Konten dari Pengguna

Don't Look Up (2021): Mempertanyakan Arah Kemajuan di tengah Inovasi Teknologi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ignatius Fridolin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada dasarnya, manusia selalu berusaha memahami dunia tempat ia tinggal. Dari mengamati pergerakan benda langit hingga mengembangkan teknologi yang mampu menjelajahi ruang angkasa, ilmu pengetahuan telah membawa manusia pada kemampuan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Kita mampu menemukan penyebab suatu penyakit, memprediksi bencana, menghitung risiko, bahkan menciptakan teknologi untuk mencegahnya. Namun, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa arti kemajuan ilmu pengetahuan apabila manusia tidak bersedia mendengarkan apa yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan itu sendiri?

Ilustrasi kedatangan komet dalam Don't Look Up (Foto: penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kedatangan komet dalam Don't Look Up (Foto: penulis)

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan menarik dalam Don’t Look Up (2021), sebuah film apokaliptik besutan sutradara Adam McKay. McKay mengambil tema komedi satir yang berseberangan dengan heroisme film apokaliptik sebelumnya. Film ini memang berkisah tentang dua astronom, Dr. Randall (Leonardo DiCaprio) dan Kate (Jennifer Lawrence), yang berusaha memperingatkan umat manusia akan adanya ancaman komet raksasa yang akan menghancurkan Bumi, tetapi ancaman sebenarnya bukan hanya komet tersebut. Mereka berusaha memperingatkan pemerintah dan masyarakat. Ironisnya, pengetahuan yang seharusnya menjadi dasar untuk menyelamatkan umat manusia, justru berhadapan dengan kepentingan politik, popularitas, dan keuntungan ekonomi.

Dalam dunia Don’t Look Up, manusia sebenarnya tidak kehilangan pengetahuan. Mereka mengetahui ancaman komet, memiliki ilmuwan yang kompeten untuk menjelaskannya, bahkan memiliki teknologi untuk mengatasinya. Namun, pengetahuan tersebut kehilangan kemampuannya ketika berhadapan dengan kepentingan lain yang dianggap lebih urgen. Film ini melahirkan sebuah pertanyaan yang lebih kritis dari persoalan komet. Jika manusia terus menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak mampu bertindak berdasarkan pengetahuan tersebut, apakah manusia benar-benar menuju kemajuan?

Namun, pengabaian terhadap pengetahuan ilmiah bukanlah sesuatu yang hanya dapat ditemukan dalam film. Sejarah justru mencatat bahwa manusia beberapa kali telah memiliki pengetahuan mengenai suatu risiko, tetapi gagal menerjemahkannya menjadi tindakan yang memadai karena pengabaian ataupun fakta bahwa pengetahuan tersebut harus berhadapan dengan kepentingan yang jauh lebih kuat. Beberapa catatan sejarah berikut dapat menjadi contoh yang relevan.

Insiden Pesawat Ulang-alik Challenger

Pada 28 Januari 1986, pesawat ulang-alik atau space shuttle meledak setelah 73 detik peluncuran dari Kennedy Space Center, Florida, Amerika Serikat. Peristiwa tersebut menewaskan semua awaknya: Francis R, Scobee (komandan), Michael J. Smith (pilot), Ellison S. Onizuka, Judith A. Resnik, Ronald E. McNair, Gregory B. Jarvis, dan Christa McAuliffe. Dalam laporan resmi pada tahun yang sama oleh Presidential Commission on the Space Shuttle Challenger Accident, pemerintah AS mengungkap adanya kegagalan pada pembatas (cincin O-ring) pada sambungan antara dua segmen bawah roket bagian kanan.

Bencana pesawat ulang-alik Challenger adalah salah satu bukti kelalaian yang berujung pada gugurnya astronot terbaik AS. Tragisnya, masalah pada bagian O-ring sudah diketahui sejak 1977-an, terutama sejak ditemukannya erosi apabila dipakai pada suhu rendah. Tepat sebelum peluncurannya, beberapa insinyur telah merekomendasikan agar tidak meluncur pada temperatur rendah. Namun, baik NASA maupun Morton Thiokol—perusahaan manufaktur dan kontraktor utama dalam industri luar angkasa—tidak merespons laporan tersebut secara memadai. Pemerintah AS secara resmi memberlakukan pemberhentian sementara program Shuttle hingga dilakukannya revisi dalam hierarki NASA, manajemen risiko, etika teknik, hingga budaya organisasi. Pembekuan semua aktivitas program Shuttle dimaksudkan agar peristiwa serupa tidak terjadi di masa depan.

Ilustrasi bencana Challenger, Gas Ghopal, dan Polemik Asbes (Foto: penulis)

Bencana Gas Bhopal

Sejarah mencatat, peristiwa Bhopal adalah salah satu bencana industri terburuk dalam sejarah modern. Pada Desember 1984, gas beracun methyl isocyanate (MIC) bocor dari pabrik pestisida Union Carbide India Limited (UCIL) di Bhopal, India. Diperkirakan sekitar 27-40 ton gas beracun terlepas ke udara dan menyebar di kawasan padat penduduk. Dampaknya, terdapat lebih dari 500 ribu orang yang terpapar. Jumlah laporan korban meninggal sekitar 2.259 orang dan sekitar 558 ribu orang mengalami gangguan pernapasan, mata, saraf, dan reproduksi.

Pada investigasi mula-mula, penyelidik menemukan bahwa kebocoran gas disebabkan oleh masuknya air ke dalam tangki penyimpanan gas sehingga terjadi reaksi kimia yang menaikkan suhu dan tekanan tangki secara drastis. Namun, temuan investigasi lebih lanjut menunjukkan adanya kelalaian sistemik yang berdampak pada kebocoran gas. Beberapa fitur operasional pabrik yang seharusnya berjalan, seperti sistem pendingin tangki, alarm suhu tinggi, dan sistem netralisasi gas, tidak diaktifkan. Temuan tersebut bahkan sudah dilaporkan oleh Union Carbide Corporation (UCC), perusahaan induk UCIL dari Amerika Serikat, pada audit keselamatan pada 1982.

Polemik peristiwa Bhopal tidak berhenti di situ. UCC sebagai perusahaan induk lantas mengklaim UCIL bertanggung jawab, sementara banyak pihak, seperti Amnesti Internasional dan korban, beranggapan bahwa UCC-lah yang bertanggung jawab mengendalikan desain, teknologi, dan manajemen perusahaan, serta menerapkan standar keselamatan yang lemah di India. Pada 1989, Mahkamah Agung India menjatuhkan denda $470 juta pada UCC. CEO UCC pun dinyatakan sebagai buron oleh pengadilan India, kemudian diekstradisi beberapa tahun kemudian. Sementara itu, mantan pejabat UCIL India dihukum penjara dan dikenai denda. Hingga kini, lokasi pabrik masih terkontaminasi, air tanah tercemar, dan efek kesehatan masih berlanjut.

Polemik bahaya Asbes

Polemik pemakaian asbes adalah salah satu kontroversi kesehatan masyarakat dan industri terpanjang dari abad ke-20 hingga abad ke-21. Asbes adalah mineral silikat berserat alami yang tahan panas, api, dan bahan kimia. Karena sifatnya yang kuat, murah, dan tahan lama, material ini dipakai secara masif untuk bahan bangunan seperti semen, atap, lantai, dan berbagai produk industri lainnya. Di balik keunggulannya dalam industri, asbes memiliki dampak kesehatan yang tak terelakkan. Paparan serat abes menyebabkan penyakit serius seperti fibrosis dan kanker paru-paru. International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan serbuk asbes sebagai zat karsinogenik tanpa ambang paparan yang dianggap aman. Lebih lanjut, WHO memperkirakan asbes menyebabkan lebih dari 200 ribu kematian pada pekerja yang terpapar langsung oleh asbes di seluruh dunia.

Bahaya asbes sudah diketahui sejak awal abad ke-20 berdasarkan laporan pasien asbestosis pertama. Pada 1960-an, penelitian Irving Selikoff mengemukakan hubungan asbes dengan kanker paru-paru dan penyakit mesothelioma. Beberapa industri asbes mengetahui risiko ini selama puluhan tahun, tetapi kerap menunda regulasi yang membatasi produksi asbes. Para produsen berpendapat bahwa penggunaan terkendali mampu mengatasi dampak buruk tersebut. Namun, sebagian ahli justru berpendapat bahwa penggunaan terkendali gagal dipraktikkan terutama di negara-negara berkembang.

Karena sejumlah temuan klinis tersebut, beberapa negara mulai melarang sejak periode 1970-an hingga 1980-an, seperti Denmark, Swedia, Australia, dan Jepang. Saat ini saja, sebanyak kurang lebih 60 hingga 70 negara telah sepenuhnya melarang penggunaan asbes.

Setelah pelarangan asbes di sejumlah negara maju, produsen asbes dunia seperti Rusia dan China mulai mengarahkan pasar pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Indonesia sendiri tidak menambang asbes, tetapi termasuk importir terbesar di dunia dengan volume impor rata-rata mencapai 87 hingga 150 ton per tahun. Sebagian besar impor adalah asbes putih (chrysotile) yang dipakai untuk produk semen, atap, pipa, dan bahan bangunan lain. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 8-13% rumah tangga Indonesia masih memakai atap asbes terutama di kawasan padat penduduk. Sementara itu, estimasi kematian terkait asbes sekitar 1.600 kasus per tahun. Larangan produk asbes di Indonesia pun terbilang cukup lambat. Pada Maret 2024, Mahkamah Agung secara resmi memutuskan bahwa semua produk asbes wajib diberi label peringatan bahaya dalam bahasa Indonesia. Putusan MA tersebut kemudian digugat oleh organisasi Fibre Cement Manufacturers’ Association (FICMA), tetapi pengadilan menolak sebagian besar gugatan tersebut.

Secara keseluruhan, Indonesia berada dalam kebimbangan yang tidak mudah. Tuntutan advokasi pelarangan asbes dari sejumlah organisasi kesehatan dan putusan MA harus dihadapkan pada kepentingan industri serta tuntutan ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah. Ketersediaan, keawetan, dan harga yang murah tentu saja membuat material ini menjadi pilihan utama perumahan rakyat. Namun, dampak kesehatan tetap menjadi prioritas utama demi menghindari risiko penyakit di masa depan dibandingkan dengan penghematan biaya konstruksi di masa kini. Sayangnya, Indonesia belum memiliki komitmen politik yang jelas untuk menghentikan impor dan penggunaan secara bertahap.

John Snow dan Wabah Kolera London

Berbeda dari ketiga polemik di atas, kisah John Snow dalam antisipasi penyebaran kolera di London menjadi bukti nyata bahwa pemikiran kritis dan saintifik diimplementasikan secara serius. Pada abad ke-19, Inggris sering dilanda wabah kolera. Teori yang berlaku umum pada waktu itu adalah teori miasma yang menjelaskan bahwa kolera disebabkan oleh udara kotor dari limbah lingkungan kumuh. John Snow, seorang dokter sekaligus pionir anestesi, meneliti wabah tersebut dan menerbitkan buku On the Mode of Communication of Cholera pada 1849. Menurut John, kolera tidak menyebar melalui udara, tetapi melalui sumber air yang terkontaminasi. John mulai mendata semua alamat korban meninggal, mewawancarai penduduk, membuat peta yang menandai kasus kematian, lalu membandingkannya dengan lokasi sumber air warga yang berada di Broad Street. Hipotesis John benar adanya. Kasus kematian mengelompok pada masyarakat yang hidup dari sumber mata air yang sama. Pada 1854, John menyampaikan temuannya dan masyarakat setuju untuk melepas gagang pompa sumber air. Setelah itu, kasus baru kolera menurun secara signifikan. Nantinya diketahui bahwa sumur pompa air tersebut hanya berjarak satu meter dari tangki septik yang bocor. Kotoran bayi yang terinfeksi kolera kemungkinan besar mencemari sumur tersebut.

Tindakan John Snow memang tidak mengubah seluruh teori kedokteran saat itu. Namun, metode identifikasinya, mulai dari mengumpulkan data kasus satu per satu, memetakan sebaran geografis, mencari pola, dan menguji hipotesisnya, menjadi fondasi epidemiologi modern. Beberapa dekade kemudian, Robert Koch mengidentifikasi bakteri Vibrio cholerae sebagai penyebab kolera, yang mengonfirmasi teori Snow bahwa penyakit ini menular melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Kisah John Snow menjadi bukti bahwa investigasi ilmiah dapat menyelamatkan banyak orang apabila diimplementasikan.

Ilustrasi John Snow memetakan kasus kolera London (Foto: penulis)

Kemajuan yang bijaksana

Pada akhirnya, persoalan dalam Don't Look Up bukanlah apakah manusia mampu menemukan kebenaran. Manusia telah membuktikan kompetensinya dalam menghadapi hampir setiap persoalannya. John Snow menunjukkan bagaimana pengamatan, pengumpulan data, dan pemikiran ilmiah dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber wabah dan menyelamatkan masyarakat. Sebaliknya, tragedi seperti Challenger, Bhopal, dan polemik asbes menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu menghasilkan tindakan. Ketika pengetahuan berhadapan dengan kepentingan politik, kekuasaan, keuntungan ekonomi, atau kenyamanan manusia, kebenaran ilmiah dapat kehilangan tempatnya dalam pengambilan keputusan.

Pada titik inilah manusia perlu membedakan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan kemajuan manusia. Ilmu pengetahuan dapat membuat manusia berpengetahuan, tetapi tidak serta-merta membuatnya bijaksana. Teknologi dapat memberikan manusia kemampuan yang lebih besar, tetapi kemampuan tersebut tidak menentukan bagaimana kekuatan itu digunakan. Selayaknya yang terjadi di Don't Look Up, ilmu pengetahuan dapat memperingatkan manusia tentang bahaya, tetapi ia tidak dapat memaksa manusia untuk peduli terhadapnya.

Dengan demikian, kemajuan mungkin bukan sekadar tentang seberapa jauh manusia mampu memahami dunia, menemukan sesuatu yang baru, atau menciptakan teknologi yang lebih canggih. Kemajuan juga bergantung pada kemampuan manusia untuk menggunakan pengetahuan tersebut secara bijaksana. Sebab, jika pengetahuan hanya digunakan ketika sejalan dengan kepentingan manusia, maka sebanyak apa pun pengetahuan yang dimiliki tidak akan menjamin keselamatan manusia. Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang ditinggalkan Don't Look Up bukanlah apakah manusia mampu menyelamatkan dunia, melainkan apakah manusia cukup bijaksana untuk menyelamatkannya ketika kepentingan lain menuntut untuk berpaling.