Konten dari Pengguna

Adolf Hitler dan Akurasi Historis Film "Der Untergang"

Ignatius Fridolin

Ignatius Fridolin

Mahasiswa Sastra Inggris & Staff Jurnal LPPM Universitas Sanata Dharma Membagikan Sejarah, Seni, dan Budaya

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ignatius Fridolin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Visualisasi film der Untergang (Foto: penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Visualisasi film der Untergang (Foto: penulis)

Film "Der Untergang" (The Downfall) menguak saat-saat terakhir die Fuhrer—panggilan untuk Adolf Hitler. Setelah sekian banyak agresi militer Nazi Jerman ke berbagai wilayah Eropa mencapai titik balik pada 1945, Berlin jatuh ke dalam kepungan tentara merah Uni Soviet yang datang dari Timur. Hitler, dalam keterpurukan menghadapi Stalin dan sekutu, menghadapi pengkhianatan dan ketidaksetiaan para perwiranya sendiri.

Di dalam bunker Reichskanzlei (kantor kanselir), Hitler mengakui kenyataan bahwa Jerman telah takluk, bukan hanya karena musuh tapi ketidaksetiaan orang-orangnya. Didasarkan pada memoar "Until the Final Hour", film "Der Untergang" tidak saja menerangkan secara detail bagaimana kanselir Jerman tersebut tewas secara tragis, tapi sisi humanisnya yang menunjukkan dirinya hanyalah seorang manusia biasa.

Latar Historis

Adolf Hitler. Foto: Getty Images/Hulton Archive

Posisi Jerman dalam perang dunia II mencapai situasi yang tidak menguntungkan. Serangan Jerman ke front Timur di Stalingrad dan wilayah Uni Soviet (USSR) pada 1943 mengalami kegagalan. Karena kerasnya musim dingin dan perlawanan tentara Soviet (Red Army), tentara Jerman dipukul mundur, keluar dari wilayah kekuasaan Joseph Stalin. Rencana Hitler soal perang pemusnahan atas komunisme (Vernichungskrieg) gagal total. Lantas pasukan Soviet melancarkan serangan balasan, membebaskan wilayahnya yang diduduki Jerman, sambil menuju Berlin.

Sementara itu di front Barat, pasukan Nazi Jerman menghadapi lawan baru selain Britania Raya, yakni Amerika Serikat yang mendeklarasi perang pada 11 Desember 1941. Pada 1944, tentara Jerman yang telah menduduki Prancis, Belanda, Belgia dan sekitarnya menghadapi serangan besar-besaran tentara sekutu. Sekutu melancarkan serangan overlord dengan melibatkan berbagai unit militer, termasuk angkatan laut, udara, dan darat. Tujuannya adalah membebaskan Eropa Barat Laut dari pendudukan Nazi Jerman. Serangan tersebut dikenal sebagai D-Day. Pasukan sekutu lalu bergerak masuk menuju Berlin.

Adolf Hitler terpaksa harus mendiami bunker dan memegang kendali pemerintahan dari bawah tanah...

Perlakuan Hitler pada Traudl Junge, Sekretarisnya yang baru

Visualisasi memoar Traudl Junge tentang pengalamannya menjadi sekretaris Adolf Hitler pada Perang Dunia II, dari Desember 1942 sampai pada hari kematiannya, April 1945 (Foto: penulis)

Dalam "Der Untergang", Traudl diperkenalkan sebagai seorang wanita muda dari Munich yang datang bersama beberapa wanita ke bunker kanselir Jerman pada malam hari. Dari kelima wanita tersebut, Traudl lah yang direkrut Hitler menjadi sekretaris pribadinya. Tugasnya sederhana, membantu sang kanselir dalam urusan administrasi termasuk mengetik orasinya.

Dalam memoar Traudl (ditulis pada 1947, diterbitkan pada 2002) berjudul "Until the Final Hour", ia bercerita bahwa ia direkrut sebagai sekretaris Hitler pada Desember 1942 saat usianya masih 22 tahun. Traudl mengakui kesalahannya atas ketidaktahuannya soal genosida Nazi dan keberpihakannya pada sosok Hitler selama berada di dalam bunker. Traudl menulis,

Usiaku 22 tahun dan tak tahu banyak soal politik, aku tidak berminat. Aku terkesan dengan Hitler karena dia ramah padaku, dan aku mengaguminya sebagai pemimpin. Aku tak sadar sampai kemudian tahu betapa butanya aku selama itu."

Rekrutmen Traudl dalam "Der Untergang" terbilang hampir mirip seperti cerita Traudl sendiri dalam "Until the Final Hour". Oliver Hirschbiegel sejatinya hanya ingin membuat kisah perekrutan Traudl sesingkat mungkin untuk menunjukkan latar belakang Traudl.

Traudl sebetulnya dipilih oleh Hitler menjadi sekretarisnya setelah berminggu-minggu ia berada di Berlin, tepatnya di Regierungsviertel, lokasi kantor kanselir dan gedung pemerintahan lain berada. Albert Bormann, salah satu petinggi SS, yang merekomendasikan Traudl ke dalam calon sekretaris muda.

Sebenarnya, Traudl bersama kesembilan gadis lainnya telah menjumpai Hitler setelah mereka tiba di kantornya. Seperti dalam film, pengawal pribadi Hitler, Heinz Linge lah yang memperkenalkan mereka kepada Hitler. Mereka disapa dengan ramah dan ditanyai asal mereka masing-masing oleh Hitler, persis seperti dalam "Der Untergang".

Traudl adalah gadis terakhir yang disapa Hitler. Traudl mengakui bahwa dari kesepuluh gadis calon sekretaris, hanya dia lah gadis yang Hitler wawancarai secara pribadi. Ia langsung ditunjuk menjadi sekretaris beberapa minggu setelah berada di kantor pemerintahan. Traudl mengungkapkan betapa terkejutnya dia di malam itu,

"Dia menyalamiku dan menyuruhku duduk di kursi tempat mesin tik berada. Dia berkata, 'tidak perlu gugup, aku pun sering melakukan kesalahan dalam mendikte dibandingkan anda'... Ketika selesai dengan kertas dikter itu, aku menyerahkan padanya. Aku meninggalkan ruangannya dan bertemu dengan Bormann. Ketika kamu duduk di ruang tunggu sambil bercerita. Hitler tiba-tiba keluar dari pintu dan duduk bersama kami. Dia menanyaiku beberapa hal tentang keluarga dan kehidupanku, dan bilang bahwa aku telah mengetik dengan sangat bagus. Kataku dalam hati, kamu (Hitler) bahkan belum mengetes gadis lainnya. Ternyata ia tidak ingin mengetes para gadis lain, karena ia pikir aku sudah melakukannya dengan sangat baik dan memuaskan"

Sebagai seorang sekretaris, tugas Traudl adalah mengetik. Semenjak direkrut, Traudl berulang kali harus mengetik dikte Hitler. Salah satunya adalah dikte Hitler pada peringatan 10 tahun kekuasaannya sebagai Kanselir Jerman pada 30 Januari 1943. Traudl mengungkapkan betapa pengalamannya itu,

"Hitler memulai pidatonya, mondar-mandir dengan tangan terkepal di belakang, sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Seperti sebelumnya, Hitler mendikte tanpa berhenti, sama seperti sedang berpidato, tanpa catatan... Dia menyelesaikan diktenya dalam satu jam, dan aku memberikan kertasnya dan bilang bahwa aku tidak dapat mendengarnya dengan baik. Dia tersenyum padaku, menyalami, dan berkata bahwa itu tidak masalah, semuanya baik-baik saja"

Paling tidak, pandangan terhadap sosok Hitler yang kejam, ambisius, dan keras dapat disandingkan dengan pengalaman Traudl ketika direkrut seperti dalam der Untergang maupun Until the Final Hour. Hitler rupanya adalah sosok yang ramah dan murah senyum pada Traudl. Dia menyambut Traudl dengan ramah dan memperlakukannya dengan baik. Dia tidak memarahi Traudl yang gugup dan melakukan kesalahan ketika mengetik dikte Hitler. Ia justru menyandingkan dirinya yang seringkali salah dalam pidato dan diktenya.

Kemarahan Hitler saat Pertempuran Berlin

Visualisasi Hitler bersama para petinggi Schutzstafell dan Wehrmacht membahas situasi Berlin dikepung oleh tentara Soviet (Foto: penulis)

Pasca-percobaan pembunuhan pada Hitler pada Juli 1944 dan sejumlah serangan udara sekutu pada Jerman, sikap Hitler berubah. Traudl meyakini bahwa Hitler sedang 'membohongi' dirinya sendiri.

"Siapa pun yang mengenalnya termasuk kami tahu dengan sadar bahwa ia hanya membohongi dirinya sendiri dengan bualannya, melupakan semua wilayah yang telah direbut, kematian para tentara yang dilaporkan hampir tiap hari, tiap jam. Dan semua pesawat sekutu yang terbang di atas kami serta peringatan serangan udara itu, jelas menunjukkan bahwa tidak ada kedamaian dan kebebasan"

Traudl menjelaskan Hitler sebagai pria yang tak berdaya. Karena semua keterpurukan pasukan Jerman saat itu, lantas ia menyalahkan para jenderal Wehrmacht (angkatan perang Jerman).

Para tentara telah mengkhianatiku, para jenderal tidak bisa apa-apa. Perintahku diabaikan. Semuanya tamat. Sosialisme nasional telah mati dan tidak akan pernah ada!"

Sosok Hitler yang rapuh dan tanpa harapan ini secara detail ditampilkan dalam der Untergang. Penonton tidak akan melihat Hitler yang perkasa dan gagah seperti dalam kebanyakan klip tentangnya. Ketika pasukan Uni Soviet memasuki Berlin, Hitler bersikeras para jenderalnya, Walter Wenck dari Wehrmacht dan Felix Steiner dari Schutzstaffel, akan memukul mundur musuh. Bantuan tersebut tak kunjung datang. Hitler hanya bisa berbohong pada orang-orang terdekat termasuk Traudl dan pada dirinya sendiri. Ia bahkan menyalakan para jenderal Wehrmacht yang menurutnya pengecut dan pengkhianat.

Akhir Tragis

Pada siang hari 30 April, Adolf Hitler bersama kekasihnya Eva Braun tewas bunuh diri di dalam kamar bunker mereka. Hitler menembak tengkoraknya sendiri sedangkan Eva meminum racun sianida yang diberikan Heinrich Himmler, kepala Schutzstaffel yang mengkhianati Hitler. Adolf tewas dalam keputusasaan dan kekecewaan pada orang-orang yang dianggap loyal kepadanya. Heinrich Himmler, Albert Speer, Hermann Goring, dan yang lainnya telah meninggalkan Hitler.

Der Untergang berhasil menunjukkan sisi humanis Hitler. Setidaknya, penonton melihat Hitler dari sisi lain, sisi humanisnya, selain sisi diktatornya yang kejam. Ia tangguh di depan banyak orang, tapi begitu rapuh di mata sebagian orang. Dengan kematian Hitler, harapan orang-orang Jerman yang pro-Nazi pun sirna. Mereka kehilangan sosok yang telah mereka anggap sebagai pahlawan yang akan membawa Jerman ke puncak dunia.