Standar Ganda Berbasis Gender: Fenomena yang Dianggap “Wajar”

Siswa SMA Citra Berkat Tangerang
Tulisan dari Fredy Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesetaraan masih menjadi salah satu permasalahan di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Masalah ini seakan tidak pernah hilang dari pandangan masyarakat. Kita sebagai manusia adalah setara dan memiliki hak yang sama dimata sang pencipta. Namun, dalam masyarakat terkadang kita mendapat perlakuan yang tidak sama karena berbagai stigma yang tumbuh dalam masyarakat. Ini akan terus menjadi masalah dan akan semakin besar jika tidak segera dihilangkan, sehingga perlu untuk mengenali standar ganda dan cara mencegahnya.
Apa Itu Standar Ganda?
Standar ganda atau double standard adalah keadaan dimana seseorang atau suatu pihak memberikan penilaian, perilaku maupun sikap yang berbeda pada suatu pihak dengan kasus yang serupa. Contoh standar ganda yang sering ditemui adalah ketika seorang laki-laki menjadi pemimpin merupakan hal yang biasa dan wajar, tetapi ketika seorang perempuan yang menjadi pemimpin akan dianggap lemah dan tidak mampu.
Baik itu laki-laki maupun perempuan, masing-masing memiliki porsi standar aktivitas mereka dalam melakukan kegiatan setiap harinya. Mungkin laki-laki dinilai lebih kuat dalam mengangkat beban berat sedangkan perempuan lebih pintar dalam menggunakan pemikiran dan perasaan. Sehingga jika dilihat dari perumpamaan tersebut bahwa setiap gender memiliki porsi kesetaraannya itu tersendiri dan hal itu pun wajar dalam kehidupan manusia.
Beberapa contoh dari standar ganda yang sering terjadi di masyarakat:
1. Mental
Dimana ketika perempuan mendapatkan masalah, mereka menangis dan bercerita kepada temannya itu dianggap normal. Ketika laki-laki menangis dan bercerita kepada temannya karena masalah dan beban hidupnya, dia akan dianggap cemen dan cengeng.
2. Pekerjaan atau gaji
Ketika bekerja hanya dianggap sebagai kodrat dari seorang laki-laki atau kepala keluarga, sehingga ketika perempuan bekerja dan mencari nafkah ada tanggungan pekerjaan rumah tangga juga yang harus dipenuhi, yang memunculkan ‘peran ganda’ bagi perempuan.
3. Pendidikan
Ketika melihat laki-laki yang berpendidikan tinggi akan dipuji, tetapi ketika melihat perempuan yang cerdas dan berpendidikan tinggi akan di judge dengan mengatakan “untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, kan nantinya juga jadi ibu rumah tangga”.
Menghilangkan Stigma Standar Ganda Mulai dari Diri Sendiri
Supaya stigma tentang standar ganda tidak semakin meluas, harus kita cegah dan hentikan mulai dari diri kita sendiri, melalui cara-cara berikut ini:
1. Melihat sesuatu secara objektif dan menghindari subjektivitas
2. Tidak mudah termakan stereotip ataupun opini yang muncul
3. Memperluas perspektif
4. Menghindari fanatisme yang berlebihan
5. Bersikap open minded
Ketidaksetaraan gender atau perlakuan tidak adil masih ada, bahkan sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Standar ganda ini juga memperlihatkan bahwa kelompok atau individu dapat diberikan perlakuan berbeda yang diukur dengan standar yang berbeda. Baik itu laki-laki maupun perempuan, keduanya memiliki potensi untuk mendapat perlakuan yang tidak adil. Sebagai generasi muda, kita harus segera mencegah dan menghentikan tindakan standar ganda agar tidak semakin meluas. Untuk itu, dapat dimulai dari langkah sederhana dan mulai dari diri sendiri sebelum melangkah melakukan perubahan yang lebih besar.
