjaannya, manfaat ekonomi dari pekerjaan tersebut dapat menjadi terbatas.

Situasi ini juga menjelaskan mengapa pembahasan tentang pekerjaan pertama tidak seharusnya hanya berfokus pada apakah seseorang sudah bekerja. Pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah apakah pekerjaan tersebut memberikan pendapatan yang memadai, perlindungan dasar, dan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang produktif. Namun, produktivitas tidak dapat terus-menerus dibangun dengan mengandalkan pekerja yang berada dalam tekanan ekonomi tanpa kepastian masa depan.

Kecerdasan Buatan Menambah Tantangan Baru

Perubahan teknologi juga membuat persoalan ini semakin kompleks. Kecerdasan buatan dapat membantu perusahaan menyelesaikan pekerjaan administratif, mengolah informasi, menghasilkan konten, dan mempercepat proses bisnis.

Di satu sisi, teknologi membuka peluang pekerjaan dan jenis usaha baru. Anak muda yang mampu memanfaatkannya dapat meningkatkan produktivitas dan memperluas pilihan karier.

Di sisi lain, perubahan teknologi dapat menggeser sebagian tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia. Perusahaan juga mungkin mengubah kualifikasi yang mereka cari, sehingga keterampilan yang relevan beberapa tahun lalu belum tentu cukup untuk pekerjaan tertentu saat ini.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mengejar penguasaan perangkat atau aplikasi terbaru. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, pemecahan masalah, kolaborasi, dan adaptasi tetap penting.

Pemerintah dan institusi pendidikan perlu memperluas pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri, sekaligus memastikan bahwa akses terhadap pelatihan tidak hanya tersedia bagi mereka yang mampu membayar.

Perusahaan pun perlu menjelaskan bagaimana perubahan teknologi memengaruhi kebutuhan tenaga kerja dan membuka kesempatan bagi pemula untuk mempelajari keterampilan yang diperlukan.

Menghadapi AI bukan berarti setiap anak muda harus menjadi programmer. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami perubahan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan mengembangkan keahlian yang bernilai dalam bidang masing-masing.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Persoalan transisi dari pendidikan menuju pekerjaan memerlukan langkah yang saling melengkapi.

Pertama, perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan dunia usaha tanpa mengubah pendidikan menjadi sekadar pabrik tenaga kerja. Kurikulum harus tetap memberikan fondasi pengetahuan, tetapi kesempatan praktik, proyek nyata, dan bimbingan karier juga perlu diperluas.

Kedua, perusahaan perlu menyediakan jalur rekrutmen yang realistis bagi lulusan baru. Persyaratan pekerjaan harus relevan dengan tanggung jawabnya. Jika pengalaman menjadi kebutuhan utama, perusahaan dapat menjelaskan jalur magang atau pelatihan yang memungkinkan kandidat membangun pengalaman tersebut.

Ketiga, pemerintah perlu memperkuat akses terhadap informasi lowongan, pelatihan berbasis kebutuhan industri, dan evaluasi program penempatan kerja. Hasil program sebaiknya diukur bukan hanya dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, melainkan juga dari berapa banyak yang memperoleh pekerjaan, bagaimana kualitas pekerjaannya, dan apakah mereka dapat bertahan serta berkembang.

Keempat, perlindungan pekerja pemula perlu diperhatikan. Kepastian mengenai upah, jam kerja, status hubungan kerja, dan hak pekerja harus menjadi bagian dari ekosistem ketenagakerjaan yang sehat.

Kelima, anak muda tetap perlu mengambil peran aktif. Membangun portofolio, mempelajari keterampilan yang relevan, memperluas jaringan, dan mencari informasi karier merupakan langkah yang dapat membantu memperbesar peluang. Namun, upaya individu tersebut akan jauh lebih efektif jika didukung sistem yang menyediakan kesempatan secara adil.

Masa Depan Anak Muda Bukan Urusan Anak Muda Saja

Generasi muda sering disebut sebagai penentu masa depan bangsa. Akan tetapi, slogan itu kehilangan makna jika mereka hanya diminta menjadi lebih kompetitif tanpa memperoleh akses yang memadai terhadap kesempatan kerja.

Pendidikan harus membuka jalan, bukan berhenti pada pemberian ijazah. Dunia usaha perlu menyediakan kesempatan yang masuk akal bagi pekerja pemula. Pemerintah harus memastikan kebijakan ketenagakerjaan menjawab kebutuhan nyata, bukan hanya menghasilkan angka program yang terlihat baik.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang sulitnya lulusan baru mendapatkan pekerjaan bukan semata-mata persoalan individu yang belum cukup berusaha. Ini juga merupakan ujian bagi kemampuan negara dan dunia usaha dalam menghubungkan pendidikan, produktivitas, dan kesejahteraan.

Anak muda memang perlu terus belajar dan beradaptasi. Namun, mereka juga berhak memperoleh kesempatan yang wajar untuk membuktikan kemampuannya.

Sebab, ijazah seharusnya menjadi awal dari kesempatan, bukan sekadar dokumen yang mengingatkan seseorang pada pekerjaan yang belum berhasil ia dapatkan.

Jika Indonesia ingin memanfaatkan potensi generasi mudanya, ukuran keberhasilan tidak cukup berupa berapa banyak orang yang lulus atau berapa banyak lowongan yang diumumkan. Ukuran yang lebih bermakna adalah apakah anak muda memiliki kesempatan nyata untuk bekerja, berkembang, dan membangun kehidupan yang layak.

Masa depan generasi muda tidak bisa hanya diserahkan kepada generasi muda itu sendiri. Negara, dunia pendidikan, dan dunia usaha harus ikut memastikan bahwa kerja keras benar-benar memiliki jalan menuju kesempatan.