Argentina, Inggris dan Bayang-bayang Malvinas di Lapangan Hijau

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mulawarman
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Frisca Alexandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak banyak pertandingan sepak bola yang membawa bayang-bayang sejarah, pertandingan antara Argentina dan Inggris adalah salah satunya. Euforia Piala Dunia 2026 kembali memperlihatkan bahwa setiap kali Argentina dan Inggris dipertemukan, narasi mengenai Kepulauan Malvinas bagi Argentina dan Kepulauan Falklands bagi Inggris segera kembali memenuhi ruang publik.
Perbincangan media, komentar pendukung, hingga pemberitaan internasional menunjukkan bahwa sejarah tetap menjadi "pemain kedua belas" dalam pertandingan tersebut.
Sengketa antara kedua negara terkait kedaulatan Kepulauan tersebut telah terjadi sejak tahun 1833 hingga puncaknya terjadi Perang Malvinas (Falklands War) pada tahun 1982. Konflik yang berlangsung selama 74 hari itu dipicu oleh invasi Argentina terhadap Kepulauan Malvinas yang sejak lama diklaim sebagai bagian dari wilayahnya tetapi dikuasai Inggris sejak 1833.
Perang berakhir dengan kemenangan Inggris, tetapi sengketa kedaulatan atas kepulauan tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Bagi Inggris, kemenangan itu menjadi simbol keberhasilan mempertahankan wilayah seberang laut dan memperkuat posisi politik pemerintahan Margaret Thatcher. Sebaliknya, bagi Argentina, kekalahan tersebut meninggalkan luka nasional yang mendalam.
Ratusan prajurit gugur, rezim militer kehilangan legitimasi, dan Malvinas menjelma menjadi simbol harga diri bangsa yang dianggap belum kembali.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa perang yang telah berakhir lebih dari empat dekade lalu tetap hidup setiap kali kedua negara bertemu di lapangan hijau? Di sinilah sepak bola tidak lagi sekadar olahraga, melainkan menjadi ruang tempat identitas nasional dan memori kolektif terus diproduksi ulang.
Sulit membicarakan Argentina dan Inggris tanpa mengingat Piala Dunia 1986. Empat tahun setelah Perang Malvinas, kedua negara bertemu pada babak perempat final di Meksiko. Pertandingan itu kemudian dikenang karena dua gol Diego Maradona yang sama-sama menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola dunia.
Gol pertama lahir melalui sentuhan tangan yang kemudian dikenal sebagai Hand of God atau gol tangan tuhan. Gol kedua, yang melewati sejumlah pemain Inggris sebelum menjebol gawang Peter Shilton, kemudian dinobatkan FIFA sebagai Goal of the Century. Namun, makna pertandingan itu jauh melampaui kualitas teknis permainan.
Banyak masyarakat Argentina memaknai kemenangan tersebut sebagai bentuk "balas dendam simbolik" atas kekalahan dalam Perang Malvinas. Maradona sendiri pernah menyatakan bahwa kemenangan tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi rakyat Argentina.
Meskipun ia tidak mengklaim bahwa pertandingan tersebut menggantikan perang, narasi publik berkembang ke arah yang berbeda. Sepak bola menjadi media pelampiasan emosi kolektif yang tidak dapat disalurkan melalui medan diplomasi maupun militer.
Rivalitas Argentina dan Inggris kembali dipertontonkan pada Piala Dunia 1998 di Prancis. Kali ini bukan Maradona yang menjadi pusat perhatian, melainkan David Beckham. Kartu merah yang diterimanya setelah insiden dengan Diego Simeone mengubah jalannya pertandingan dan membuat Inggris tersingkir melalui adu penalti. Di Inggris, Beckham segera menjadi sasaran kemarahan publik.
Media massa menjadikannya kambing hitam atas kegagalan tim nasional. Namun di Argentina, kemenangan itu tidak hanya dirayakan sebagai keberhasilan melaju ke babak berikutnya. Bagi sebagian media dan publik, kemenangan tersebut kembali dimaknai sebagai keberhasilan menundukkan rival historis yang empat dekade sebelumnya berperang memperebutkan Kepulauan Malvinas.
Menariknya, baik kemenangan Argentina atas Inggris pada Piala Dunia 1986 maupun 1998 tidak pernah dipersepsikan sebagai kemenangan sepak bola semata. Kedua pertandingan tersebut terus dibaca melalui lensa sejarah Perang Malvinas. Bahkan ketika para pemain yang bertanding sebagian besar tidak pernah mengalami perang tersebut secara langsung, publik tetap membawa memori konflik ke dalam stadion.
Hal ini menunjukkan bahwa yang diwariskan lintas generasi bukanlah pengalaman perang itu sendiri, melainkan cara sebuah bangsa mengingat perang. Sepak bola kemudian menjadi medium yang memungkinkan ingatan tersebut terus diproduksi ulang, setiap kali Argentina dan Inggris dipertemukan dalam turnamen besar.
Dua pertandingan yang berjarak dua belas tahun ternyata memperlihatkan pola yang sama. Setiap kali Argentina mengalahkan Inggris di Piala Dunia, publik tidak hanya membicarakan sepak bola, tetapi juga kembali mengingat Malvinas. Pertanyaannya, mengapa sebuah perang yang telah berakhir puluhan tahun lalu terus hadir dalam pertandingan yang dimainkan oleh generasi yang berbeda?
Dalam kajian Hubungan Internasional, khususnya berdasarkan pendekatan konstruktivisme, hubungan antarnegara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau kepentingan ekonomi. Cara suatu bangsa memahami dirinya dan memahami negara lain juga mempengaruhi perilaku politiknya. Alexander Wendt bahkan menyatakan bahwa "anarchy is what states make of it", makna hubungan antarnegara dibentuk melalui interaksi sosial dan konstruksi identitas.
Konsep collective memory yang diperkenalkan Maurice Halbwachs membantu menjelaskan mengapa Perang Malvinas tetap hidup meskipun telah berlalu lebih dari empat dekade. Ingatan kolektif bukan sekadar kumpulan fakta sejarah, melainkan narasi yang terus dipelihara melalui institusi sosial.
Di Argentina, isu Malvinas hadir dalam kurikulum pendidikan, pidato kenegaraan, hingga peringatan nasional. Di Inggris, Falklands dipandang sebagai bagian dari keberhasilan mempertahankan hak menentukan nasib sendiri bagi penduduk kepulauan tersebut.
Akibatnya, generasi muda yang lahir jauh setelah perang tetap mewarisi persepsi mengenai pentingnya Malvinas atau Falklands dalam identitas nasional masing-masing. Mereka mungkin tidak mengalami perang, tetapi mereka mewarisi maknanya.
Terdapat sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi instrumen diplomasi yang efektif. Pertandingan tenis meja antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada awal 1970-an, misalnya, membuka jalan bagi normalisasi hubungan kedua negara. Namun, tidak semua rivalitas olahraga menghasilkan efek yang sama.
Kasus Argentina dan Inggris menunjukkan bahwa keberhasilan sport diplomacy bergantung pada konteks politik yang melatarbelakanginya. Ketika konflik historis masih menjadi bagian penting dari identitas nasional, olahraga justru berpotensi memperkuat batas psikologis antarmasyarakat. Alih-alih menghapus memori konflik, pertandingan dapat menjadi momentum untuk menghidupkannya kembali.
Di tengah kondisi dunia yang semakin terhubung, kita sering mendengar narasi bahwa olahraga mampu menghapus batas-batas politik. Namun pertandingan Argentina dan Inggris justru mengingatkan bahwa sejarah memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada sebuah turnamen. Selama Malvinas tetap menjadi bagian dari identitas nasional kedua negara, setiap peluit kick-off akan selalu terdengar seperti gema dari perang yang telah lama usai.
